Ngopi, Budaya, dan Inovasi

Hidup harus dirayakan. Apapun itu. Maka, Minggu, 1 Oktober lalu, setelah berlelah-lelah dengan isu tahunan G 30 S/PKI yang diakhiri dengan upacara di Lubang Buaya, Jakarta Timur pada Minggu pagi, pada sore harinya, Presiden Jokowi mengundang para pegiat kopi.

Ngopi bareng di teras belakang Istana Bogor merayakan Hari Kopi Internasional. Banyak selebritas terkait kopi diundang dalam kongkow ini, acara yang sangat informal. Mulai arista, pengusaha kedai, pembuat mesin kopi, perwakilan petani kopi hingga selebritas macam pemain film ‘Filosofi Kopi’, Chicco Jerikho dan penulis ‘Filosofi Kopi’ Dewi Lestari.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi mengapresiasi sejumlah inovasi yang dikembangkan anak bangsa terkait kebiasaan minum kopi di Tanah Air. Jika dahulu minum kopi identik dengan rutinitas para orang tua, saat ini rutinitas ngopi sudah bergeser menjadi gaya hidup para kawula muda.

Menurut Presiden Jokowi, hal ini menjadi langkah positif tersendiri bagi perkembangan industri kopi nasional. Apalagi lima hingga sepuluh tahun yang akan datang perekonomian nasional akan banyak didominasi oleh generasi muda.

“Saya kira inovasi-inovasi seperti ini yang ke depan merupakan peluang besar kita,” kata Presiden Jokowi di hadapan sejumlah pelaku industri kopi Tanah Air.

Indonesia tercatat merupakan negara produsen kopi terbesar ke-4 di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Peringkat ini kemungkinan dapat menjadi semakin baik mengingat masih banyaknya lahan di Indonesia yang berpotensi untuk diberdayakan sebagai lahan penghasil kopi.

“Saya kira banyak daerah-daerah, baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, termasuk di Papua, memiliki kesempatan untuk membesarkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar di dunia karena memang lahannya ada,” ungkapnya.

Untuk mendukung momentum itu, Presiden berharap anak-anak muda Indonesia yang berkecimpung dalam industri ini untuk tak hanya berfokus pada proses tanam kopi semata. Proses-proses bisnis setelahnya harus mulai turut diperhatikan. Mulai dari proses pengemasan produk, pelatihan barista-barista berbakat, hingga proses penjualan melalui saluran daring. “Saya kira ini akan lebih gampang kita masuk dan bertarung di pasar dunia,” ucap Presiden.

Presiden Jokowi juga mengingatkan pentingnya para pelaku industri kopi Tanah Air untuk memperhatikan kesejahteraan para petani. Terkait hal ini, beberapa waktu belakangan Presiden mengajak para petani untuk dapat bekerja sama dan membangun sebuah kelompok besar yang pada akhirnya dapat menigkatkan efektivitas dan efisiensi mereka dalam berproduksi.

“Petani akan terangkat nilainya kalau proses bisnis itu betul-betul bisa kita kuasai,” tuturnya.

Tentu saja, pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan terus berupaya membantu mengembangkan industri kopi Tanah Air. Pemerintah utamanya dapat berperan dari segi kebijakan industri. “Ini kalau punya brand ya segera gitu (dieksekusi). Tidak punya modal? Beri tahu! Saya juga tidak punya, tapi bisa mencarikan gitu,” tambah Presiden.

Hidup harus dirayakan. Jangan terlalu serius. Kadangkala kita harus sejenak. Seruput, dua seruput kopi lah.. Presiden aja jeda untuk ngopi, masak kita tidak?

Sebagaimana ditayangkan di http://tz.ucweb.com/10_NCnl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *