“Gua udah berbisnis sejak TK…”

Penting menghadirkan quote narasumber -baik yang didapat saat ramai-ramai atau one on one- dalam paket agar liputan terasa lebih ‘hidup’.

Andina Kamia, Bunga Dwi, Jefferly Helianthusonfri, Apriana Nurul, Diva Maudy, Bertold Ananda, Robby Arianto, Aldo Lucky dan Farid Hardika bersatu dalam Suara Nusantara ‘Nouveless TV’ mengerjakan project ujian mata kuliah Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara semester ganjil 2016/2017. Sebagaimana ditugaskan, mereka membuat paket berita selama 30 menit dengan komposisi: hard news, talk show dan berita ringan (‘and finally’ news).

Pada segmen awal, Robby dan kawan-kawan mengejar Rano Karno hingga ke Pamulang. Laporan singkat dan padat menceritakan aktivitas calon gubernur Banten seusai berkampanye seharian. Sayang memang, tak ada soundbye wawancara keroyokan, maupun one on one dari liputan itu. Jika tak bisa mendapatkan kutipan pernyataan narasumber secara keroyokan, jangan ragu mengambil wawancara dengan siapa saja yang ada pada peristiwa itu. Bisa tim sukses, atau (alternatif terakhir) apa suara warga terkait kedatangan tokoh yang tak setiap hari mereka temui. Hadirnya soundbyte akan membuat sebuah liputan terasa lebih hidup dan orisinal.

Di segmen talk show, kelompok ini menampilkan Theodorus Ega, pendiri Copycino, layanan print gratis, lengkap dengan model bisnis bagaimana Copycino bisa eksis. Bagus sih konsepnya, Kekurangannya, mereka banyak mengambil gambar Theru dari samping. Jadi kurang pas dan terlihat ‘wayang’ alias hanya sebelah bagian tubuhnya saja yang banyak terekspos. Beruntung, kekayaan footage mereka bisa menutupi kelemahan itu.

Kutipan, “Gua udah berbisnis sejak TK,” sangat nendang. Entah kenapa, suara itu tak keluar dari mulutnya langsung, melainkan dari rekaman audio. Seolah-olah itu hasil wawancara via telepon. Ketepatan gambar yang selaras dengan narasi menjelaskan di mana saja lokasi Copycino juga patut diacungi jempol. Wawancara pengguna Copycino sangat memperkuat liputan pengantar dialog, meski kurang ada visual saat ada pelanggan dalam kondisi ramai (antre printing). Sayang juga, kekayaan footage yang ditampilkan pada paket pengantar tak disertakan sebagai insert talk show, sehingga suasana dialog seharusnya tak monoton.

Cerita peliputan

Andina Kamia menegaskan, kerjasama anggota kelompok menjadi kunci suksesnya program ini. “Dalam membuat sebuah program selama 30 menit ini, banyak bagian yang menarik. Kami merasakan sulitnya mencari narasumber hingga melakukan shooting news anchor,” kisahnya.

Sebagai reporter, Bunga Dwi pun menceritakan perjuangan mereka gagal menangkap momen kampanye Agus-Sylvi. “Waktu kami datang ke tujuan pertama, kampanye Agus sudah selesai, lalu dioper lagi ke beberapa tempat sehingga membuat kita tidak mendapat apa-apa pada hari itu,” kenangnya.

Jefferly memaparkan, dalam penugasan kali ini saya berperan sebagai penulis naskah, reporter, dan pengisi suara untuk membaca narasi paket berita. Sebagai penulis naskah, saya bertugas untuk menulis naskah segmen dua (segmen dialog) dan tiga (paket berita internasional).   “Bagi saya pribadi, tidak ada kendala dalam pengerjaan proyek uas ini. Bahkan bisa dibilang pengerjaan segmen dua dan tiga relatif mudah, sebab sudah terbiasa di tugas UTS dan tugas-tugas jurnalistik lainnya,” ungkapnya.

Juru kamera Apriana Nurul menuturkan kesan seru selama peliputan. “Saya selalu suka dengan momen dimana saya dapat bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru, terutama saya dapat bertemu dengan sosok tokoh masyarakat,” ungkapnya.

Diva merasa senang menjadi host segmen dialog, meski terkesan dadakan. Waktu untuk menghafalkan pertanyaan sangat minim sekali, dan ia mengaku cukup deg-degan karena tidak ada persiapan apapun. “Setelah dijalanin Alhamdulillah lancar, walaupun beberapa kali take karena gugup,” urainya.

Campers lain, Bertold Ananda menggarisbawahi kerja jurnalistik erat dengan rasa ‘capek’. Ia berpendapat, menjadi jurnalis memang membutuhkan fisik yang selalu sehat dan prima. Selama peliputan Nanda merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wartawan yang harus keluar mencari berita dan mengejar narasumber yang akan dijadikan sebagai sumber utama dalam peliputan, harus stand by lebih awal dari biasanya dan tentunya harus menjaga kondisi badan agar tetap prima. “Sekali badan tidak fit akan berasa banget kita mengerjakan peliputan pasti dengan rasa beban maka dari  itu kondisi harus senantiasa dalam kondisi prima,” ungkapnya.

Robby pun menemukan pengalaman berharga meliput Rano Karno. Terutama dalam perjuangannya di gang-gang kecil Pasar Kemis menanti sang cagub petahana. “Pengalaman yang luar biasa bagi saya dapat bertemu langsung dengan pemimpim daerah, menemukan esensi dari proses pemilihan kepala daerah, dan turut berpartisipasi dalam kegiatan politik,” katanya. Sayang. meski menyatakan merekam pidato Rano di Tangerang, tapi SOT saat pidato itu tak mereka tayangkan. Pasti akan beda kalau ada quotation, jadi lebih hidup.

Aldo, sang news anchor, yang bersama Robby ‘blusukan’ mencari Rano Karno menuturkan hal serupa. “Pengalaman menarik juga karena bisa mencari berita dari kampanye sampai pembuatan feature. Dari harus mencari berita sampai jauh dan mengejar narasumber sambil berpanas panasan di lapangan,” katanya.

Farid sang komandan editing berujar, proses penyuntingan visual amat meletihkan. “Kesulitan saat pengeditan video ialah ketika menyatukan antara data primer dari hasil liputan kelompok dan data sekunder dari dokumentasi pribadi dari hasil liputan berupa stock scene ttg Copycino,” kata Farid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *