Washington DC: Pelajaran Kejujuran Kota Metropolitan

Menelusuri ibukota, menapaki sejarah panjang negara penuh kisah.

Berlatar Capitol Hill, dari lantai 6 Newseum. Pemandangan terbaik di Washington DC.

Dalam tulisan di Bandara Detroit kemarin, saya mengungkapkan pemeriksaan dokumen imigrasi maupun seluruh isi tas Eiger aman-aman saja melewati ketatnya petugas Custom and Border Protection di bandara pertama masuk Amerika Serikat. Seluruh isi tas ransel harus saya keluarkan, mulai notebook, kamera, sampai flexy yang mati. Begitupula sabuk dan sepatu mesti dilepas. Adapun tas koper, yang beratnya 17 kg dari kuota perjalanan 23 kg, begitu saya temukan langsung dilempar menuju ke bagasi penerbangan Detroit-Washington DC.

Continue reading “Washington DC: Pelajaran Kejujuran Kota Metropolitan”

Detroit, Michigan: Belanja Pertama, Adaptor Plug Kaki Tiga

Welcome to America. Suhu satu derajat dan disambut berita tornado.

Di kafe terminal bandara. Di luar, suhu 1 derajat Celcius, gimana ya rasanya?

Tepat tengah hari waktu Detroit, Boeing 767-200 yang menerbangkan saya dari Hong Kong mendarat dengan mulus. Usai sudah perjalanan 14 jam, mengarungi lebih dari 11 ribu kilometer di atas langit Tokyo, Rusia, Alaska, hingga mendarat juga di belahan tengah utara Amerika Serikat. Jadilah, kini saya transit sekitar 6 jam, sebelum melanjutkan penerbangan menuju Washington DC.

Continue reading “Detroit, Michigan: Belanja Pertama, Adaptor Plug Kaki Tiga”

Terbengong-bengong di Hong Kong

Menghirup udara Hong Kong, meski tak boleh keluar bandara.

Hong Kong International Airport. Sepuluh besar bandara tersibuk di dunia.

Good Morning, Hong Kong! Dalam perjalanan panjang menuju Amerika, pagi ini saya transit sekitar 5 jam di Hong Kong International Airport. Tak bisa keluar bandara, karena selain saya tak paham Hong Kong, juga mesti berurusan dengan administrasi transfer pesawat dari Cathay Pacific ke Deltas Air Lines. Pindah counter check-in di bandara semegah ini saja sudah membingungkan, mesti menggunakan kereta tanpa masinis, yang mereka sebut sebagai automated people mover. Belum lagi, bahasa Inggris khas dialek Hong Kong kadang membuat frustrasi, terutama saat keluar jawaban, “I am not sure, i am not sure…”

Continue reading “Terbengong-bengong di Hong Kong”

America, Yes We Can!

Bersiap berpetualang selama tiga pekan di negeri Abang Sam.

Menuju Amerika Serikat. Berniat belajar demokrasi di sana.

Kalau Anda membaca tulisan ini, asal tahu saja, saya mengetiknya dari terminal keberangkatan internasional Bandara Soekarno Hatta, Jum’at (2/3) tengah malam. Semoga semuanya lancar, saya bersiap menempuh long haul flight Jakarta-Hong Kong-Detroit-Washington DC. Dijadwalkan tiba di ibukota Amerika Serikat pada Sabtu jam 7 malam, atau Minggu pagi waktu Jakarta.

Ngapain? Puji Tuhan, saya mendapat kesempatan mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) bertema “The Changing Face of Campaign Coverage” alias Meliput Pemilihan Umum di Era New Media. Agendanya sih, 3-26 Maret ini bakal berkeliling ke beberapa negara bagian: Washington DC, Virginia, Florida, Utah, dan Oregon.

Continue reading “America, Yes We Can!”

Pelesir ke Kampung Ayer

Kenangan 30 jam mengunjungi negeri Sultan.

Bandara Internasional Bandar Seri Begawan. Tiga puluh jam kenangan di Brunei.

Hassanal Bolkiah dikenal sebagai pemimpin kaya raya yang rendah hati.Setiap Jum’at, yang merupakan hari libur kerja di Brunei, Bolkiah berkeliling dari satu masjid ke masjid lain, menunaikan salat sekaligus menemui warga yang rindu berjabat tangan dengannya.

Sultan Bolkiah tak suka aturan protokoler. Saat Salat Jum’at pun beliau mengemudikan sendiri mobilnya,” kata Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Indonesia untuk Brunei, Tjoki Aprianda Siregar. Ia pun mengenang peristiwa emasnya, bersalaman dengan Sultan saat baru dua pekan bertugas di Brunei.

Continue reading “Pelesir ke Kampung Ayer”