Ngedubbing, yuuk…

Salah satu proses penting dalam pembuatan paket berita yakni dubbing atau sulih suara.

Lihat video prosesnya di sini.  Ini naskah aslinya, dibuat untuk Kompas Pagi Minggu 29 April 2012 :

{LEAD}
LUIS SUAREZ TAMPIL MEMUKAU SAAT LIVERPOOL BERTANDANG KE NORWICH CITY DALAM LANJUTAN LIGA INGGRIS// SUAREZ MENCETAK HETRIK UNTUK MENGANTAR THE REDS MEMETIK KEMENANGAN MEYAKINKAN 3-NOL//

Continue reading “Ngedubbing, yuuk…”

Mukjizat di Tambaksari

Tulisan kenangan lebih dari 7 tahun silam, dimuat di Majalah Tempo edisi 27 Desember 2004. Hasil akhir sepakbola bukan semata andil manusia.

Jacksen Tiago tak kuasa menahan haru saat Persebaya juara Liga Indonesia 2004. Memakai kaos kesayangan. Foto: Budy Sugiharto, detikcom.

BERKALI-KALI Jacksen Ferreira Tiago mengepalkan kedua tangannya sambil berlari di tengah Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya. “Ini mukjizat…, ini mukjizat…,” teriaknya hampir tak terdengar, tenggelam oleh gemuruh sorak-sorai penonton. Begitulah pelatih Persebaya ini menumpahkan rasa bungah setelah anak asuhannya mampu menekuk Persija Jakarta 2-1 pada pertandingan terakhir Liga Indonesia, Kamis sore pekan lalu.

Kemenangan itu mengantar Persebaya menjadi juara Liga Indonesia 2004. Dengan nilai 61 yang dikumpulkan di ujung kompetisi, klub berjuluk Bajul Ijo itu tak tertandingi oleh dua pesaing beratnya, Persija dan PSM Makassar. Persija akhirnya hanya mengantongi total poin 60. PSM sebenarnya juga memiliki nilai 61 setelah mengalahkan PSMS Medan, juga dengan skor 2-1, pada hari yang sama. Tapi tim Juku Eja itu harus puas jadi runner-up karena kalah dalam selisih gol. PSM memasukkan 46 gol dan kemasukan 29, adapun Persebaya mampu menggelontorkan 55 gol dan hanya kebobolan 26 gol.

Continue reading “Mukjizat di Tambaksari”

Jurnalis dan Buruh Demo Metro TV dan IFT

Aksi ini juga dimaksudkan sebagai pemanasan May Day. Menolak kesewenang-wenangan PHK oleh perusahaan media.

Demo di Metro TV. Menentang pemberangusan Serikat Pekerja.

Selasa (24/4) siang, dua bis Metromini trayek 91 jurusan Kampung Melayu-Manggarai berarakan menuju kawasan barat Jakarta. Berangkat dari markas LBH Jakarta di kawasan Jl. Diponegoro, iring-iringan Metromini bersama motor dan mobil bak terbuka berpelantang nyaring ini punya misi menentang ketidakadilan yang dialami pekerja media di dua perusahaan.

Lokasi pertama ke kantor Metro TV di Kedoya. Tepat jam 12, aksi dimulai di kantor yang berdiri megah laksana hotel berbintang itu. Maklum pemiliknya, Surya Paloh, juga dikenal sebagai bos hotel, setidaknya Hotel Papandayan di Bandung dan Hotel Sheraton Media di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekitar 70 jurnalis dan buruh mengambil posisi, berbaris, lalu berorasi, membela Luviana, produser Metro TV, yang dinon-jobkan dari ruang redaksi akibat sikapnya mengkritisi kebijakan perusahaan. Para pengunjuk rasa berdiri tertib di luar pagar utama, dipisahkan belasan polisi dan keamanan internal yang memelototi aksi itu. Di belakang para penjaga, beberapa karyawan Metro TV dan Harian Media Indonesia ikut nimbrung menyaksikan unjuk rasa.

Continue reading “Jurnalis dan Buruh Demo Metro TV dan IFT”

Jatuh Cinta pada Kapitalisme

Pernahkah Anda bayangkan kalau ternyata Yesus itu lahir di Indonesia?

Michael Moore beraksi, menutup salah satu lembaga keuangan di AS. Dampak kapitalisme.

Tak terhitung berapa kali saya menonton film “Capitalism: A Love Story” di HBO. Tapi, entah mengapa setiap film itu kembali diputar, saya ingin menyaksikannya lagi dan lagi. Film “Capitalism: A Love Story” dibuat, ditulis, distrudarai, dan juga diperankan oleh Michael Moore pada 2009, tahun di mana Amerika Serikat mengalami krisis keuangan akibat salah kelola manajemen perusahaan-perusahaan besar.

Ini film dokumenter, pada beberapa bagian tampak membosankan, saat banyak menayangkan kutipan dari banyak orang, termasuk praktisi perbankan, industri keuangan besar, akademisi, sampai tokoh agama tentang apa itu kapitalisme. Seorang pendeta yang diwawancarai berujar, “Kapitalisme adalah iblis, dan Anda tidak bisa mengatur iblis. Anda harus melenyapkannya.”

Continue reading “Jatuh Cinta pada Kapitalisme”

Seandainya Kereta Menjangkau Semua Jakarta

Penopang transportasi publik utama sebuah kota besar, selayaknya adalah kereta api.

Suasana di dalam Commuter Line BSD-Palmerah. Cukup Rp 6 ribu: cepat, nyaman, dan sejuk.

Dalam dua bulan terakhir, setidaknya ada tiga pejabat menjadi buah bibir karena aksinya menumpang Kereta Api Jakarta alias Commuter Line. Menteri Dahlan Iskan saat berkunjung ke Depok dan Bogor, Calon Gubernur DKI Joko Widodo kala hendak memberi kuliah umum di Universitas Indonesia Depok, dan terakhir Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel.

Dalam perjalanan menuju Pondok Pesantren An-Nur, Kamis (12/4) Marciel memilih menggunakan Commuter Line dari Stasiun Gambir, tepat di depan kantornya di Medan Merdeka Selatan Jakarta, menuju Bekasi. “Cepat, nyaman, dan sejuk,” begitu kesan Marciel saat kereta tiba di Bekasi, seakan melupakan waktu 40 menit menunggu saat kereta tertunda, terhambat mogoknya KRL ekonomi dari Stasiun Jakarta Kota  di Mangga Besar.

Continue reading “Seandainya Kereta Menjangkau Semua Jakarta”

Si Perak Masuk Bengkel Lagi…

Namanya juga baru rutin nyetir, ketidaksempurnaan adalah keniscayaan.

Petugas Garda Oto memverifikasi kerusakan Si Perak, Pengajuan klaim tak berbelit.

Kali kedua dalam empat bulan ini, Avanza “baru tapi bekas” kami kembali masuk bengkel. Awalnya terjadi pekan lalu, saya kurang kontrol saat memundurkan mobil keluaran 2009 ini menjelang membawanya berangkat kerja Minggu pagi. Eee, belum tuntas keluar pagar rumah, ban mobil itu miring, hingga sisi kiri luar bumper depan tersangkut pagar besi rumah. Mobil perak ini pun terluka, meski masih bisa dipakai jalan-jalan, setidaknya ke Taman Mini, ke kantor, dan ke RS Harapan Kita.

Continue reading “Si Perak Masuk Bengkel Lagi…”

Taman Mini yang Tak Mini

Terkesan kuno bila dibandingkan tempat hiburan modern, Taman Mini Indonesia Indah tetap bisa dibanggakan.

Einzel di Taman Mini. Riang di depan Istana Anak.

Ada berita menarik, saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya mendaftarkan beberapa aset Indonesia yang memiliki nilai luar biasa sebagai warisan budaya dunia. Setelah sukses meregistrasi wayang, angklung dan batik masuk sebagai ‘World Heritage’ yang tercatat resmi di Unesco, kini Indonesia menominasikan tenun sumba, Taman Mini Indonesia Indah dan empat tarian sakral dari Bali sebagai warisan budaya dunia. Adapun Noken, tas khas dari Papua, November tahun ini akan disidangkan oleh UNESCO untuk menentukan apakah bisa dimasukkan dalam daftar warisan budaya dunia.

Libur Jum’at Agung pekan lalu, memenuhi janji yang tertunda pada Einzel, kami sekeluarga berlibur ke Taman Mini Indonesia Indah. Saking ngebetnya, seminggu sebelumnya, Einzel telah pula berdoa sebelum tidur, “Ya Tuhan, berkati kami agar Minggu depan dapat ke Taman Mini.”

Continue reading “Taman Mini yang Tak Mini”

Minggu Palem dan Inkonsistensi Manusia

Salah satu rangkaian Perayaan Paskah yang membongkar hakikat manusia.

Yesus memasuki Yerusalem di Minggu Palem. From hero to zero.

Hari Minggu sebelum Paskah, Yesus masuk Yerusalem, dan gemparlah kota itu saat orang ramai mengelu-elukannya laksana panglima perang, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!”

Tapi tak sampai sepekan kemudian, juga di kota yang sama, orang-orang itu menunjukkan inkonsistensi, sifat paling mudah ditemui dalam manusia. Saat itu Wali Negeri Pontius Pilatus menawari penduduk Yerusalem, siapa kriminal yang bakal mendapat grasi di Hari Paskah, Yesus Barabas, atau Yesus yang disebut Kristus? Gerakan rakyat memilih penjahat kelas kakap, Yesus Barabas, mendapat kebebasan, sementara Yesus satunya –yang sebelumnya mereka puja bak pahlawan- mendapat vonis eksekusi mati.

Continue reading “Minggu Palem dan Inkonsistensi Manusia”