Personalisasi Penonton Timnas, dari Topik Besar pada Human Sample

Sebuah paket jurnalisme televisi memang baiknya fokus mengambil satu contoh figure sebagai personalisasi atau human sample. Liputan timnas dengan angle ‘penonton niat’ ini misalnya.

Mereka datang ke lapangan latihan timnas di Sekolah Pelita Harapan Karawaci tentu dengan berbagai mozaik alias puzzle ide yang bisa dikembangkan. Namun, Aleksandra Ekhe, Tesalonika Dara, David Yezreel, Misha Alya, dan Stefanus Putra mengambil angle spesifik untuk karya Ujian Tengah Semester kelompok mereka di mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara ini.

Dari gambaran besar tentang antusiasme suporter timnas, tim ini mengambul personalisasi alias human sample sosok Muhammad Rizki, remaja tanggung yang tampak ‘niat’ menonton idolanya berlatih.

Rizki mengenakan jersey timnas yang tak terbilang murah, dengan penampilan rapi, mengesankan ia bukan suporter dari kalangan ‘pinggir jalan’. Kelebihan lain, Rizki diminta mengenalkan dirinya dalam gaya bicara bertutur atau biasa disebut ‘verite’. PTC Sandra pun keren, apalagi terlihat gaya pengambilan pada Sandra tak bersumber dari satu kamera, dipadu dengan pasca produksi (editing) yang cukup cermat.

Kalaupun ada kelemahan dari paket berdurasi 2 menit 44 detik ini tinggal menambahkan footage seperlunya. Bagus sudah ada insert foto Rizki dengan pemain serta Luis Milla, yang menggambarkan perjuangannya untuk dekat dengan para idola. Namun, mestinya gambar-gambar itu bisa tampil lebih kaya. Misalnya saat Rizki menyebut idolanya Evan Dimas, maka ada insert footage terkait pemain pujaannya.

Pun pemirsa kurang jelas untuk dieksplorasi ‘pengorbanan’ Rizki. Di mana rumahnya, berapa jauh dari lokasi, lalu bagaimana transportasinya menuju lapangan latihan timnas. Bisa juga dilengkapi dengan footage Rizki yang lebih atraktif, dari bersorak, bertemu pemain dan pelatih, hingga bagaimana ia meninggalkan Karawaci menuju rumahnya.

Perlengkapan lengkap

Tim ini membawa alat kerja cukup komplet. Canon 5D mark 2 dan Canon EOS 70D, dan Leica Dlux menjadi senjata utama, dilengkapi Lensa 24-70F2.8,70-200F2.8, serta18-135mm. Pas untuk merekam gambar dengan obyek jauh.

‘Printilan’ pendukung pun tersedia dalam ‘tas perang’ mereka: dari earphone hingga tripod dan monopod. Sebagaimana tampak dalam proses produksi, mengenakan clip-on pada narasumber menjadi kelebihan kelompok ini dalam mengejar kualitas audio.

“Kendalanya sejauh ini adalah kurangnya footage penonton, susah mengumpulkan satu tim untuk liputan, serta bagaimana berdikusi mencari satu konsep yang unik dan beda dari yang lain tapi tetap sesuai fakta,” kisah Sandra, produser merangkap reporter.

“Solusinya adalah sering-sering lihat keadaan sekitar, bagi waktu yang baik, dan kerjasama dengan baik,” kata Dara, penulis naskah sekaligus pengisi voice over.

Good job, team!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *