Belajar dari Benny Moerdani, Intelijen Mumpuni Negeri Ini

Dalam liburan akhir tahun di Jawa Timur dan Yogyakarta kemarin, saya mendapat bekal bacaan dua buku saku tokoh militer bikinan Tempo. Beli di Toko Buku Gramedia Surabaya, salah satu buku yang sudah kelar saya baca mengangkat topik tokoh: Benny Moerdani, Yang Belum Terungkap. Banyak kisah menarik bisa kita petik dari jenderal kesayangan Soeharto ini.

Diidentikkan sebagai Jenderal Katolik yang bersinggungan dengan kelompok muslim, Leonardus Benjamin Moerdani, kelahiran Cepu, 2 Oktober 1932 sesungguhnya lahir dari keluarga pluralis. Ayahnya, Raden Gerardus Moerdani Sosrodirdjo, beragama Islam, menikah dengan isteri kedua Jeanne Roech -seorang Katolik guru TK asal Magelang keturunan Jerman, yang kemudian menjadi Benny.

Leluhur Benny berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat, merupakan keturunan Sultan Bima. Bahkan, kakek buyut Benny, Kiai Sulaiman, memiliki hubungan darah dengan Sultan Bima kedua. Tanpa banyak diketahui, Benny beberapa kali mengunjungi makam leluhurnya, raja-raja Bima.

Benny awalnya anggota pasukan tempur elit, yang kini disebut sebagai Kopassus, namun karirnya kemudian dikenal karena perannya di dunia intelijen. Selain pernah menyamar menjadi penjual tiket pesawat di Bangkok saat konfrontasi Indonesia-Malaysia, Benny pun terlibat dalam penyelundupan senjata buatan Uni Soviet ke Afganistan.

Sebagai kombatan, Benny muda terjun (dalam arti sebenarnya, sebagai penerjun payung dari pesawat C-130 Hercules) di Papua lewat operasi ‘Pasukan Naga’ 1962. Sebelumnya, 1958 di Pulau Bintan, Benny bergabung dalam TNI yang membebaskan Riau dari cengkeraman pemberontak PRRI. Lanjut ke Manado melawan pemberontak yang lain, Permesta.

Benny Moerdani dikenal sebagai pengawal kepercayaan Presiden Soeharto. Ia tiba-tiba berdiri di samping mobil Soeharto saat iring-iringan presiden kedua Indonesia itu diganggu demonstran dalam kunjungan di Roma, Italia. Kala itu, bola besar kerta yang digelindingkan para pengunjuk rasa menabrak mobil terdepan yang ditumpangi Mayjen Tjokropranolo, Sekretaris Militer Presiden.

Namun, bertahun-tahun hubungan baiknya dengan Soeharto ternoda saat mereka main biliar bareng di Cendana. Saat itu, Benny mengutarakan pendapatnya agar si bos ‘menjauhkan’ anak-anaknya dari kekuasaan. “Ketika saya angkat masalah anak-anak itu, Pak Harto berhenti bermain, masuk kamar tidur, dan meninggalkan saya di kamar biliar,” kisah Benny.

Belakangan, dua hari jelang Benny meninggal dunia pada 2004, Soeharto berkunjung ke ruang perawatan Benny Moerdani di RSPAD Gatot Soebroto. Dua mata jenderal renta itu berkaca-kaca, lalu Soeharto bicara, “Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasihatmu, ora koyo ngene,” kata Soeharto, sebagaimana ditirukan asisten Benny yang jadi saksi pertemuan di ruang perawatan.

Selebihnya, buku saku 200-an halaman ini berkisah tentang pembebasan sandera Woyla, mengejar harta Pertamina, peristiwa Tanjung Priok, hingga Penembakan Misterius (Petrus). Tak lupa, bagaimana peranan Benny mendirikan SMA Taruna Nusantara di Magelang, yang sering dikunjunginya secara diam-diam di usia senjanya.

Soeharto dikenal sebagai jenderal murah senyum, sebaliknya Benny Moerdani adalah ‘Unsmiling General’. Di Bais (Badan Intelijen Strategis), Benny pernah berucap, “Gentlemen, please do not forget this phrase. An intelligence officer is a faceless hero.” Seorang perwira telik sandi, harus mampu bekerja cermat di belakang layar, tanpa menampilkan diri.

Buku yang proyeknya dipimpin beberapa sahabat saya di Tempo -Nurdin Kalim, Dody Hidayat, Jobpie Sugiharto, Kurniawan, Sukma Loppies, dan Purwani Prabandari- memberi kita banyak pesan tersirat maupun tersurat. Bagaimana seorang prajurit -dalam konteks kekinian tentu saja tak harus diartikan sebagai tentara- harus fokus mengerjakan misi, tanpa berambisi namanya tenar. Bahkan, Benny memberi contoh beberapa kali, menolak gratifikasi saat tawaran itu nyata di depan mata.

Di akhir buku, dikisahkan betapa Benny begitu bangga dengan angka lima. Tiap bersumpah jabatan di depan pendeta, ayah seorang puteri ini tak mau menegakkan dua jari, tapi lima. Sampai-sampai, pernah ada yang menanyakan apa agamanya.

“Saya Pancasila,” tegas Benny.

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/1_2H2Fi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *