Menulis Zaman Now: Menginspirasi Lewat Media Sosial

KOLAKA – Kalau harus dapat menjawab pertanyaan dalam satu kali kesempatan, bisakah Anda menebaknya tepat: Pernahkah mendengar kata ‘Kolaka’?

Pertanyaan berikutnya, apa yang Anda bayangkan saat mendengarkan kata ‘Kolaka’?

Dan pertanyaan level tiga, jika Anda lulus menjawab pertanyaan level satu dan dua, maka berikutnya adalah: Jika Anda beranggapan bahwa Kolaka adalah nama sebuah tempat di Indonesia, di manakah tepatnya?

Rabu, 22 November 2017, tak sampai sepuluh jam saya berada di Kolaka, sebuah kabupaten di Sulawesi Tenggara. Datang pukul 9 pagi melalui penerbangan ATR 72-500 Wings Air yang membawa dari Bandara Sultan Hasanuddin, 50 menit kemudian pesawat buatan Perancis itu mendarat di Bandara Bandar Udara Sangia Nibandera, Kolaka.

O ya, Bandara Kolaka memiliki kode tiga huruf penerbangan PUM, karena sempat terletak di Pomalaa. “Dulu bandara itu ada di Kecamatan Pomalaa, tapi sekarang dipindah oleh Aneka Tambang ke Kecamatan Tanggetada,” kata Arsyad, pengemudi yang mengantar jemput kami.

Adapun pusat pemerintahan Kolaka sendiri berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Bandara. Penamaan bandara ‘Sangia Nibandera’ diambil dari nama raja pertama bagi suku Mekongga, suku asli Kolaka, yang memeluk agama Islam serta menyebarluaskan agama Islam di tanah Kolaka. Kerajaan Mekongga di Kolaka diperkirakan berdiri pada abad ke-13.

Bicara soal Aneka Tambang, kota ini memang sangat identik dengan PT Antam, dengan pabrik Fero Nikel yang menjadi obyek vital nasional. Sebelas dua belaslah dengan Belitung yang lekat dengan PT Timah di sana.

Tujuan kunjungan ke Kolaka untuk memberikan pencerahan kepada para peserta Kirab Remaja 2017 yang kali ini singgah di Sulawesi Tenggara. Berlokasi di Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, pelatihan jurnalistik singkat ini juga menghadirkan mahasiswa dari kampus yang namanya mengambil dari peristiwa heroik perjuangan rakyat Kolaka melawan Belanda, 19 November 1945 itu.

Budaya menulis, tanda intelektualitas bangsa

Menulislah, maka engkau akan dikenang. Itu yang saya tekankan kepada para mahasiswa Bumi Mekongga dan putra-putri terbaik Indonesia yang terpilih mengikuti Kirab Pemuda 2017.

Mengutip sastrawan kenamaan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Di zaman yang lekat dengan mudahnya berita palsu menyebar dan menyulut perpecahan, saya menekankan agar anak muda ‘zaman now’ menggunakan media sosial dan mengembangkan kemampuan menulis secara inspiratif, “Jadilah seperti Andrea Hirata atau Ahmad Fuadi, jadi terkenal dan mendapat materi berlimpah, karena menulis secara produktif untuk kisah-kisah yang menggugah dan jadi inspirasi banyak orang.”

Pada anak muda era kekinian yang hidup di tengah terpaan banjir informasi di internet terutama lewat gawai, tuntutan untuk banyak membaca dan menulis menjadi tantangan tersendiri. Berharap, anak-anak muda negeri ini, termasuk di ujung negeri yang lokasi namanya jarang terdengar sekalipun, bisa aktif meneruskan tradisi menulis sebagai perlambang berkembangnya intelektualitas sebuah bangsa.

Jadi, kalau saat ini kepada Anda disodorkan peta Indonesia berukuran besar, sudah bisa kan mengarahkan jari telunjuk, di titik dari kaki huruf ‘K’ pulau Sulawesi sebelah manakah Kolaka berada?

Sebagaimana ditayangkan di http://tz.ucweb.com/11_39zNC

http://bit.ly/2jQfI4e

http://ksp.go.id/membuka-cakrawala-peserta-kirab-pemuda-di-kolaka/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *