Suatu Sore di Kalijodo

Kalau Anda bekerja di sebuah tempat, kemudian pindah kerja dari tempat kerja itu, orang akan bertanya: apa yang pernah Anda wariskan di tempat kerja lama itu? Legacy apa yang Anda tinggalkan? Karya apa yang pernah Anda buat dan jadi legend atau pembicaraan di situ?

Saya termasuk orang yang punya ‘habit’ pindah-pindah kerja selama belasan tahun terakhir. Saat wawancara kerja di tempat baru, selalu ditanya, “Apa yang sudah kamu buat di Radio Sonora Surabaya? Tempo? Di CVC? Di KompasTV? Di CNN Indonesia TV? Dan seterusnya…” Kadang saya bisa menjawab dengan berbangga, kadang enggak…

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Kalijodo memang masih banyak kekurangan. Harian Kompas pagi ini menyorot soal ruwetnya parkir liar di sana. Tapi, setidaknya itulah legacy dari seorang Basuki Tjahaja Purnama. Saya mendengar nama Kalijodo pertama sejak nonton film ‘Ca Bau Kan’ (2004) karya, sebuah lokasi prostitusi sejak era kolonialisme.

Menurut IDN Times, asal mula Kalijodo sebenarnya merupakan tempat persinggahan etnis Tionghoa yang mencari gundik atau selir. Masyarakat berlatar belakang etnis Tionghoa ini adalah orang-orang yang melarikan diri dari Manchuria. Wilayah yang dulunya terletak di dekat perbatasan Korea Utara dan Rusia ini sedang mengalami perang. Saat melarikan diri ke Batavia, mereka tidak membawa istri, sehingga mereka pun akhirnya mencari gundik atau pengganti istri di Batavia. Dalam proses pencarian gundik, mereka kerap kali bertemu di kawasan bantaran sungai. Lalu tempat yang dijadikan dianggap menjadi pertemuan pencarian jodoh dinamakan Kalijodo. Dalam bahasa Jawa artinya ‘Sungai Bertemunya Jodoh’.

Tentu tak mudah bagi Gubernur Basuki dan jajarannya membersihkan Kalijodo dari 450-an PSK yang puncak penertibannya dilakukan 29 Februari 2016 lalu. Tapi, itulah warisan yang ditinggalkan. Tempat bermain skateboard, mainan komidi putar dan istana balon buat anak-anak level menengah ke bawah, PKL murah meriah, tolet yang  ‘not too bad’ dan tempat nongkrong di rerumputan nan asyik berlatar tulisan mural ‘Berkenalan di Kalijodo, Kali Aje Jodoh…’

Omong-omong, sudahkah Anda membuat sebuah karya yang akan diingat sebagai legacy di tempat Anda berkarya saat ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *