Memburu Agus Nobar Timnas

Kadang hidup membutuhkan keberuntungan dan kesigapan sekaligus. Saat meliput Sandiaga yang dikerubuti keramaian, tiba-tiba orang dekat Sandi membawa sang narasumber ke depan mereka. Sayang, para jurnalis muda ini langsung shock dan diam seribu Bahasa.

Mereka bersembilan: Yovi Syarifa, Putri Diana, Ajeng Sekar, Mia Chiara, Riani Angle, Yohana Ruth, Chatur Dharma, Bernadin Mario dan Daffa Syahnabil bersatu dalam kelompok ‘Multimedia News’ mengerjakan project Ujian Akhir Semester mata kuliah Produksi TV I Universitas Multimedia Nusantara.

14811664145701Untuk hard news di segmen satu, yang diwajibkan menampilkan calon gubernur dalam Pilkada 2017, tim ini mengejar Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY. Sampai malam hari, mereka mengejar AHY yang menghadiri acara nobar timnas Indonesia di kawasan Srengseng, Jakarta Barat. Sayang memang, footage yang mereka tampilkan sebagai insert berupa gambar foto/still image, bukannya full video.

Antusiasme menyambut AHY mereka tampilkan dalam visual maupun PTC Putri. Kalaupun ada kekurangan, tak ada SOT AHY yang ditampilkan, serta minimnya CG menyertai tayangan itu. Juga saat Putri menunjukkan, “Anda dapat lihat kemeriahan pendukung AHY di belakang saya…” tapi kamera tak menunjukkan visual detail di belakangnya (sebenarnya bisa juga diakali dengan insert visual).

Giliran Riani tampil ‘live’ dalam blusukan Sandiaga di kawasan Bangka, Jaksel, ia masih saja menyebut narasumber dengan sapaan ‘Bapak Sandiaga’, yang seharusnya cukup saja sebut nama.

14839411912001Kerja keras kelompok ini menyajikan netralitas stasiun televisi tampak karena menjadi satu-satunya tim yang menampilkan semua kandidat pasangan calon Pilkada DKI. Usai memprofilkan kegiatan Agus dan Sandi, ada pula aksi Mario terjun ke Rumah Lembang, markas Ahok-Djarot.

Sesi talk-show dibawakan Daffa juga keren, terutama pada paket liputan pengantarnya. Nah, kekayaan belanjaan visual inilah yang seharusnya ditampilkan sebagai insert visual di antara dialog panjang Daffa dan Ahmad (sebaiknya menuliskan nama minimal dua kata ya), salah seorang pemilik kedai kopi ‘Kinetik’. Gimmick menjelaskan aneka jenis kopi menjadi daya tarik sendiri, meski masih kurang ‘detail’ atau close-up gambarnya. Seharusnya, mereka sering-sering menampilkan gambar gelas berbuih itu.Anyway, salut untuk totalitasnya!

Kisah di balik layar

Yovi Ifa, juru kamera sekaligus anchor, berkisah tentang liputan panjang mereka mengejar AHY dari pagi di Mampang, Jaksel hingga malam di tempat nobar Srengseng, Jakbar. “Project ini mengajarkan kami untuk bersabar dan banyak berkomunikasi dengan wartawan media lain ataupun orang penting lainnya yang bisa kami jadikan sebagai sumber informasi,” paparnya.

Ifa mengungkapkan, menjadi seorang camera person tidaklah mudah karena mata harus benar-benar jeli melihat situasi yang ada di lapangan.

14811664692571Selain menjadi camera person, Iva juga bertugas sebagai news anchor yang katanya banyak diminati di dunia broadcast. Menjadi news anchor ternyata lebih sulit dibandingkan menjadi camera person. “Rasanya campur aduk berada di depan kamera, canggung, tegang, gugup menjadi satu. Tidak hanya itu, kalimat yang ingin saya ucapkan pun menjadi sulit untuk dikatakan walaupun saya tahu apa ingin saya ucapkan,” kenangnya.

Ajeng Sekar juga anchor sekaligus campers, mengaku senang karena merasakan tengah malam masih di luar rumah. “Seru aja sebagai cewek berjuang demi mendapatkan berita sampai pulang ke rumah jam 2 malam,” kisahnya. Ajeng merasakan sensasi. bagaimana menjadi jurnalis, mencari berita di tempat yang asing dan harus bisa menyesuaikan diri di daerah orang dengan berbaur bersama warga sekitar.

Sebagai anchor, Ajeng berkesimpulan, ternyata menjadi pembawa berita tidak mudah harus memiliki mental percaya diri yang kuat. “Gugup menjadi penyakit bagi saya bilang bicara di depan kamera,” katanya.

Putri, sang reporter on-cam di acara nobar AHY mengaku mendapat banyak pelajaran saat liputan Pilkada. “Karena banyak sekali orang-orang yang melihat ke saya, dan mungkin saya sedikit menganggu pemandangan mereka hehehe…” ujar Putri. Merasa sulit saat melaporkan langsung, karena dengan suasana yang sangat ramai dan berisik, ia pun harus berteriak-teriak saat live report. “Saya berkali-kali mengulang live reportnya, sulitnya saat sudah di depan kamera, kadang kita lupa apa saja yang ingin disampaikan,” papar Putri.

Riani Angel, tim kreatif saat liputan kampanye Sandiaga merasakan bagaimana nervousnya berada dekat narasumber terkenal. “Baru saja saya dan Mia beristirahat tiba-tiba ada yang menghampiri kami. Ketika saya dan Mia sedang mempersiapkan kamera dan tripod, tiba-tiba orang yang sebelumnya menghampiri saya berkata, ‘Pak Sandiaga sini, ada yang mau wawancara’. Kami terkejut ketika mendengar kata itu dan hanya bisa diam,” ceritanya.

Akhirnya Pak Sandiaga berdiri tepat di depan mereka sambil tersenyum. “Sayangnya karena kami terlalu shock dan juga tidak fokus karena terlalu ramai orang yang mengkerumuni, saya tidak bisa merekam hasil wawancara langsung bersama dengan Pak Sandiaga. Ini adalah duka saya ketika proses peliputan dan juga menjadi bahan pembelajaran saya di peliputan yang akan datang,” jelasnya.

Kisah-kisah seru juga disampaikan anggota lain kelompok ini, seperti Daffa, Catur, Mario, dan Ruth.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *