Karena Indonesia Adalah Rumah Kita

Menggabung-gabungkan berbagai video untuk sebuah pesan kebangsaan. Konsep dan idenya bagus, sayang tak terlalu banyak karya orisinal mereka.

Annisa Rosa Noviany, Yansen Kuswoyo, Dinda Wahida, Samuel Elbert  dan Martinus Raharjo menampilkan paket video berjudul ‘Indonesia Rumah Kita’. Konsepnya, menampilkan Indonesia apa-adanya, dan harus kita cintai, karena inilah rumah kita.

foto2Indonesia indah, terlihat dari pesona alam luar biasa nan tiada tandingnya. Setitik sorga jatuh ke bumi. Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan negeri ini. Tapi, Indonesia yang sama juga kerap dilanda rusuh, perbedaan pendapat dan kondisi-kondisi ideal lainnya. Mereka juga menyertakan vox-pop, bertanya tentang masyarakat tentang apa itu toleransi.

Titik lemah karya mereka ini jelas: minim sekali source atau footage karya sendiri yang ditayangkan. Dari 3 menit 54 detik video ini, mayoritas justru dari tayangan luar yang diambil (youtube) sebagai cuplikan paket mereka. Ada sih tayangan acara parade kebhinekaan di Bundaran Hotel Indonesia, tapi amat kurang dibandingkan keseluruhan tayangan. Soal lain, tak ada PTC reporter, yang justru menjadi syarat penting tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara.

Terbentur masalah teknis

foto1Annisa Ocha mengaku tak puas atas karya mereka ini. Kendala teknis jadi masalah utama. “Dua hari menjelang UAS, laptop yang kami gunakan untuk mengedit dan  menyimpan video rusak dan tidak bisa menyala. Akhirnya kami mengambil beberapa footgae dari youtube dan beberapa dari video yang tersisa,” paparnya.

Yansen Kuswoyo sebagai editor pun mengakui,     pada saat peliputan banyak masalah yang terjadi dalam kelompok, entah antara perbedaan pendapat maupun tujuan. “Kami berusaha mengatasi bersama pada saat momen mencari narasumber,” ungkapnya.

Juru kamera Martinus Raharjo dan Samuel Elbert menggarisbawahi kendala waktu proses edit. “Masalah teknis membuat waktu mengedit pun menjadi amat panjang,” katanya.

foto3Begitu pula kisah juru kamera Dinda Wahida. “Saat pengeditan, ternyata video lupa disimpan dan hasilnya hilang lagi. Mau tidak mau kita mengulang lagi dari awal mengedit,” urainya. Liputan ke kawasan Bundaran Hotel Indonesia dan Taman Mini Indonesia Indah terasa sia-sia saat laptop tempat penyimpanan footage rusak dan aneka visual hasil kerja keras mereka pun hulang. “Yang tersisa hanya beberapa video saja, jadi kami putuskan ambil dari youtube dan wawancara warga alias vox pop,” terangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *