Mengintip Brunei di Hari Kebangsaan

Catatan pelesir ke negeri kaya di ujung Borneo. Dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 2 Maret 2008.

Monumen Brunei. Lebih 40 ribu WNI hidup di negeri Bolkiah.

Menjelang perayaan kemerdekaan Brunei Darussalam, saya berkunjung ke salah satu negara terkaya di dunia ini. Pagi pada pertengahan Februari 2008, saya tiba di Bandara Internasional Bandar Seri Begawan. Sebuah pelabuhan udara nan sunyi dengan baliho besar mengucap selamat dating: “Brunei, The Greenheart of Borneo, Kingdom of the Unexpected Treasures”. Suasana lengang menyergap di pintu masuk negeri berpenduduk 383 ribu jiwa, tapi tak ada sedikit pun rasa was-was di sana.

Setengah jam kemudian, Mahadi, pengemudi jemputan hotel, datang memberi salam. “Tenang saja, di sini hampir tidak ada tindak kriminalitas,” kata pemuda Melayu yang baru lulus dari sekolah menengah itu.

Melintasi jalan utama menuju kawasan Gadong, tampaklah Masjid Jami Omar Ali Saifuddin di kiri jalan. “Tak lengkap rasanya kalau turis tidak mampir ke situ,” katanya menunjuk masjid. Menurut Mahadi, selain berfoto di depan masjid, “hukum wajib” lain bagi wisatawan adalah singgah ke halaman Istana Nurul Iman, tempat Sultan Hassanal Bolkiah, yang berkuasa sejak berusia 21 tahun, 5 Oktober 1967.

Continue reading “Mengintip Brunei di Hari Kebangsaan”

Nonton Bola di Brisbane

Catatan nonton bola di salah satu stadion di Australia. Dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 11 Februari 2007.

Suncorp Stadium Brisbane. Siang panas, pertandingan dimainkan malam hari.

Sepakbola bukan olahraga utama di negeri dengan 20 juta penduduk ini. Namun, Guiness World Records masih mencatat pertandingan Australia melawan Samoa sebagai partai dengan rekor skor gol tertinggi. Dalam penyisihan Piala Dunia 2002 di Coffs Harbour, 11 April 2001, Australia menggilas Samoa 31-0. Dalam laga itu, penyerang Australia, Archie Thompson, mencatat rekor dunia pencetak gol terbanyak dalam sebuah pertandingan dengan 13 gol.

Maka saya  tak berpikir panjang lagi begitu mendapat tawaran menyaksikan A-League, begitu nama Liga Sepak Bola Australia yang musim ini disponsori perusahaan mobil asal Korea itu. Soccer, sebutan untuk membedakannya dengan Australian Football League (AFL), memang kalah pamor dibandingkan dengan kriket, rugbi, dan AFL. Namun, atmosfer menonton sepakbola di Suncorp Stadium, Brisbane, bak menghadirkan suasana stadion besar di Eropa.

Continue reading “Nonton Bola di Brisbane”

Berkunjung ke Rumah Buaya

Catatan singgah ke Australia Zoo, surga satwa peninggalan Steve Irwin. Dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 11 Februari 2007.

Memberi makan gajah Sumatera. Australia Zoo, ikon wisata Aussie.

“Kalau sudah ke Queensland,  jangan lupa ke Australia Zoo.” Ungkapan itu bukan melebih-lebihkan, karena Australia Zoo inilah salah satu ikon wisata di Aussie. Lokasi tepatnya di Beerwah, 10 kilometer dari sisi barat Bruce Highway, yang menghubungkan Brisbane dengan Sunshine Coast.

Pagi itu, sebuah bus tingkat berwarna biru menjemput para pengunjung Australia Zoo dari kawasan Maroochydoore. Baru saja duduk, datang sapaan dari Steve Irwin, pemilik Australia Zoo yang terkenal dengan julukan’Pemburu Buaya’. Tentu bukan dalam wujud aslinya karena sosok itu sebenarnya sudah meninggal tersengat ikan pari pada September 2005.

Continue reading “Berkunjung ke Rumah Buaya”

Enam Minggu di Surga Sunshine Coast

Berwisata ke wilayah pantai yang tenang di Australia. Dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 11 Februari 2007.

Di depan Underwater Park, Mooloolaba Port. Menyuguhkan rahasia alam aneka satwa bawah laut.

“Selamat datang di kota kecil kami, Sunshine Coast. Inilah kawasan wisata utama di Queensland,” kata Stuart Cranney sembari mengulurkan tangannya. Pria 24 tahun yang tampak lebih tua dari usianya itu menjadi pemandu selam enam minggu menjelajahi surga di Benua Kanguru.

Terletak 100 kilometer arah utara Kota Brisbane, Sunshine Coast merupakan salah satu kawasan di Queensland yang memang terkenal dengan obyek wisata turisme andalan. Pantai-pantainya yang bersentuhan langsung dengan bibir Pasifik, terutama Maroochydore Beach dan Alexandra Headland, menjadi favorit pencinta selancar air. Pada saat-saat tertentu, pantai ini membawa ombak yang diyakini sebagai salah satu gelombang terbaik di dunia.

Continue reading “Enam Minggu di Surga Sunshine Coast”

Terkesan di Australia: Apa yang Kau Tanam, Itu yang Kau Tuai

Coretan kenangan lima tahun silam, tentang kontradiksi penduduk Aussie.

Mengenang Steve Irwin di Aussie Zoo. Penyayang binatang tersengat pari.

Masih cerita tentang hari pertama saya menjejak Aussie, Rabu, 27 Desember 2006 petang, waktu Queensland. Sejam lebih perjalanan menyusuri jalan tol juga melewati Australia Zoo di kawasan Beerwah. Kebun Binatang itu milik Steve Irwin, pemburu buaya yang meninggal dunia dalam usia 44 tahun lalu akibat tersengat ikan pari pada awal September 2005.

Maka, tibalah kemudian kami di Maroochydore, salah satu distrik di Sunshine Coast. Hamparan Lautan Pasifik terbentang di wilayah yang kali pertama ditatap James Cook dari dek kapal HM Bark Endeavour pada 1770 itu. Saya beruntung mendapatkan kamar eksklusif di apartemen M-1, dengan pemandangan langsung ke arah jalanan, sungai, dan Cotton Tree, nama sebuah taman nan asri di jantung Maroochydore.

Continue reading “Terkesan di Australia: Apa yang Kau Tanam, Itu yang Kau Tuai”

Terkesan di Australia: Sepi Penduduk, Efisiensi SDM

Ini catatan kenangan lima tahun silam, kala hari pertama menginjak Australia.

Australia, negeri Kanguru. Negeri sepi nan tertib.

Rabu, 27 Desember 2006 petang, saya tiba di Queensland, Australia. Brisbane International Airport, 19.10, Singapore Airlines dengan flight number SQ 245 mendarat mulus di tengah licinnya lintasan akibat hujan deras yang baru saja mengguyur negara bagian Queensland. Alamak… first experiences menumpang SQ menghadirkan memori manis.

Bayangkan, saja, pesawat Boeing 777-300 ER ini tiba 25 menit lebih awal dari schedule yang dibuatnya sendiri! Burung besi itu meninggalkan Bandara Changi pada 08.55 Waktu Singapura dan sebenarnya baru direncanakan tiba di Brisbane pada 19.35 Waktu Queensland, yang konversinya tiga jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat (+10 GMT). Asal tahu saja, dalam inflight magazine nya, SQ menjadwalkan penerbangan Singapura – Brisbane sejauh 3,8 mil itu dengan waktu tempuh antara 7 jam 40 menit sampai 7 jam 45 menit.

Continue reading “Terkesan di Australia: Sepi Penduduk, Efisiensi SDM”

Tiga Video Negeri Jiran

Catatan kecil di Malaysia dua tahun silam: saat transit dua jam di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), jelang balik ke Jakarta setelah tiga pekan berkelana di Belanda dan sekitarnya.

Malaysia Airlines System (MAS). Diplesetkan jadi “Malaysian Airplane Smasher”. foto by Anton Muhajir

Well, secara umum perjalanan udara 12 jam melintasi 10.500 km dari Bandara Schiphol menuju Malaysia berjalan lancar. Seorang kawan berujar, “Kok rasanya lebih cepat pulangnya ya…” Sontak yang lain menimpali, “Ya, karena kita sudah ada perasaan hommy”,“Ya, karena saya sudah tak sabar untuk turunkan barang-barang yang banyak ini dan buka lapak di Jakarta”, meski ada juga yang bilang, “Ah, sama saja, kok. Saya hitung tetap 12 jam…”

Apa yang menarik dari perjalanan menggunakan MAS, yang secara internasional memiliki kode penerbangan MH itu? Sejam sebelum pesawat akan mendarat di Malaysia, monitor kecil di depan bangku penumpang itu masih menampilkan beberapa tayangan gambar bergerak. Bukan lagi film holywood atau sinema Asia, tapi tiga seri video promosi: satu mengenai pariwisata Malaysia, satu tentang iklan Malaysia Airlines dan satu informasi mengenai seluk-beluk KLIA.

Continue reading “Tiga Video Negeri Jiran”

Tot Ziens, Dankje Well, Holland…

Catatan kenangan dua tahun silam, pelajaran-pelajaran moral dari negeri liberal.

Bumi tiruan di ruang tamu Radio Netherlands. Satu dunia, banyak cerita.

Banyak kesan mendalam selama berpetualang mengikuti pelatihan multimedia 23 hari di Belanda,  baik tentang segala proses kursus (acara dan materinya) maupun tentang Belanda sendiri.

Kisah unik tentang Belanda antara lain dari sisi humanis, betapa pemerintah Belanda menghargai hak asasi para pelacur dalam bekerja di sini. Pelacuran di De Wallen –kawasan lampu merah Amsterdam- menjadi kontradiktif karena pemerintah Belanda melarang keras adanya germo alias mucikari, yang di mana-mana selalu mendapatkan duit lebih banyak daripada pekerja seksnya sendiri. Hampir setiap jam polisi berkeliling gang-gang Red Light Districy untuk mencegah adanya praktek perantara maupun penganiayaan yang menyusahkan para pelacur. Selain itu, WTS di lampu merah memiliki jam kerja yang ketat, sehingga “kesehatan” dan “stamina” kerja mereka terjaga.

Continue reading “Tot Ziens, Dankje Well, Holland…”

Lapangan Mewah klub ecek-ecek

Catatan kenangan dua tahun silam, di Belanda berlaku semboyan: rakyat sehat negara kuat.

Yang ini fasilitas latihan tim Ajax di kompleks Amsterdam Arena. Lapangan mewah merata.

Ini kisah tentang fasilitas sepakbola di negara maju. Saya tak sengaja berkunjung ke sebuah klub sepakbola lokal di Huizen, kota kecil berpenduduk 41 ribu jiwa di Belanda Utara. Di balik rerimbunan pohon terdapat sebuah komplek lapangan besar, yang membuat saya merasa dibawa ke sebuah dunia yang jarang saya jumpai di Indonesia: Latihan sepakbola dengan lapangan semulus dan sebanyak ini. Di atas tembok tertulis nama tim “HSV de Zuidvogels”. Di satu lapangan, saya melihat latihan tim sepakbola wanita dan di lapangan lain ada tim yunior sedang berlatih-tanding. Selain itu, di dua lapangan terbesar yang dilengkapi tribun untuk 1000-an penonton, ada tim dewasa dan bahkan usia bapak-bapak.

Continue reading “Lapangan Mewah klub ecek-ecek”

Merasa Terasing di Tanah Asing

Catatan kenangan dua tahun silam, ketika rasa sepi melanda di negeri antah-berantah.

Jalan-jalan keliling tempat-tempat baru. Salah satu tip mengatasi sindrom homesick.

Salah satu penyakit yang kerap melanda mereka yang bepergian jauh dari rumah untuk waktu lama adalah “homesick” alias kangen negeri sendiri, kangen makanan kampung, dan kangen rumah beserta orang-orang tercintanya. Maka, meski masa “sekolah” di Belanda ini hanya untuk waktu tiga pekan, tapi saat briefing di kantor Netherlands Education Support Office (Nuffic Neso) Jakarta, kami juga mendapat pembekalan bagaimana mengatasi‘homesick’ di negeri orang.

Continue reading “Merasa Terasing di Tanah Asing”