Kereta yang Kian Berubah

Kini, Kereta Api di Indonesia sudah menjadi moda transportasi yang aman dan nyaman.

Einzel menikmati perjalanan KA Sancaka Yogya-Surabaya. Nyaman bepergian dengan kereta.
Einzel menikmati perjalanan KA Sancaka Yogya-Surabaya. Nyaman bepergian dengan kereta.

Naik kereta api sekarang berbeda dengan dulu. Jangan bayangkan, ada penumpang yang tiduran di atas koran, atau pelaju dengan “ongkos nembak” pada koordinator serta Polisi Khusus KA. Dulu, para “free rider” yang Pulang Jum’at Kembali Ahad, biasa memberikan Rp 50 ribu untuk perjalanan tujuan Yogyakarta yang seharusnya bayar lebih dari dua kali lipatnya. Saya mengalaminya selama 5 bulan, saat hidup terpisah di bulan-bulan awal kelahiran Einzel.

Kini, kereta Indonesia menjadi jauh lebih menyenangkan. Hanya penumpang berkarcis yang boleh masuk ruang tunggu, tak ada lagi karcis peron bagi pengantar. Pedagang di stasiun dibersihkan. Toilet digratiskan. Imbasnya, harga tiket kereta api melangit. Nyaris beda tipis dengan tiket pesawat.

Selebihnya, pelayanan kepada penumpang lebih dimanjakan. Salah satu temuan yang saya kagumi yakni hadirnya colokan untuk charger telepon genggam di setiap ruang tempat duduk kereta api. Dan ini tak hanya berlaku untuk kelas eksekutif, tapi hingga ke kelas bisnis, sebagaimana kami nikmati dalam perjalanan KA Senja Utama dari Jakarta menuju Yogyakarta dan KA Sancaka dari Yogyakarta ke Surabaya.

Wawancara Kompas

Colokan charger telepon genggam di keer
Colokan charger telepon genggam di kereta. Terobosan layanan publik.

Kereta yang berubah lebih nyaman tak lepas dari peran Ignasius Jonan. Pria kelahiran Singapura, 21 Juni 1963 yang menjabat Direktur Umum PT KA sejak era Menteri BUMN Sofyan Djalil ini sebelumnya pernah menjadi Direktur Citi Group pada 2006-2008 dan Dirut PT Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia (BPUI) pada 2001-2006. Simaklah petikan wawancara lulusan Harvard Kennedy School of Government ini, di Harian Kompas, Selasa, 6 Januari 2014.

Tantangan apa yang Anda hadapi ketika mereformasi  PT KAI?

Jujur saja, ini tidak mudah. Perlu kerja keras mencapai itu. Tantangan datang dari internal ataupun luar perusahaan. Kami berangkat dari kualitas layanan yang berantakan. Sebelumnya pembelian tiket kereta hanya ditulis di secarik kertas. Petugasnya juga tidak peduli. Mereka hanya memikirkan bagaimana cara mengangkut orang tanpa melihat apakah mereka bayar atau tidak.

Ini sangat fatal karena menghilangkan hak para konsumen. Mereka tidak mendapatkan pelayanan yang baik sehingga kemudian enggan menggunakan moda angkutan kereta api.

Sementara itu tantangan dari luar adalah masih adanya perilaku buruk orang dengan merusak sarana kereta. Dari tahun ke tahun jumlahnya naik-turun. Ini membutuhkan kerja sama semua pihak.

Untuk memperbaiki semua itu, perlu organisasi yang bagus. Karena itu, perlu pemimpin yang kuat, memberi contoh baik, memiliki kepedulian, dan bertanggung jawab pada tugas. Ada peningkatan remunerasi pegawai, misalnya gaji masinis yang semula Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan, kami tingkatkan jadi Rp 8 juta-Rp 10 juta per bulan. Bentuk penghargaan semacam itu memberikan banyak keuntungan karena mereka semangat dalam bekerja dan meminimalkan bentuk pelanggaran.

Bagaimana cara menghadapi resistensi dari dalam KAI sendiri?

Tidak bisa dipungkiri, banyak pihak yang sudah lama menikmati keuntungan dari buruknya manajemen kereta. Resistensi ini hanya datang dari 10 persen seluruh karyawan KAI. Kami terapkan pola reward and punishment secara konsisten. Siapa yang berhasil mendapat penghargaan, siapa yang melanggar mendapat hukuman.

Salah satu penghargaan tertinggi kami berikan kepada tiga karyawan PT KAI yang meninggal pada peristiwa kecelakaan 9 Desember di Bintaro. Nama mereka kami abadikan sebagai nama tempat balai pendidikan di Bekasi, Yogyakarta, dan Bandung. Keluarga mereka juga kami rekrut sebagai karyawan untuk menopang penghidupan berikutnya. Kami menaruh apresiasi setinggi-tingginya atas tanggung jawab mereka dalam bekerja (lalu Jonan menunjukkan video peristiwa naas tersebut, matanya terlihat basah mengenang peristiwa itu).

Lalu, apa hasil yang bisa dilihat secara konkret oleh masyarakat pengguna kereta?

Anda bisa lihat sendiri, 63 stasiun di Jabodetabek bersih, pelayanan penumpang meningkat, dan ada kemudahan layanan pembelian tiket perjalanan kereta. Pengguna bisa membeli tiket 90 hari sebelum keberangkatan di minimarket, agen perjalanan, ataupun secara online.

PT KAI berusaha memanjakan dan menjamin semua penumpang jarak jauh dan sedang mendapatkan tempat duduk sesuai dengan kelasnya. Hal ini bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada penumpang dan menjadikan kereta api sebagai angkutan yang manusiawi.

Pada angkutan kereta rel listrik (KRL) tak ada lagi penumpang yang berada di atas atap kereta, ini yang penting, sebab bertahun-tahun sulit ditertibkan. Dulu sepertinya persoalan ini sangat sulit diselesaikan, kenyataannya sekarang bisa.

Kini, kereta semakin menjadi tumpuan angkutan orang dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pegawai rendahan hingga direksi perusahaan yang bergaji lebih dari Rp 50 juta per bulan. Ini kebanggaan sekaligus tantangan yang tidak mudah. Sebab, standar kepuasan layanan mereka beragam.

Tonggak peningkatan layanan terjadi pada tahun 2013. Direksi menerapkan KRL Jabodetabek dalam satu manajemen. Semua KRL menggunakan AC. Tidak ada lagi kereta ekonomi, dan pada saat itu mulai berlaku tiket elektronik.

0 Replies to “Kereta yang Kian Berubah”

Leave a Reply

Your email address will not be published.