Imunisasi, Kenapa Takut?

 “Satu kali saja, satu kali saja…” Itu rengekan anak bungsu saya di lantai dua sekolahnya kemarin. Ia meronta-ronta menolak saat jarum suntik Imunisasi MR siap diarahkan ke lengan kirinya.

“Pokoknya kalau sakit, adik cubit saya,” kata seorang perawat dari Puskesmas kawasan Tangerang yang mencoba menenangkannya.

Saya beruntung. Di tengah padatnya kerjaan, kemarin pagi bisa menemani puteri saya menghadapi ‘eksekusi’ imunisasi MR, yang sudah dibayangkannya sejak beberapa pekan silam, dan kami perbincangkan di malam sebelum tidur pada Kamis malamnya.

Sebelum pelaksanaan hari H pemberian suntikan imunisasi, pihak sekolah juga memberikan presentasi secara memadai dengan dihadiri petugas dari Puskesmas terdekat. Saya bersyukur juga bisa hadir di sosialisasi itu. Bergabung dengan orangtua siswa playgroup dan TK yang kebanyakan Mamud Abas, Mama Muda Anak Baru Satu, hehehe…

Agustus 2017 menjadi bulan pertama dilaksanakannya program Imunisasi MR oleh pemerintah secara GRATIS di seluruh Posyandu, Puskesmas, RS Pemerintah dan Sekolah Dasar.

Meski gratis dan penuh sosialisasi –menurut saya sih kampanye di tv masih kurang ya- pemberian vaksin MR masih juga ada yang menentang. Dibilang haramlah, mengandung ini itulah, atau berdampak kurang baik. Semua anggapan itu harus dihadapi dengan kontranarasi yang bijak.

Vaksin MR merupakan adalah kombinasi vaksin Campak/Measles (M) dan Rubella (R) untuk perlindungan terhadap kedua penyakit tersebut. Campak dan rubella merupakan jenis penyakit yang tidak dapat diobati (virus penyebab penyakit tidak dapat dibunuh), maka Imunisasi MR ini adalah pencegahan terbaik bagi keduanya.

Vaksin yang digunakan pada program imunisasi dari pemerintah ini telah mendapatkan rekomendasi dari WHO dan izin edar dari Badan POM. Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

Imunisasi ini diberikan untuk semua anak (laki-laki dan perempuan) usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun. Program ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2017 (untuk pulau Jawa) dan Agustus-September 2018 (untuk luar pulau Jawa).

Selanjutnya, Imunisasi MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD atau sederajat, menggantikan Imunisasi Campak.

Pernyataan bahwa efek samping Imunisasi MR bisa berbahaya, termasuk menyebabkan autisme secara tegas tidak dibenarkan oleh Kemenkes, karena hingga saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan autisme. Sedangkan demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Bila reaksi terjadi reaksi yang sangat serius, segera hubungi dokter untuk penanganan yang tepat, meski efek ini amat jarang terjadi.

Dan saat tulisan ini saya buat, 24 jam setelah suntikan itu, puteri kecil saya sedang berlari-lari dengan riangnya di halaman rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *