Optimalkan Aset Digital sebagai Kekuatan ‘Perang’ Informasi

LOMBOK BARAT – Kementerian dan Lembaga harus mengoptimalkan aset digital, terutama portal dan media sosial, sebagai ‘amunisi utama’ di era perang informasi seperti saat ini. Penggunaan aset digital yang tepat sasaran sangat membantu membuat masyarakat paham apa yang sudah, sedang, dan akan dikerjakan pemerintahan Presiden Jokowi untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

Penegasan itu disampaikan Tenaga Ahli Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Agustinus ‘Jojo’ Rahardjo dalam konsinyering dan peningkatan kompetensi jurnalistik bagi pengelola portal Bekraf.go.id di Senggigi, Lombok Barat, Rabu hingga Jum’at, 26-28 April 2017.

“Sebagai lembaga yang baru dibentuk atas concern tinggi Presiden Jokowi pada kemajuan industri kreatif di Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif harus tancap gas menyebarkan informasi program-programnya melalui aset digital yang dimiliki,” kata Jojo, dalam acara yang diikuti pengelola portal Bekraf dari masing-masing kedeputian dan sekretariat utama itu.

Jojo Raharjo juga memberi contoh kasus bagaimana pemerintah harus responsif dalam menghadapi krisis komunikasi, serta mendiseminasikan penjelasannya secara tepat ke publik. “Pahami ‘problem statement’, solusi, dan buat kontranarasinya dengan benar. Jangan ragu libatkan pakar dan kementerian atau lembaga terkait lainnya,” paparnya.

TIPS MEDIA ONLINE

Pembicara lain dalam acara ini yakni Harun Mahbub Billah, Redaktur Pelaksana Liputan6.com, serta Agus Budiawan, redaktur foto Infopublik.id dan Hermanus Prihatna, jurnalis foto senior LKBN Antara.

Sebagai pengasuh media online, Harun berbagi tips bagaimana membuat judul maupun konten berita yang memancing penasaran pembaca untuk meng-‘klik’ dan membaca tuntas berita itu, tanpa mengabaikan kualitas dan etika jurnalistik. “Pakai judul yang mengandung ‘magic number’, susunan kata berima, atau kisah drama seperti success story pimpinan lembaga,” ujarnya.

Secara pembangunan strategi komunikasi kelembagaan, Harun menekankan pentingnya aksi nyata berjalan seiring dengan komunikasi publik. “Sebuah lembaga yang aksinya keren tapi tak dikomunikasikan dengan baik pada masyarakat, ibarat orang yang berjalan di kesunyian. Sebaliknya, kalau komunikasinya bagus tapi aksinya ternyata kosong namanya pencitraan,” terangnya.

Ibarat ‘bayi lucu’ baru lahir dan kini tengah bertumbuh, Bekraf diiharapkan seimbang dalam aksi dan komunikasi, sehingga membentuk reputasi dan branding yang ekselen.

Dari sisi pembekalan visual, Agus Budiawan menyatakan, secara teknis ada tiga kriteria sebuah foto dapat dikategorikan bagus. “Gambarnya harus fokus dan tajam, komposisinya tepat, serta anglenya menarik,” urainya.

Sedangkan secara kreatif, ada dua hal yang menjadikan sebuah foto jadi dilihat pembaca. “Bisa karena ia membuat karya yang belum pernah dibuat oleh fotografer lain. Atau memotret obyek yang sangat umum, dengan cara berbeda,” ungkapnya.

Kepala Biro Hukum Badan Ekonomi Kreatif Mariaman Purba dan Kepala Bagian Komunikasi Publik Bekraf Putut Satyo Baruno berharap sinergi seperti ini dapat terus berjalan. “Dengan peningkatan kapasitas ini, kami ingin Portal Bekraf dapat menunjukkan informasi secara real time jika dibandingkan dengan menggunakan media lainnya. Selain itu, pengemasan kontennya pun bisa lebih menarik,” kata Putut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *