Bermonolog: Bhinneka adalah Kita

Dalam video pendek 3 menit 42 detik, Akmal Alaya ber-monolog tentang Indonesia yang krisis kebhinekaan. Idenya keren. Ada beberapa masukan teknis.

Untuk tugas mata kuliah ‘Feature Media Siar’ Universitas Multimedia Nusantara, kelompok beranggotakan enam orang ini  -Muhammad Ikbal, Adrian Permana, Rebeca Joy, Bagas Rahardian, Gregorius Pranandito dan Akmal Alaya- membuat semacam iklan layanan masyarakat (public service announcement/PSA).

Mereka menampilkan Akmal dalam monolog bercerita tentang kebhinekaan (sayang, dalam teks penulisan ‘Bhineka’ kurang huruf ‘N’ satu). Dengan ekspresif, Akmal menggambarkan Indonesia seharusnya lebih kuat kalau bersatu. Berteater, ia menyayangkan konflik yang terjadi di berbagai belahan Indonesia dari tahun ke tahun.

Oke sih, idenya. Tinggal pembenahan teknis. Musik latar yang terlalu kencang menutupi suara dan pesan yang sebenarnya disampaikan Akmal dengan intonasi cukup bagus. Tengok say Akmal berkisah tentang konflik Dayak dan Madura, ada suara yang ‘tenggelam’ di sana tertutup musik pengiring paket ini.

Satu lagi, dalam pemilihan vox pop, entah disadari atau tidak, baiknya jangan memilih narasumber/pemberi soundbyte dari kalangan ‘seragam’ dong. Sesuai topiknya, kelompok ini mesti menggabungkan suara rakyat itu dalam berbagai latar belakang, baik suku, agama, maupun warna kulit.

Overall, pesannya nyampai. Salut untuk kemampuan bermonolog, pengarah gaya, dan tentu saja tim visualnya. juru kamera maupun penyunting gambar.

Konsep dan proses kreatif

Ikbal, juru kamera, berujar, ide monolog ‘Unity in Diversity’ ini awalnya muncul saat mereka melakukan diskusi pada sesi kelas Feature Media Siar di taman UMN. “Konsep cerita iklan kelompok kami yang ada saat ini memang berbeda dari konsep awal yang kami ajukan, tapi dasar pemikirannya tetap, prihatin karena masyarakat mudah terpecah-belah dan terprovokasi dengan provokasi-provokasi yang berbau SARA,” urainya.

Peralatan yang digunakan saat proses produksi yaitu 2 buah kamera DSLR, 2 buah tripod, 1 buah monopod, 1 buah mikrofon booya, serta 1 buah lampu LED. “Kami melakukan proses shooting hanya satu hari yaitu pada hari Kamis 22 Desember 2016 di rumah saya,” katanya. Maka, rumah Ikbal pun disulap jadi ruang gelap ala tempat interogasi polisi, hehe…

Adrian, tim riset dan kreatif sekaligus juru kamera, pun senada terkait pemilihan tema ini. “Karena kami ingin menumbuhkan rasa toleransi antar masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Rebeca Joy, sutradara, berkisah, shooting dilakukan sehari saja, pada Kamis siang hingga sore, 22 Desember 2016 di garasi rumah Akmal. “Ide itu kami pilih juga karena pertimbangan keterbatasan waktu, jadi kami memutuskan untuk mengambil konsep monolog tentang keberagaman bangsa Indonesia,” jelasnya.

Kendala yang ditemukan saat mengerjakan tugas ini adalah sulitnya mencari waktu untuk melakukan diskusi dan eksekusi, karena kesibukan masing-masing anggota kelompok. “Namun, karena kerja sama tim, kami dapat berkoordinasi dengan baik dan efisien sehingga tugas ini dapat selesai tepat waktu,” ungkapnya.

Bagas Rahardian, editor video, mengungkap kesannya tentang video ini. “Bagus karena sesuai dengan keadaan di Indonesia yang sedang gampang panas jika membahas isu SARA,” jelasnya.

disksuiAdapun Greg Pranandito, tim riset dan kreatif, mengungkapkan, ide awal topik mereka bermula saat kelas Feature Media Siar digelar di taman kampus. “Saat itu kami berdiskusi di kantin,” kenangnya. Greg bertugas untuk membantu pembuatan naskah serta melengkapi perlengkapan yang kurang. “Kesulitan yang saya rasakan dalam pembuatan tugas ini adalah pembuatan naskah yang harus dimulai dari nol karena ini berbeda dengan liputan berita,” urainya.

Akmal Alaya, sang talent sekaligus editor video sempat menyayangkan tak maksimalnya anggota kelompok yang bekerja. “Kelompok ini akan jadi kelompok yang bagus, andai saja sungguh-sungguh semuanya saat mengerjakan. Asal ada kemauan pasti kita bisa,” kata aktivis Teater KataK UMN ini.

Akmal memaparkan, alat yang digunakan yakni Cannon 600d dan Cannon 700d. “Untuk pengambilan gambar, kami menggunakan dua kamera. Kamera satu (700d) untuk kamera utama sedangkan kamera dua (600d) untuk mengambil detail,” terangnya. Mereka pun menyertakan mic extension, satu tripod dan satu monopod. Lighting menggunakan satu lampu LED dan satu lampu gantung garasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *