Memotret MRT, Menyiasati Kendala Izin

Satu topik berbeda dibandingkan kelompok lain dalam pilihan topik liputan infrastruktur: progress MRT di Jakarta. Apa masukan membangun bagi kelompok ini?

Aras Jatiatmaja, Julius  Maringan, Lia  Hutasoit dan Fadhiil Djajasasmita memilih perkembangan proyek The Jakarta Mass Rapid Transit (MRT) sebagai tema liputan hard news dan live ‘Berita 12’ pada Ujian Tengah Semester mata kuliah Produksi Program Televisi Universitas Multimedia Nusantara.

Satu ‘koreksi’ bagi paket pengantar live liputan MRT yakni format berita yang disampaikan. Dengan diisi suara oleh anchor Lia, maka item pengantar live itu namanya ‘Voice Over’ bukan ‘Package’. Sebaiknya untuk paket suaranya diisi oleh yang berbeda, serta dibuat lebih komprehensif. Suara vox pop pun langsung aja disebutkan nama narasumber dan apa yang disampaikan, tak perlu diberi teks gede ‘Vox Pop’ di layar.

Live Fadhil dan ‘tek-tok’ dengan anchor Lia juga oke. Hanya saja, sebaiknya Lia tak perlu menyebut namanya dengan kata ‘Saudara’. Harusnya langsung saja sapa nama Fadhil. Adapun Fadhil, mestinya tak perlu lama-lama memegang earphone di telinganya, yang menandakan ia perlu mempertajam pendengaran atas apa yang disampaikan presenter di studio.

The rest is okay. Data yang disampaikan soal perkembangan proyek cukup memadai. Good research. Demikian pula footage pendukung yang disertakan di sela-sela laporan Fadhil.

Di paket feature, duet Aras kompak bersama Tobias menjelajah Pasar Lama Tangerang. Masukan ada pada suara musik latar yang terlalu kencang dan menutup perbincangan atau laporan kedua sahabat ini. Martabak, Roti Cane, dan Lekker pun seharusnya bisa dieksplorasi lebih dalam lagi.

Mengatasi rumitnya perizinan

Aras dan Julius sebagai campers hard news memaparkan, pada dasarnya semua berjalan lancar, hanya saja saat liputan MRT, mereka dibuat harus berani memutar otak karena masalah perizinan. “Dari yang awal ke Senayan sampai akhirnya harus pindah ke HI. Selain itu ekspektasi awalnya kami berpikir bisa masuk ternyata tidak, karena untuk masuk harus ada perizinan yg cukup rumit dan lama,” ungkapnya. Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk mengambil footage dari Jembatan Penyeberangan Orang Hotel Indonesia yang notabenenya high angle.

Lia yang bertugas sebagai produser dan meng-handle kamera di Pasar Lama Tangerang menuturkan pengalaman-pengalaman barunya. “Kita itantang untuk berani memulai percakapan jika ingin mengambil gambar, bjuga agaimana supaya sang pedagang mau di-shoot untuk kebutuhan gambar,” urainya.

Fadhil sang reporter live di lokasi pembangunan MRT menyatakan, ia perlu berkali-kali take, karena sulit berkonsentrasi, adanya gangguan di background dan salah menyebutkan istilah. “Alhasil, kita menyelesaikan tugas pada pukul 5 sore kurang,” kenangnya.

Begitupula disampaikan Tobias, yang bertugas mengambil footage hard news MRT. Ketidakpahaman tentang MRT menjadi kendala bagi kelompok ini. Rencana awal kelompok adalah ingin mengajukan surat izin liputan pada kantor MRT yang berada di Senayan dan berharap dapat masuk ke dalam proyek MRT yang berada di bawah tanah. “Tetapi kenyataan berkata lain kantor MRT Senayan yang kami datangi tidak mengizinkan kami untuk memasuki proyek dengan alasan alamat surat izin peliputan mencantumkan alamat kantor yang salah. Selain itu kami diminta untuk meminta izin pada kantor pusat yang berlokasi di dekat Bunderan HI,” paparnya.

Tobias bercerita, mengingat ia pernah berjalan di jembatan penyeberangan orang di Bunderan HI, ia langsung mengingat bahwa kita dapat melihat jelas apa yang ada di balik pagar proyek MRT Stasiun Bunderan HI. Ia pun langsung mengusulkan ke kelompok bahwa kita harus pergi ke Bunderan HI. Peliputan pun dilanjutkan ke Bunderan HI. “Pengambilan footage dari atas jembatan penyebrangan orang berjalan dengan lancar tanpa hambatan, hanya varian angle saja yang terbatas mengingat pengambilan gambar diambil dari atas jembatan penyebrangan orang,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *