Membuat Liputan Televisi yang tidak ‘STD BGT’

Angle yang diambil masih terlalu umum. Juga perlu polesan di aspek lain, misalnya membuat PTC yang menarik, serta menyesuaikan visual di ‘frame’ sesuai dengan narasi yang dibacakan.

Sebagaimana kawan-kawannya di kelas Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara, Leonardo Budi Bagas, Alifia Nur Utami, Ariefiani Harahap, Annisa Maulida, Saskia Anindya mungkin baru kali pertama terjun liputan dalam even yang juga menjadi buruan wartawan media mainstream. Untuk ukuran mahasiswa semester empat, mengasah keberanian dalam peristiwa yang menjadi sorotan seperti ini tentu sudah patut diacungi jempol.

Maka, jika ada sorotan atas kekurangan mereka, tentu sah-sah saja. Apalagi ini termasuk mata kuliah ‘basic’ dalam jurnalisme televisi. Kritik masukan diharap membuat mahasiswa terpacu menghasilkan karya lebih baik, yang tidak ‘standar banget’. Dalam jangka pendek, pertarungan terdekat memoles karya ada pada project Ujian Akhir Semester.

Untuk PTC, Ariefiani terlihat percaya diri. Tinggal dipermak saja sisi-sisi minornya. Misalnya, pasang wajah jangan terlalu mendongak. Tentu ini butuh masukan detail dari kawan di bagian kamera maupun fied producernya. Jam terbang yang lebih banyak akan membuatmu lebih luwes di depan kamera.

Dari sisi pasca produksi, sebaiknya pada PTC sepanjang itu (sekitar 50 detik ya, kalau kita lihat time codenya dari 00.20 sampai 01.10) diselipkan footage suasana latihan sebagai insert. Apalagi, latar visual saat Ariefiani ‘take PTC’ pun relatif sudah sepi, tanpa ada aktivitas yang ‘hidup’.

Sisi lain tentu angle. Baiknya lebih fokus apa sudut pandang yang diangkat, kemudian sesuaikan visual yang tampil sesuai narasi yang diucapkan. Jangan terlalu umum, jangan terlalu standar, mencobalah berpikir ‘out of the box’.

Catatan peliput

Kelompok ini melakukan liputan selama dua hari, pada 1 dan 2 Maret. Jujur mereka mengaku masih sulit menentukan angle berita, sehingga kami mengambil angle yang umum. “Kami juga masih awam di dunia olahraga, sehingga walaupun sudah mencoba membaca berita-berita terkini, belum menangkap gambaran penuh mengenai sepak bola Indonesia,” ungkap Alifia.

Mereka pun mengaku, ada kendala teknis sehingga stok footage yang dimiliki amat terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *