Will (a movie)

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=-m3FcBIO2kw]

Seorang anak bernama Will Brennan begitu mencintai sebuah klub sepakbola. Sebagai surprise, ayahnya yang bernama Gareth (Damian Lewis) menghadiahinya tiket final Liga Champions Eropa. Belum sampai ajang final berlangsung, sang ayah wafat. Saudaraku, seberapa pentingkah arti kecintaan pada satu klub sepakbola dan kehidupan itu sendiri? Don’t miss it, an orphan journeys across Europe to the 2005 Champions League Final!

Di Balik Cerita Wartawan Perang

Qaris Tajudin (Jurnalis Tempo) bersama Arie Basuki (Fotografer Tempo), Andi Riccardi (APTN) pada acara sharing journalism "Pentingnya Keselamatan Jurnalis di Daerah Konflik" dalam rangka memperingati Peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional di kantor AJI Jakarta, Selasa (3/05). Foto: Adri Bakrie

Tiga wartawan peliput konflik berbagi kisah. Ada yang lucu, tapi banyak juga yang membuat kita mengelus dada.

Bagi manusia, hidup dan mati kadang hanya berbeda seujung kuku. Pengalaman itu nyata dirasakan Qaris Tajudin dan Arie Basuki, dua jurnalis Tempo yang baru-baru ini meliput krisis politik Libya.

Dalam salah satu harinya di Libya, siang itu, Qaris dan Arie Basuki sempat pusing karena Muhammad, sopir sewaan mereka, kembali datang terlambat. Padahal saat itu Qaris dan Arbas –sapaan akrab jurnalis foto yang kenyang pengalaman meliput di berbagai medan itu- berencana kembali pergi ke Ajdabiya, kota di sebelah barat Benghazi, Libya. Berdua mereka hendak melihat-sekali lagi-penyerbuan ke Brega, 50 kilometer sebelah barat Ajdabiya. Sudah berhari-hari kota minyak itu dikepung gerilyawan anti-Muammar Qadhafi, tapi tak ada kemajuan.

Continue reading “Di Balik Cerita Wartawan Perang”

Bebaskan buruh dari penjara larangan berserikat

Demo May Day 2011 menuju Istana. Wartawan juga buruh, lho.

Setiap peringatan Hari Buruh atau May Day, AJI selalu tampil nyentrik. Kali ini instalasi serupa penjara menjadi pilihannya.

Adalah Peter McGuire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey yang awalnya dikenal sebagai buruh pemberontak. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja, dari ketentuan bekerja 19-20 jam sehari. McGuire lalu dengan berbicara dengan para pekerja dan para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan “pengganggu ketenangan masyarakat”.

Continue reading “Bebaskan buruh dari penjara larangan berserikat”