Liburan, Jangan Lupakan Kuliner Lokal

Apa asyiknya berkunjung -atau bahkan sekadar melewati- sebuah spot yang jarang kita temui dalam keseharian kita?

Selain suasana, orang-orang, dan bagaimana keasyikan lingkungan di sana, tentu saja yang tak boleh dilewatkan adalah: kuliner khas!

Makanan atau kuliner lokal, menjadi daya tarik wisatawan, atau mungkin orang yang sekarang ‘passing by’ melewati sebuah tempat. Apa yang asyik di tempat itu, bisa menjadi kenangan, atau oleh-oleh khas. Seperti saat perjalanan liburan akhir tahun seperti saat ini.

Dari Jakarta melalui Jalur Selatan kita akan disuguhi Tahu Sumedang di Kabupaten Bandung atau Getuk Goreng ala Sokaraja. Sementara di Jalur Pantai Utara, ada Empal Gentong khas Cirebon atau Telor Asin andalan Brebes.

Berkendara menuju Yogyakarta melalui gabungan jalur atas (Pantai Utara) lanjut ke bawah (Pantai Selatan) kami mencoba semua. Menjelang Gerbang Tol Palimanan, kami nikmati Empal Gentong, sekitar jam 9 pagi, pas buat sarapan dan mandi sekadar menyegarkan badan.

Setelah makan siang di Pupuk, Tegal, sore hari, kami baru sampai Banyumas. Di antara Banyumas arah Kebumen, seorang kawan memberi referensi, “Jangan lupa Bebek Pak Encus di kanan jalan.”

Dengan bantuan GPS di telepon pintar, kami menemukannya. Sate Bebek Pak Encus di Jalan Raya Tambak, Banyumas berada di antara deretan penjual sate bebek sejenis di ruas jalur mudik kawasan Pantai Selatan ini. Itulah khas Indonesia, begitu satu orang menjual makanan atau barang dagangan khas, kiri kanannya pun berjualan hal serupa. Sekilas tampak tak kreatif, tapi dalam arti positif, hal ini mempermudah memberi alternatif. Terutama, kalau penjual lain sudah overload melayani pelanggan.

Sate Bebek Pak Encus -panggilan akrab dari Panji Susilo, pemilik restoran yang mengawali usaha sejak 1994- juga menyediakan menu lain, yakni gule serta bakar. Tak hanya bebek, tapi juga ayam. Harganya, masih terjangkaulah, terutama bila disetarakan dengan empuk bebeknya. Mampirlah, karena jam buka Resto Bebek ini cukup panjang: mulai pukul 07.00 sampai 24.00. Kami pun membawa kenikmatan Bebek Encus sampai mobil tiba di Yogya dengan selamat.

Baru semalam sampai di Yogyakarta, ada kunjungan kerabat dari Jawa Timur. Mau dibawa ke mana malam-malam yang khas di kota pelajar ini?

Tiba-tiba teringat adegan Cinta dan Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta 2 yang bercengkerama di Sate Klatak, Kawasan Imogiri Timur, Yogyakarta. Meski gagal makan di warung yang sama -Sate Klatak Pak Bari di Pasar Wonokromo sedang tutup- malam itu kami singgah di Sate Klatak lain. Punya Pak Jupaini namanya.

Jarum jam sudah lewat pukul 23.00 saat kami tiba. Tapi, banyaknya pengunjung membuat kami harus menunggu hingga 45 menit sampai sate yang ditusuk di atas besi jari-jari sepeda itu tiba di atas meja makan. Penggunaan jeruji sepeda dimaksudkan agar saat daging kambing yang dibakar bagian dalam bisa matang keseluruhan.

Berbeda dengan sate kambing lain dengan bumbu kecap atau kacang, untuk Sate Klatak bumbu yang digunakan cukup garam dan sedikit merica. Satu porsinya hanya berisi dua tusuk, seharga Rp 25 ribu per porsi.

Istimewanya, kambing yang dijadikan Sate Klatak ini juga masih berumur muda sehingga dagingnya tidak alot, tapi empuk.

Jadi, Anda sedang jauh dari rumah saat ini? Sudah menikmati makanan khas atau kuliner andalan daerah itu? Cobalah, atau Anda akan merasa super rugi serta menyesal saat balik kembali ke tempat hidup keseharian di tahun depan…

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/12_3YMZE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *