Membangun Asa dari Rusunawa

Dari rumah susun lima lantai yang semula gulita tak terpakai, semangat hidup para korban bencana mulai disusun.

rusun2GARUT– Satu unit rumah susun itu berukuran tak lebih dari 21 meter persegi. Standarnya petakan di rusun, terdiri dari satu ruang keluarga, satu ruang tidur, satu dapur serta satu kamar mandi. Sangat sederhana, tapi di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di ruas jalan Garut-Bayongbong kilometer 5 inilah, para korban musibah banjir bandang mulai meretas harapan.

“Kami bersyukur ada di sini. Tempat tinggal nyaman, bantuan pun mencukupi,” kata Eni Handayani. Lima anggota keluarga dekatnya menjadi korban luapan Sungai Cimanuk, 20 September 2016. Setelah jenazah nenek dan dua adiknya ditemukan, sulung dari sebelas bersaudara ini terus menanti kabar sang ibu, Sri Listiawati, 44 tahun, serta adiknya yang lain, Tania Hoki, 10 tahun, yang masih dinyatakan hilang.

Continue reading “Membangun Asa dari Rusunawa”

Tekad Tak Menyerah RSUD Dokter Slamet

Rumah sakit yang dibangun di era kolonialisme Belanda menjadi salah satu bangunan terdampak bencana banjir bandang. Perlahan tapi pasti, mencoba bangkit sebagai fasilitas publik yang melayani 2,5 juta warga Garut.

direkGARUT– Sepasang pigura berisi cetakan slogan masih terpampang di ruang radiologi RSUD Dr. Slamet, Garut. Kertas berbingkai dengan judul ‘Garut Bangkit Garut Berprestasi’ bertuliskan visi-misi rumah sakit umum daerah yang berdiri sejak zaman penjajahan Belanda itu. Saat berkunjung meninjau keadaan RSUD Dr. Slamet, Kamis, 29 September 2016, Presiden Joko Widodo cukup lama berada di area ruang radiologi, sebagai salah satu titik terparah yang mengalami kerusakan akibat bencana banjir bandang luapan Sungai Cimanuk.

Continue reading “Tekad Tak Menyerah RSUD Dokter Slamet”