Infotainmen, kamu butuh nggak, sih?

memoderatori diskusi dalam rangkaian hari jadi LPDS, dengan pembicara tokoh pers Leo Batubara, Ketua KPI Dadang Hidayat, pelopor infotainmen Ilham Bintang dan Wapemred Metro TV Makroen Sanjaya

Dunia penyiaran di Indonesia lagi seru-serunya menyoal soal infotainmen. Tahu kan, infotainmen merupakanprogram televisi yang mengupas kehidupan selebritis kita. Sebagai gabungan dari kata “informasi” dan “entertainmen”, infotainmen mencoba menghadirkan informasi dari dunia hiburan dengan kemasan yang santai.

Apa saja kegiatan para pesohor menjadi makanan empuk tayangan infotainmen, mulai urusan karir seperti peluncuran album dan film, konser musik, sampai aktivitas pribadi artis-artis itu. Pacaran, pernikahan, punya anak, perceraian, meninggal, sampai aneka gosip –pokoknya melibatkan selebritis- langsung menjadi sorotan kamera tayangan semacam Cek Ricek, Kabar-Kabari, Hot Shot, Kross Cek, Insert, Go Show, I Gosip, Status Selebritis, dan lain-lain. Meski sebagian masyarakat mencibir karena intotainmen dianggap menyuburkan gosip, nyatanya tayangan infotainmen sukses menembus share dan rating tinggi.

Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi I DPR mengkategorikan infotainmen, reality show, serta tayangan sejenisnya dari semula program siaran faktual menjadi non faktual.

Tudingan bahwa infotainmen merupakan program non faktual, yang artinya bukan news dan boleh disensor, dibantah keras oleh Ilham Bintang, pemilik PT Bintang Advis Multimedia, rumah produksi yang memproduksi tayangan infotainment. “Saya menamakan program Cek-Ricek, sebagai pelopor program infotainmen di Indonesia, karena menekankan tayangan ini bekerja sesuai prinsip jurnalistik, yakni meminta klarifikasi atau ricek kepada pihak-pihak lain,” kata Ilham dalam lokakarya bertema “Etika Penyiaran  dalam Kerasnya Persaingan Industri Televisi” di Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta, Kamis (22/7).

Perdebatan apakah infotainmen merupakan produk jurnalistik masih berjalan seru. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menganggap infotainmen sebagai news, bahkan punya Divisi Infotainmen dalam kepengurusannya. Sementara itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) –kini bersama KPI- tegas menolak infotainmen dikategorikan produk jurnalistik karena infotainmen mengangkat berita bukan dari sebuah fakta, namun dari kasak-kasuk, atau bahkan dari isu yang diciptakan kru infotainment sendiri,

Nah, bagaimana pendapatmu? Menurutmu tayangan infotainmen dibutuhkan nggak sih untuk mencerdaskan bangsa ini?

**dimuat di www.espira.tv, Jum’at  23 Juli 2010

0 Replies to “Infotainmen, kamu butuh nggak, sih?”

  1. aku terakhir nonton infotainmen itu kapan yah? sudah lama nggak punya tivi, aku kuper mas. menurutku sih tayangan seperti itu dikategorikan murni hiburan saja bukan kerja pers, dan tayangnya gak usah overdosis kayak sekarang, sungguh pembodohan publik. tapi ditayangkan sekali seminggu itu juga dengan kemasan yang menarik seperti metro tv show biz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *