Jokowi dan Filosofi Bagi Bagi Sepeda

Salah satu tulisan ‘Opini’ di Harian Kompas, 9 Januari 2017 halaman 7 ditulis oleh Agus Dermawan, seorang pengamat kebudayaan dan konsultan koleksi benda seni Istana Presiden. Tulisan itu diawali kutipan dari William Saroyan, novelis dan penerima hadiah Pulitzer untuk drama (1940) serta Academy Award untuk cerita terbaik (1943). Saroyan pernah berkata, “The bicycles is the noblest invention of mankind. Sepeda merupakan penemuan yang paling mulia dari manusia.”

Kemudian Agus mengutip sebuah cerpen yang dibacanya di sebuah majalah sastra di pertengahan 1980-an. Kisahnya tentang sepeda.

Suatu saat, ada seorang miskin yang sangat ingin punya sepeda. Karena profesinya ‘hanya’ seorang pengarang, ia harus mencari akal untuk mencapai cita-citanya. Akal pun ditemukan: ia mengumpulkan berbagai onderdil sepeda. Onderdil itu bisa ia pulung dari sampah bengkel, ditemukan di pinggir jalan, diminta dari orang yang dikenal dan tak dikenal, atau dibeli dari uangnya sedikit demi sedikit.

Dalam kurun waktu amat lama, onderdil-onderdil sepeda itu pun dianggal cukup. Lalu batang sepeda, gir, setang kemudi, sadel, pedal ontel, velg, jeruji, rantai, sampai lampu pun dirakitnya menjadi sebuah sepeda. Pemuda ini menjadi bangga atas sepeda hasil menabungnya. Namun, ada yang kurang, sepeda itu dianggap tak komplet lantaran belum punya bel. Untuk membeli bel yang mengilap, ia kemudian membuat sebuah karangan lagi, yang isinya mengenai upaya menabung onderdil sepeda itu.

Pikirnya, kalau karya tulis itu dimuat, ia akan dapat honorarium yang cukup untuk membeli bel sepeda. Benar saja, karyanya dimuat. Dengan girang, diterimanya wesel yang harus diuangkan di kantor pos terdekat. Bernyanyi-nyanyi mengayuh sepeda ke kantor pos, ia pun kemudian menggenggam uang honorarium di tangan. Bunyi, “kring, kring… krang..” dirasakan sudah berkumandang.

Namun, apa yang terjadi? Sepeda yang belum dikunci itu raib digondol pencuri! Ia menangis dalam hati. Tapi, tekad punya sepeda tak pudar dalam dirinya. Ia mulai mengumpulkan onderdil lagi, kali ini dimulai dari sebuah bel!

Betapa sepeda ternyata sejak dulu merupakan sebuah barang yang istimewa. Menjadi istimewa, karena –entah apa alasannya- sepeda menjadi ‘tools’ yang dibagi-bagikan Presiden Jokowi sebagai pengikat antara seorang pemimpin dengan rakyatnya. Untuk mendapatkan sepeda itu pun tak percuma. Harus ada usaha. Mulai dari memeragakan gerakan silat, menyebut nama pulau, nama suku, sila dalam Pancasila, sampai mengingat beragam nama ikan.

Ada yang mencoba memberi penjelasan, Presiden Jokowi memberi sepeda agar rakyat Indonesia tidak ‘mager’ alias ‘malas gerak’ Dengan sepeda, simbol diberikan bahwa manusia harus selalu aktif dan tidak statis.

Agus Dermawan –mengutip Ki Ageng Suryomentaraman- pun melanjutkan tulisannya,

“Dengan sepeda, seseorang akan menguasai diri sendiri. Dengan sepeda, seseorang akan menjaga keseimbangan, menerima yang kiri, menerima yang kanan.

Dengan sepeda, seseorang akan menyapa semesta, melihat bumi, bersahabat dengan angin.

Dengan sepeda, seseorang akan menggerakkan seluruh indranya, dari telapak kaki sampai bola mata

Dengan sepeda, sesoerang akan selalu berjalan ke depan…”

Tapi, Presiden Jokowi tidaklah kaku. Dalam kunjungan ke SMK Negeri 3, Kota Kupang, awal pekan ini, ia memenuhi permintaan seorang pelajar tunanetra yang berani ‘menolak’ hadiah sepeda.

Andreas Saingo, salah seorang siswa yang diajak berdialog oleh Presiden Joko Widodo merupakan siswa dengan keterbatasan penglihatan atau tunanetra. Ia ditanya-tanya oleh Presiden, lalu diminta untuk mengucapkan teks Pancasila. Setelah selesai, ia seperti memberi isyarat meminta hadiah.

Biasanya, Presiden membagikan hadiah sepeda untuk anak-anak yang dipanggil maju dalam dialog. Andre meminta supaya hadiah sepeda diganti dengan yang lain. Bagi dirinya yang tunanetra, sepeda tidak akan berguna. Setidaknya kata Alois Wisnuhardana, kawan baik saya yang penggemar berat olahraga gowes: sampai hari ini, belum ada desain sepeda yang dibuat untuk tunanetra.

Oleh karenanya, Andreas meminta sepeda ditukar dengan laptop. Tentu saja, Presiden Jokowi, tidak membawa laptop sebagai hadiah, karena biasanya sepedalah yang dibawanya. Tapi Andre sungguh beruntung. Presiden bersedia mengganti hadiah sepeda dengan laptop dambaannya. Laptop itu, janji Presiden, akan dikirimkan ke rumah atau sekolahnya sehari setelah pertemuan itu. Sebuah janji yang ditepati karena tak harus menunggu rombongan Presiden Jokowi ke Jakarta, tim presiden langsung menyiapkan laptop -sebagai pengganti sepeda- dari sebuah toko komputer di Kupang.

Sepeda adalah penemuan paling mulia dalam kehidupan manusia. Dari sepeda kita belajar menguasai ritme hidup. Kapan harus bergerak cepat, mendaki, menurun, atau kadang terhenti karena rantainya ‘los’.

Sepeda bukan sekadar hadiah dari Presiden. Ada filosofi agar manusia Indonesia terus dinamis.

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/1_35uni

One Reply to “Jokowi dan Filosofi Bagi Bagi Sepeda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *