Lagi, Langkah Kuda Politik Jokowi

Terkait pro kontra perlu tidaknya Film G 30 S/PKI diputar secara massal di era 2017 ini -dua puluh tahun setelah reformasi ini- pernah saya tuangkan dalam tulisan ringan di UC Web berjudul ‘Pro Kontra Film PKI’.

Menarik menyaksikan silang kata mereka yang menamakan diri pengamat politik mengomentari film propaganda kontraversial Orde Baru garapan Arifin C. Noer yang muaranya berawal dari pernyataan tiga tokoh. Gatot, Tjahjo, dan Jokowi.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginstruksikan nobar film ‘Pengkhianatan G 30 S/PKI’ di markas-markas tentara se-Indonesia. Di makam Bung Karno di Blitar, ia berteriak, “Emang gue pikirin.. Hanya pemerintah yang bisa larang saya.. di makam ini Bung Karno bilang ‘Jangan Melupakan Sejarah'”.

Adapun Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo tidak melarang maupun mengendorse film yan durasinya hingga 3,5 jam itu. “Kalau saya silakan saja diputar di TV, namanya sejarah agar masyarakat dan generasi muda mengetahui bahwa pernah ada gerakan kudeta,” kata Tjahjo sebagaimana dimuat Kumparan.

Sementara itu, di sela kunjungan kerja peresmian jembatan gantung di Magelang, Jawa Tengah, Presiden Jokowi memberikan pernyataan lebih spesifik: film itu perlu direvisi sesuai audiensi anak muda milenial.

“Ya menonton film apalagi mengenai sejarah itu penting. Tapi untuk anak-anak milenial yang sekarang tentu saja mestinya dibuatkan lagi film yang bisa masuk ke mereka. Biar mereka paham bahaya komunisme, biar tahu juga mengenai PKI,” ujar Presiden Jokowi di Jembatan Gantung Mangunsuko, Magelang, Jawa Tengah, Senin, 18 September 2017.

Presiden Jokowi berharap bahwa ke depannya, film-film serupa itu dihadirkan dalam bentuk kekinian agar dapat diterima oleh generasi-generasi muda. “Lebih baik kalau ada versi yang paling baru. Agar lebih kekinian, bisa masuk ke generasi-generasi milenial,” ucapnya.

Tidak menonjok. Tidak meng-‘endorse’.

Nah, apa yang terjadi saat ‘Hari H’ pemutaran film G 30 S/PKI itu? Jum’at malam 29 September 2017 menjelang 30 September yang dianggap sebagai Hari Pengkhianatan PKI?

Presiden Jokowi, yang seharian tak ada acara resmi kenegaraan, secara tidak terduga, malam itu bergabung dengan tentara nonton bareng film produksi 1994 dengan biaya Rp 800 juta itu.

Hujan deras yang mengguyur Kota Bogor pada Jumat semalam, tak menyurutkan langkah Presiden Joko Widodo untuk bergegas menuju Markas Korem 061 Suryakencana Bogor, Jawa Barat. Presiden menyambangi Korem 061 Suryakencana Bogor yang tengah menggelar nonton bareng film “Pengkhianatan G30S/PKI” di halaman tenis indoor bersama anggota TNI dan Polri serta masyarakat.

Presiden yang malam itu tampak mengenakan jaket merah dipadu celana hitam tiba di lokasi sekira pukul 20.00 WIB dan langsung menempati tempat yang berada persis di hadapan layar.

Lagi-lagi publik tercengang. Ini skenario orang lain, yang mencoba menghidupkan isu kebangkitan ‘G 30 S/PKI’ sebagai ‘mainan’ baru. Tapi, Presiden Jokowi justru mendatangi pusat isu itu. Dan, tanpa pernyataan pers apapun, duduk manis menyaksikan film yang pernah meraih Piala Citra 1985 untuk kategori Skenario Terbaik.

Sementara sang penabuh gendang awal, Panglima TNI Gatot Nurmantyo malam itu justru berada di Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, menyaksikan nonton bareng pagelaran ‘Wayang NKRI’ dalam rangka HUT ke-72 TNI.

Wayang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan kombinasi dari 11 wayang berbagai daerah seperti wayang Jamblung, wayang Beber, wayang Surakarta, wayang Cirebon, wayang Bali, dan wayang Yogyakarta. Selain itu ada juga unsur wayang golek Jawa Barat, wayang orang, wayang Palembang, wayang Jawa Timur, dan Punakawan Session. Malam itu, lakon yang dimainkan dalam pagelaran Wayang NKRI yaitu ‘Parikesit Jumeneng Nata’. Lakon ini bercerita tentang peperangan antara kebaikan diwakili oleh Parikesit melawan kejahatan yang diwakili oleh Astina.

Mendengar sang Panglima Tertinggi TNI ada di Bogor menonton film G 30 S/PKI yang marak didengungkannya, Gatot pun tergesa-gesa bergabung menyusul ke ‘Kota Hujan’.

Lagi, langkah kuda politik Jokowi menjadikan ‘permainan politik’ di Indonesia menjadi tidak monoton dan enak dinikmati….

sebagaimana ditayangkan di http://tz.ucweb.com/9_2K7xW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *