Tesla, Generasi Millenial, dan Rebut Momen Ospek!

Saya catat, sedikitnya lima kali Presiden Jokowi berbicara tentang kemajuan teknologi dunia dibandingkan dengan hiruk-pikuk politik dalam negeri yang seolah seperti olahraga jalan di tempat atau lari-lari di treadmill. Capek tapi sesungguhnya tidak ke mana-mana.

Saat menyandingkan contoh-contoh itu, gaya bicaranya sudah bak motivator ternama, berbicara tanpa banyak teori, tapi langsung memakai contoh nyata kekinian.

Menurut Presiden Jokowi, negara lain saat ini sudah berbicara soal pemanfaatan luar angkasa untuk manusia. Tapi Indonesia masih berkutat dengan persoalan unjuk rasa dan berita bohong alias hoax.

“Saya ingatkan Bapak-Ibu semuanya. Kita lihat, bicara masalah Tesla Mobile, gagasan hyperloop, SpaceX, bagaimana mengelola luar angkasa agar berguna bagi manusia. Kita masih berkutat untuk hal yang tidak produktif. Urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat-menghujat yang selalu mengembangkan negative thinkingSuudzon terhadap yang lain. Fitnah, kabar bohong. Apakah ini mau diteruskan?” ungkap Presiden Jokowi saat meresmikan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara, Mei lalu.

Pernyataan serupa -menyebut Elon Musk dengan Tesla, SpaceX, Hyperloop dan Jack Ma dengan Alibabanya- juga disampaikan pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2017 di Bidakara, penerimaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2016 di Istana Bogor, Rakor Maritim 2017 di Taman Mini dan kunjungan ke Bursa Efek Indonesia pasca libur Lebaran. Masih belum terhitung berbicara topik dan contoh serupa dalam berbagai kesempatan bertemu warga dan bagi-bagi sepeda di berbagai daerah.

Tentu bukan tanpa sadar, Presiden Jokowi berbicara contoh-contoh itu. Dunia telah bergerak maju, tapi Indonesia masih berkutat pada urusan-urusan ‘tak mutu’. Satu keputusan tegas dikeluarkan pemerintah –contoh terbaru terkait Perppu Ormas- polemik muncul dan jadi menguras energi dalam perdebatan tanpa henti. Padahal, musuh sesungguhnya sudah mengancam, serta ketertinggalan dari negara lain harus dikejar dengan cepat.

Beruntung kita punya anak muda yang tak bisa diremehkan. Generasi millenial ini -yang istilahnya diciptakan duo penulis Amerika William Strauss dan Neil Howe dan secara harafiah berarti mereka yang lahir di antara tahun 1980 hingga 2000- punya semangat kerja tinggi, serta inovasi dan daya kreasi luar biasa. Ada juga kelemahannya memang. Mereka ini tak bisa loyal terhadap institusi, dan gemar melompat-lompat perusahaan atau menjadi wirausaha yang dianggap sesuai dengan passion-nya.

Tapi, generasi yang menggabungkan kreativitas tanpa batas, berpikir ‘out of the box’ dengan penguasaan teknologi informasi terkini serta sinergi dunia ‘fin-tech’ inilah yang menghasilkan pasar baru secara luar biasa. Anak-anak muda yang kemudian menjadi sandaran mencari nafkah ratusan ribu sopir ojek online, lapak online, pekerja di sektor penginapan dan angkutan udara, serta berbagai bidang lain yang diuntungkan temuan baru mereka.

Hari-hari ini kita disibukkan dengan masa penerimaan mahasiswa baru dalam tahun ajaran 2017/2018. Seiring hari-hari perdana mahasiswa anyar, kampus membuat event-event yang dulu dikenal sebagai ospek (Orientasi siswa dan pengenalan kampus) dan kini lestari dengan berbagai varian nama pekan pertama anak didik mengawali status barunya sebagai mahasiswa.

Dengan berbagai ‘ancaman’ yang terus tereskalasi akhir-akhir ini –radikalisme, terorisme, rendahnya literasi digital dan lain-lain- sudah sepatutnya Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Dikbud, Kementerian Ristek Dikti, Kantor Staf Presiden, Unit Kerja Pembinaan Ideologi Pancasila, dan juga organisasi kepemudaan seperti GMKI bahu-membahu bertekad merebut momen ini.

Minggu-minggu emas bagi mahasiswa baru harus direbut. Alih-alih mereka ditarik oleh kelompok garis keras yang menyamar dalam bentuk pemahaman beragama secara damai, mereka harus diajak masuk dalam forum pelatihan, diskusi, dan sharing secara positif. Tema-tema cinta tanah air, literasi internet anti hoaks, memahami Pancasila secara kekinian, sampai pengembangan wirausaha dan berpikir kreatif harus mengisi ruang-ruang kosong di minggu emas itu.

Jika ruang-ruang itu bisa kita rebut dan membuat generasi millenial menikmati forum secara nyaman tanpa merasa digurui, kita tak perlu menunggu lama sampai Presiden kembali berpidato layaknya motivator papan atas.

Niscaya, pada pidatonya nanti, Presiden tak lagi menyebut nama Elon Musk, Jack Ma, Mark Zuckerberg, Larry Page, Sergey Brin, tapi sudah ada begitu banyak nama-nama baru pelapis generasi Nadiem Makarim, Achmad Zaky, William Tanuwijaya, Nilam Sari, Riezka Rahmatiana dan lain-lain. Atau juga nama-nama tokoh-tokoh muda harapan bangsa baru dari rahim GMKI.

Generasi muda yang penuh inspirasi dan tidak hanya berkutat dengan isu-isu kosong, tapi tidak ke mana-mana.

Agustinus ‘Jojo’ Raharjo

Penulis adalah Tenaga Ahli Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi di Kantor Staf Presiden

*) sebagaimana tayang di http://gmki.or.id/thema/lihatDetailOpini.php?id=10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *