PTC Reporter dan Narator sebagai Kekuatan Paket Berita

Pesan untuk kelompok ini, banyaklah latihan untuk menjadi reporter on-cam dan pembaca narasi paket berita (dubber/pengisi VO paket). Pengisi suara paket tidak harus orang yang sama dengan stand-uppernya.

Eki Bayu, Bariq Iqbal, Emanuel Yose, Leo Agung, dan Reynaldo Casenda dari kelas Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara meliput latihan Tim Nasional U-22 sebagai prasyarat tugas Ujian Tengah Semester.

Catatan penting untuk tim mereka. Pertama, marilah kita berikan dulu aplaus dan tepuk tangan untuk rasa percaya diri tinggi bagi Yose yang tampil sebagai reporter on-cam, sekaligus pengisi suara dalam paket berita ini. Satu lagi, paket mereka jadi lebih ‘mewah’ karena adanya OBB (Opening Bumper Break) yang memikat.

Di luar rasa percaya diri itu, masukannya adalah banyaklah belajar, banyaklah latihan. Sebagai standupper yang tampil membawakan PTC, latihlah agar dirimu tak terpatah-patah. Boleh saja menyiapkan outline atau pointers untuk dibaca, tapi tak perlulah di era seperti ini membawa kertas berlembar-lembar yang tentu saja akan ‘merusak pemandangan’ di layar. Outline atau pointers untuk dibawakan dalam in frame camera tentu saja bukanlah sebuah hapalan.

Berikutnya, terkait narasi paket berita. Pembawa narasi (dubber) tak harus reporter yang on-cam. Boleh saja diisi orang lain, asal dalam gender yang sama. Jika reporter PTC nya cowok, naratornya harus cowok pula, tapi tak harus orang yang sama. Jadi, Yose tak perlu memaksakan diri kerja rangkap. Cari yang suaranya lebih keren, empuk, renyah, tapi juga tegas.

Ada nama George Irvan, narrator pembaca Editorial Media Indonesia di Metro TV, bisa jadi panutan. Suaranya keras, tapi tak kaku. Kadang bahkan terkesan ‘nyleneh’ dan jenaka. Vokal suara baritonnya kini dianggap ciri khas program yang kritis dan menyorot situasi politik terkini dalam bingkai suara redaksi itu.

Hilangkan Rasa Malu

Mewakili kawan-kawannya, Eki Bayu sebagai juru kamera menyatakan, mereka harus menaklukkan rasa malu untuk menyelesaikan paket berita ini.

“Ada rasa malu pada saat ingin bertanya saat press conference, terutama karena berdampingan dengan media-media profesional,” kenangnya. Solusi yang mereka miliki, yakni jangan malu untuk bertanya kepada pihak media yang lebih besar karena mereka tentu memiliki pengalaman lebih banyak.

Pendapat serupa disuarakan Bariq Iqbal. “Saya mendapatkan pengalaman baru yakni berbaur dengan wartawan media lain, dan bisa sharing informasi serta mendapatkan info-info penting yang sebelumnya tidak kita ketahui,” paparnya.

Nah, belajar langsung dari pengalaman, itu yang penting!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *