Presiden Jokowi dan Filosofi Aksara Jawa

Baru sempat nonton Vlog terbaru Presiden Jokowi yang diambil di Pantai Mandalika, Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Bukan videonya tentang keindahan alamnya yang keren (itu mah, sudah pasti. Saya sudah pernah ke Lombok Tengah, Senggigi sampai Mangsit).

Tapi, sisi politik dari video itu.

Lihatlah Presiden Jokowi ini, betapa semua orang dijangkau. Semua diajak teman. Semua diberi ruang. Semua dibuat respek. Satu musuh terlalu banyak. Seribu kawan masih saja kurang.

Di Jawa Timur, beliau oke dengan Gus Ipul yang disorongkan partainya, PDI Perjuangan. Dengan Khofifah, yang pernah membantunya jadi juru bicara dan penghubung ke kiai pada Pilpres 2014 dan sampai kini jadi Menteri Sosial, tentu juga oke.

Di Jawa Barat, suatu saat Pakde (panggilan akrab Presiden Jokowi) ‘kencan’ bareng Ridwan Kamil menelusuri Teras Cihampelas. Itu terjadi pada April lalu. Tapi, pada April yang sama pula, usai peringatan Isra Miraj di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Purwakarta, Presiden Jokowi menikmati Air Mancur Menari Sri Baduga bersama Bupati Dedi Mulyadi.

Di kali lain, pada kunjungan kerja di Tasikmalaya dua bulan kemudian, Presiden Jokowi malah cengangas-cengenges dengan kandidat Gubernur Jabar lain: Deddy Mizwar.

Saat itu, Presiden Jokowi punya tawaran menarik untuk Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. Jokowi akan mencarikan Deddy partai pengusung untuk Pilkada 2018. “Sudah ada partai belum?” tanya Jokowi di Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya.

Ketika Deddy menjawab belum ada komitmen dari partai dan baru sebatas komunikasi, Jokowi dengan sigap menjawab, “Mau saya carikan gak? “

Pertanyaan Jokowi dijawab balik oleh sang ‘Naga Bonar’, “Terserah Bapak.. ha…ha…ha … Saya kan berkomunikasi dengan siapa saja.”

Kali ini, Din Syamsuddin yang penuh pro kontra rekam jejaknya itu pun mendapat jabatan khusus sebagai Utusan Khusus masalah agama dan peradaban.

Sumber: Youtube Presiden Joko Widodo

Nah, Vlog tadi mengejutkan lagi. Apalagi settingnya di Nusa Tenggara Barat, sebuah wilayah yang perolehan suaranya pada pemilihan presiden 2014 lalu menghasilkan perolehan terendah kedua (setelah Sumatera Barat): 27,55% untuk JKW-JK dan 72,45% untuk Prabowo-Hatta.

NTB punya gubernur termuda di Indonesia pemegang dua kali masa jabatan: Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB). Tokoh yang konon juga sibuk mempersiapkan karir politiknya di tingkat nasional, semisal menjadi cawapres penantang Jokowi.

Tuan gubernur yang kisah ‘heroik’-nya di Bandara Changi Singapura pada detik-detik akhir jelang pemilihan Gubernur DKI putaran kedua berkontribusi besar menjeblokkan suara Ahok.

Zainul Majdi yang ikut turun ke jalan ibukota pada Aksi Bela Umat 4 November 2016.

Di Vlog Mandalika ini, sang Gubernur NTB malah diajak vlog. Dengan tersenyum.

Tiba-tiba teringat pada Jokowi yang orang Solo. Teringat pada filosofi aksara/huruf Jawa yang akhirannya ‘dipangku’ dan justru membuat suku kata Jawa itu jadi ‘mati’. Nah, ‘ajian dipangku mati’ ini diterapkan Presiden Jokowi persis seperti makna filosofi, bahwa “W ong jowo iku yen dipangku mati”, artinya “Orang itu kalo diagungkan, dihormati dan diagungkan maka akan memberi respek dan tidak banyak tingkah.”

Selamat terus bermain filosofis, Pak Jokowi. Pangkulah lawan-lawanmu dengan memberi mereka kehormatan yang membuatnya menjadi ‘salting’. Dan ‘convert’, dari mencela menjadi barisan pembela.

Sebagaimana ditayangkan di http://tz.ucweb.com/11_1xssi

One Reply to “Presiden Jokowi dan Filosofi Aksara Jawa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *