Boleh Kagum, tapi Tetaplah Selevel dengan Narasumber

Pada hard news mata kuliah Produksi Televisi ini, mereka menampilkan liputan Calon Gubernur Banten Rano Karno menemui warga di Pamulang. Tetaplah berusaha dalam posisi sejajar dengan narasumber.

http://www.youtube.com/watch?v=6NubP2g8HzU

Sharon Yemima, Andini Nur Nabila, Selvie Lestari, Elisabeth Chrisandra, Regina Devie, Putri Amalia, Vinsensius Yoga, dan Rachel Anastasia membawa berbagai topik pada ujian akhir semester mata kuliah Produksi Televisi I Universitas Multimedia Nusantara. Pada segmen satu, hard news, yang memang diwajikan menampilkan kandidat pilkada, mereka mengejar Rano Karno sampai ke Pamulang. Melalui berbagai informasi, sampailah tim ini menemui artis idola era 1980-an itu di kolam pemancingan dan tempat makan yang sebenarnya bukan kegiatan kampanye resmi sang cagub.

Cara kelompok ini mengemas sebuah paket sudah asyik. Footage dimunculkan sebagai insert di sela-sela PTC Nabila di lokasi Rano berada. Hanya saja, di sinilah kelemahan mencolok Nabila. Mungkin di kepalanya Rano dikenal sebagai artis top dan petahana gubernur yang hanya biasa dilihat di layar kaca, tapi saat bertemu dengannya, tetaplah usakan bahwa reporter dan narasumber ada posisi ‘satu level’ yang sama. Sebut saja langsung namanya, jangan memakai atribusi, ‘Bapak’ di depan nama Rano Karno. Nabila juga terlihat inkonsten saat sudah benar menggunakan kata ganti ‘Ia’ dibandingkan ‘beliau’. Tapi, pada beberapa kesempatan masih saja digunakannya kata ganti ‘beliau’.

Kelemahan lain, yakni minimnya CG sebagai teks untuk mempertegas informasi yang disampailan. Character Generator sangat penting ditampilkan, terutama karena banyak pemirsa berita televisi tidak selalu fokus dalam menonton televisi. Mungkin pemirsa memilih kanal berita, tapi ada kesibukan lain menyertainya, jadi bisa ‘missed’ dalam informasi yang disampaikan. Pada liputan Rano Karno misalnya, banyak CG bisa ditempelkan, misalnya ‘Warga Pamulang Berebut Bersalaman dengan Rano Karno’, ‘Usai Kampanye Seharian, Rano Karno Makan Bersama Orang-orang Terdekat’, dan lain-lain.

Penampilan duo host Selvie dan Rachel bisa dibilang oke. Pemilihan ‘wardrobe’ mereka pun menimbulkan keselarasan warna. Tetaplah berhati-hati dalam pemilihan kata. Misalkan saat Rachel hendak mengantarkan dialog di segmen kedua dan berkata, “Banyak orang-orang terdorong untuk mengurangi kekerasan seksual ini..” Pilih salah satu saja, ‘Banyak orang’ atau ‘Orang-orang’.

Masuk ke segmen talk show, Elis berdialog dengan pendiri Lentera Sintas Indonesia, sebuah LSM yang bergerak memerangi kekerasan pada perempuan. Sudah bagus, sebelum dialog dimulai ada VT atau paket pengantar dialog. Lagi-lagi, di sinilah pentingnya konsistensi CG muncul agar pemirsa tertarik menonton dialog ini. Bayangkan jika ada CG muncul, ‘Setiap Dua Jam Sekali, Ada Orang Mengalami Korban Kekerasan Seksual’, ‘Komnas Perempuan: Ada 15 Bentuk Kekerasan Seksual’, ‘Kekerasan Seksual Rentan Terjadi saat Pacaran’, dan juga saat paket menampilkan aktivitas edukasi yang disampaikan para releawan Lentera. Sayang, tak disertai CG memadai.

Saat dialog berlangsung, alih-alih pemirsa terus melihat wajah Elis dan Sophia Hage, sebaiknya jangan pula ragu menampilkan footage dalam paket muncul kembali sebagai insert dialog.  Closing sebagai kunci penyampai pesan tegas disampaikan, “Jangan Diam, Ayo Mulai Bicara!”

Cuplikan film ‘Guardians of The Galaxy’ sebagai paket ‘and finally’ sudah sesuai instruksi. Hanya, ada ‘miss’ di sini, karena paket ringan itu seharusnya ada di segmen lain, segmen ketiga sebagai penutup program, dan bukan satu segmen yang sama dengan sesi dialog.

Catatan peliput 

Sebagai editor, Sharon dan Putri mengalami kesulitan dalam pengatur pencahayaan dalam berbagai liputan yang masuk. “Banyak paket diserahkan pada editor, tapi alat peliput yang digunakan berbeda-beda. Di situlah mesti bekerja keras mensinkronkannya,” papar Sharon. “Kuncinya harus ekstra sabar dan teliti,” tegas Putri.

Selvie berperan sebagai salah satu anchor. “Di sini saya dituntut bagaimana membangun suasana dengan tepat,” katanya. Sebagai reporter, ia dan Andini mendapat pengalaman berharga saat mencari lokasi di mana Rano Karno berada. “Kami bolak-balik berburu lokasi di tengah hujan lebat,” kisahnya.

Senada dengan Selvie, Rachel pun baru kali pertama menjajal tugas sebagai anchor. “Mesti take berkali-kali karena banyak ketawa,” urainya.

Elis yang menjadi host segmen talk show menceritakan perjuangan beratnya. “Harus tetap bisa menjaga mimik bagus di depan kamera selama perbincangan berlangsung,” jelasnya.

Vinsen dan Regina sebagai juru kamera saat sesi talk show di rumah Sophia Hage mengungkapkan sisi ‘perfeksionis’ seorang camera persons. “Ligthing indoor kami amat minim, sementara lampu rumah narasumber berwarna kuning dan latar catnya berwarna cokelat. Maka, gambar yang dihasilkan pun kurang terang,” ungkapnya kurang puas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *