Gambar yang Kaya Jadi Kunci

Dalam jurnalistik televisi, visual yang beragam menjadi syarat utama. Liputan progres Stadion Utama Gelora Bung Karno jelang Asian Games 2018 dan profil Perpustakaan Nasional ini menunjukkan pentingnya memiliki stok footage yang kaya.

Aleksandra Nugroho, Rizky Bagus, Tesalonika Dara, Mardinal Afif, Dimas Rangga, dan Reza Pahlavi mengerjakan serius liputan ‘Kabar Terkini’ dalam tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Produksi Program Televisi Universitas Multimedia Nusantara 2017/2018.

Untuk paket hard news dan live nya, mereka menjelajah Gelora Bung Karno, yang akan menjadi venue pembukaan Asian Games 2018 pada 18-8-2018 mendatang.

Gambar yang ditampilkan jernih, penampilan Chargen menawan, serta pembukaan oleh duo anchor pun menarik. Sayang, keanggunan menit-menit awal permainan mereka ‘ternodai’ blunder kecil, yakni masalah penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dalam Chargen, ditulis ‘Ada 14 Venue yang Di Renovasi’. Secara penulisan Bahasa Indonesia, seharusnya penggunaan ‘di’ sebagai pembentuk kata kerja seharusnya disambung, sedangkan ‘di’ sebagai awalan, yang menunjukkan posisinya sebagai preposisi kata tempat baru dipisah.

Ini hal sekilas sepele, namun penting, karena publik kerap menilai media massa sebagai acuan bukan hanya dalam konten beritanya, tapi juga bagaimana penggunaan bahasa yang ditampilkannya. Apa yang tampil di media, seolah itulah yang dianggap benar.

Masih terkait paket pengantar live, acungan jempol patut diberikan karena footage yang kaya, dan secara etis pun tim ini menyebut sumber saat menyuplik gambar atas GBK diambil dari youtube. Penampilan Rizky ‘Sugab’ pun oke, ditunjang dengan pasca produksi yang ciamik menempelkan insert visual sesuai dengan kalimat yang disampaikan reporter.

Masuk ke feature, Aleksandra membawakan dengan percaya diri kisah gedung Perpustakaan Nasional di kawasan Medan Merdeka Selatan yang merupakan gedung tertinggi di dunia untuk bangunan perpustakaan dengan 27 lantai.

Proses bagaimana mendapatkan kartu anggota ditunjukkannya dengan rapi. Disertai pula dengan visual yang kaya mulai cara mendaftar online, mendapat struk antrian sampai gambar-gambar ‘nakal’ pendaftar yang ketiduran maupun pasangan yang jenuh menunggu.

Ada koreksi kecil sih, karena di Chargen paket ini, Aleksandra ditulis sebagai ‘presenter’ yang mana seharusnya sebagai ‘reporter’.

Soliditas tim kuat

Aleksandra yang mengusulkan topik profil Perpustakaan Nasional untuk Soft News menceritakan prosesnya. “Awalnya kami ingin mengambil topik latte art atau kantor pos Indonesia, hanya saja waktunya kurang tepat dan tidak ada hal-hal yang mendukung untuk mempermudah liputan,” kenangnya.

Di sini mereka sukses ‘menaklukkan birokrasi’ karena mengambil gambar dengan leluasa setelah sempat dihambat masalah kurang lengkapnya surat perizinan.

“Bersama Afif, saya terus merayu satpam untuk mengizinkan, maka dengan pengawalan dan perintah lewat HT satpam tersebut, kami melakukan liputan di bawah lindungan satpam,” papar Sandra, yang gembira mendapat ‘bonus’ berupa kartu keanggotaan perpustakaan.

Juru kamera Mardinal Afif menggarisbawahi pentingnya kerjasama dalam kelompok. “Kerjasama yang dibangun dalam tim sangat luar biasa yang diketuai oleh Rizky Bagus Dharmawan bersama Asistennya Alexandra Ekhe Sandra,” tegasnya.

Totalitas juga ditunjukkan Rizky Bagus yang meliput di GBK dalam kondisi hujan. “Basah, Kering, Basah hingga Kering lagi! Kalimat itulah yang cocok menggambarkan tugas liputan Produksi TV mengambil topik proyek pembangunan kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, guna persiapan Asian Games 2018 mendatang,” kenangnya.

Rizky ‘Sugab’ dan Reza menjelaskan, ada rasa bangga bisa menjadi salah satu saksi pembangun bersejarah bagi masyarakat Indonesia khususnya insan pencinta olahraga Indonesia. “Jangan menunda pekerjaan, itulah pesan moral dalam proses liputan ini,” kata campers Reza.

Kuatnya soliditas tim juga diaminkan duo anchor Dimas Rangga dan Dara Ivory. “Teman teman amat kooperatif dan bersemangat dalam mengerjakan tugas. Kami bekerja mandiri serta tidak mengedepankan perasaan saat ada kesulitan. Hal ini membuat suasana menjadi kondusif,” kisahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *