Tantangan Liputan: Melawan Takut Anjing

Banyak tantangan saat para jurnalis muda belajar liputan. Mulai nervous bertemu publik figur, sampai takut pada belasan anjing di tempat narasumber.

Suasana Rumah Lembang digambarkan amat detail dalam liputan hard news Ujian Akhir Semester mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara dari kelompok yang beranggotakan Dessy Amelia, Sevtin Juliana, Meline Nabilla, Yohanes Aldo, Jessica Bayu, Khansa Olivia, Ervan Dwi, Andre Kusnadi dan Kevin Nathaniel ini.

Paket pengantar yang mereka sajikan menjadi ‘pemanasan’ menjelang toss ke reporter live. Kelemahannya, paket itu minim CG, yang harusnya memperjelas pesan yang disampaikan. ‘Message’ yang ditegaskan pun mengena, “Mereka yang meramaikan Rumah Lembang ini menjadi bukti nyara bahwa kebhinnekaan di negeri ini masih ada.” Ditambah natural sound teriakan yel-yel, membuat pemirsa seolah ada di lokasi.

Dari segi presentasi host, Kevin dan Khansa oke, sih. Kecuali pada bagian saat mereka muncul bergantian hanya seorang, setelah di awal tampil berdua. Seolah sulapan, sim salabim, presenternya menghilang satu dari layar. Padahal, seandainya mereka tetap berdua pun tak jadi masalah.

ahokPenampilan Jessica cukup percaya diri. Apalagi on-cam livenya disertai insert footage yang memadai. Kekurangannya saat menyebut lokasi, “Masyarakat sudah mengantre di Rumah Lembang, Taman Menteng..” sebenarnya cukup sebut “Kawasan Menteng..” Ini karena lokasi Taman Lembang dan Taman Menteng cukup jauh.

Jessica juga sempat kepleset lidah saat menyebut nama “Liem Swie King”. Mengingat level reporter dan narasumber seharusnya sejajar –sudah dibahas di evaluasi kelompok sebelumnya- Jessica seharusnya tak perlu memakai kata ‘Pak’ untuk menyebut ‘Pak Ahok’. Atau masih terpesona bisa bertemu narasumber hebat dari jarak dekat? Sayang, baik dalam paket pengantar maupun live, tak ada SOT Ahok ditampilkan, baik itu saat berpidato maupun doorstep dengan jurnalis. Hanya ditampilkan mimik Ahok bicara dalam insert footage.

Sesi dialog menampilkan Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Kecuali minim CG, paket pengantar tentang sejarah berdirinya JAAN cukup komplet, termasuk dengan dokumentasi video dan sertifikat pendirian. Visual shelter di Pejaten memberi nilai tambah paket ini.

Testimoni peliput

Dessy berperan sebagai juru kamera liputan feature, meski hanya menggunakan kamera ponsel. “Hal ini dikarenakan, saat liputan kami berpencar agar semuanya selesai tepat waktu. Selain itu, dalam liputan hanya memakai dua kamera. Ketika ada sesuatu kejadian yang perlu didokumentasikan sedangkan camera person sedang berkeliling maka kecanggihan kamera handphone yang membantu,” paparnya. Kendala kekurangan kamera menjadi catatan mereka.

pelukSevtin sebagai juru kamera di Rumah Lembang merasakan sensasi sendiri menjadi jurnalis sejajar dengan wartawan media mainstream. “Saya merasakan bagaimana  menjadi jurnalis yang sebenarnya. Saya terdorong sana-sini, perebutan dengan pendukung Pak Ahok ketika beliau datang. Selain itu, dengan kondisi seperti itu saya harus mempertahankan kamera agar mendapat gambar Pak Ahok yang terlihat jelas,” paparnya. Meskipun dalam kondisi terjepit, usahanya untuk mendapat gambar Ahok tidak sia-sia.

Andre Kusnadi sebagai host di segmen talk show pun mendapat pengalaman sendiri. “Dengan bekal pengetahuan yang ada dan pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan, saya mencoba ‘hangat’ dengan narasumber agar chemistry dapat terlihat di kamera,” ungkapnya. Sayang, ia kurang beran memotong saat narasumber Iben terlalu panjang bicara. Dialog mereka juga jadi membosankan karena editor tak memberi variasi insert footage sebagai selingan visual dalam dialog panjang, padahal mereka punya banyak ‘belanjaan’ gambar di paket pengantar.

Lain lagi pengalaman Ervan Dwi saat menjadi juru kamera liputan dialog dan sempat terganggu dengan banyaknya anjing di shelter. “Saya dan kelompok langsung disambut dengan segerombolan anjing yang berbeda-beda jenisnya. Saya yang tidak pernah bermain dengan anjing sebelumnya dan kebetulan beragama muslim, memiliki rasa canggung dan sedikit takut,” kenangnya. Namun, bukannya takut, ia terus berjalan melewati gerombolan anjing tersebut yang seakan mengajak untuk bermain. “Hal itu saya lakukan demi menyelesaikan tugas dan mengetes mental saya, seberapa kuatkah rasa keberanian yang saya miliki,” tegasnya.

Cerita takut dengan anjing juga dialami Kevin, anchor sekaligus juru kamera di segmen dialog. “Sejujurnya, saya sangat takut dengan anjing. Namun, demi tugas UAS ini, saya harus berjalan dari gerbang ke tempat kantor Mas Iben, narasumber kami, dikelilingi puluhan anjing. Saya sempat sangat ketakutan dan tidak dapat bergerak di tengah jalan. Namun, saya memaksakan diri untuk berjalan sampai tujuan,” kisahnya.

Selain sebagai duo anchor, Khansa secara tidak langsung juga bertindak sebagai timekeeper untuk mengingatkan apa saja yang belum dikerjakan kelompok. “Masih sering terjadinya miskomunikasi antar anggota yang membuat beberapa hal yang sudah dijadwalkan menjadi terundur,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *