Lost in Jakarta: Siasat Murah Jelajah Ibukota

Sepasang host menjelajah tempat wisata dan kuliner di Jakarta. Ide menarik dengan berbagai ‘bumbu’ penyegar.

Tak perlu jauh-jauh, kelompok ini mengeksplorasi Jakarta Pusat sebagai lokasi pengerjaan tugas akhir mata kuliah TV Production Universitas Multimedia Nusantara. Diana Valencia dan Jeremiah Harvest bersama dengan Umair Rizaludin, Natasya Delasari, serta Jefri Rolando membuat tiga segmen dalam program santai ‘Lost in Jakarta’ di Taman Menteng, Gado-Gado Bonbin, Es Krim Ragusa, serta Sop Durian Pecenongan.

Konsepnya unik, berkeliling Jakarta dalam tiga segmen, dengan low budget, serta diselingi ‘gimmick’ tertentu, seperti tebak-tebakan dengan kru. Selain tayangan yang secara keseluruhan menyegarkan dan tidak membosankan, ada beberapa catatan untuk perbaikan karya ke depan.

Di Taman Menteng dan juga segmen kedua, ada lagu musik sebagai pengiring. Seharusnya dituliskan copyright, judul dan penyanyi (kalau bisa dengan nama labelnya) dari lagu yang dibawakan Nugie serta Rizky Febian itu.

Catatan lain, ada pada kesesuian antara narasi dan visual. Di Menteng, saat mereka menyebutkan sisi lebih lokasi dengan adanya lahan parkir memadai dan pepohonan rindang, seharusnya ditampilkan footage yang tepat menunjukkan kondisi itu. Demikian pula di Pecenongan, kala menyebut beberapa jenis makanan di sana selain es duren, yakni bubur, martabak, sea food, seharusnya visual pun mengarah ke stall atau pedagang yang dimaksud.

Audio yang ‘kemresek’ dalam lokasi outdoor juga menjadi catatan tersendiri. Begitu pula gambar yang beberapa kali masih tampak ‘shaking’. Sementara pujian harus disampaikan pada pengambilan angle yang pas. Misalnya, dialog di Ice Cream Ragusa yang pas dengan moment kereta lewat, serta adegan bertemunya Diana serta Jee dibuat begitu ‘dramatis’ dengan slow motion rambut Diana terurai.

Catatan teknis lain, pada opening program, perhatikan visual white balance (WB) pada kamera, mungkin di sini memakai dua kamera yang berbeda atau memang tidak melakukan prosedur WB saat akan melakukan take syuting. Padahal syarat utama sebelum syuting  harusnya lakukan cek white balance (WB) kamera agar warna, skin tone semua sama antara kamera satu dengan lainnya.

Di pembukaan segmen kedua, munculnya grafis ‘Google Maps’ menunjukkan lokasi Gado-Gado Bon Bin yang menunjukkan jarak dari Taman Menteng sangat membantu.

Pengambilan visual opening presenter ketikan membuka dan akan masuk ke dalam lokasi sudah baik. Namun, saat masuk ke dalam, sangat disayangkan visualnya gelap. Mungkin bisa dimaklumi karena tidak memakai lampu, tapi sebagai masukan untuk syuting di indoor sangat disarankan untuk memakai lampu tambahan. Siasat lain, cari tempat duduknya yang lebih kena cahaya.

Sedikit kelemahan juga di segmen kedua ini, yakni kurang detailnya shot pada makanan serta masuk ke dapur detail pembuatan. Akan jadi lebih asyik wawancara si pedagangnya menjelaskan langsung proses pembuatan gado-gado dan makanan lain, sekaligus menambah kekayaan visual di segmen ini.

Kelebihan segmen kedua, yakni ada ‘gimmick’ saat mengajak figur lain -Natasya Dela sebagai produser- ikut in frame main tebak-tebakan dengan duo host Diana dan Je.

Untuk segmen ketiga, di Es Krim Ragusa, tidak ada sequence masuk reporter dan tiba-tiba mereka langsung duduk. Harusnya dari pintu masuk visualnya bisa nyambung ke dalam. Ditambah pengambilan established shot yang kurang baik.

Pada tayangan kuliner seperti ini, detail visual sangat penting, harusnya ada ada shot detail ice cream, sehingga yang menonton lebih tergugah seleranya.

Untuk segmen ketiga, sebaiknya tim fokus saja antara Es Krim Ragusa atau Sop Duren Pecenongan, pilih saja salah satunya, namun dilengkapi lagi secara visual dan konten memadai. Kita tahu, Pecenongan sebagai surga kuliner Jakarta justru lebih menarik digarap pada malam hari. Jadi sayang ketika menggarap keduanya dengan visual dan isi konten seadanya, jadinya berasa tidak ‘bunyi’ untuk ceritanya.

Meski demikian, pujian patut disampaikan karena duo presenter ini begitu kompak dan memiliki ‘chemistry’ amat kuat dalam ber-‘tek-tok’ tiga segmen.

Di balik layar peliputan

Umair Rizaludin, juru kamera dan editor, mengakui ada kendala pencahayaan pada segmen Gado-Gado Bonbin. Kendala di sini adalah keadaan tempat yang gelap sehingga mereka harus mengakali pencahayaan di dalam ruangan. “Apabila kamera menggunakan LED maka akan mendapat reflektor di kaca belakang host dan co-host berbicara, akhirnya kami memilih untuk menggunakan lampu emergency,” kisahnya.

Evaluasi tentang perlengkapan yang memadai menjadi catatan Umair. “Baterei yang dibawa harus lebih atau paling tidak menemukan tempat istirahat untuk mengisi daya baterei sehingga tidak mendapat kendala baterei habis,” ungkapnya.

Host Jeremiah Harvest menekan pesan pentingnya selalu sedia rencana dan alat cadangan atau apapun untuk mengantisipasi terjadinya hal yang di luar kendali. “Sehingga shooting dapat tetap berjalan dan dapat mengejar waktu tayang saat ada kendala di luar perkiraan,” kata Jee yang sempat pula survei ke Galeri Indonesia Kaya dan Museum Nasional tapi urung memilih spot itu.

Co-host Diana Valencia berkisah, ada banyak hal yang didapat selama proses pengerjaan proyek ini, yakni perihal kedisiplinan dan perencanaan yang matang. Proses syuting berjalan dari pagi hingga petang sehingga jadwal syuting yang ngaret akan berdampak pada rencana selanjutnya. “Disiplin adalah jawaban yang mengatasi permasalahan ini,” tegasnya.

Ia juga mencatat, peralatan yang dibawa ternyata tidak terlalu cukup apabila digunakan dari pagi hingga petang (terkait baterai), maka seharusnya perencanaan dan pemikiran yang lebih matang dapat dilakukan sebelum syuting berlangsung.

Natasya Delasari, selaku program director atau produser, bertugas sebagai ‘kepala’ kelompok, mengerjakan beberapa hal, mulai dari perencanaan hingga proses editing.

“Ide mengenai lokasi-lokasi mana saja yang kami kunjungi merupakan ide dari Diana, namun saya bertugas untuk menyusun seluruh rangkaian program dari segmen pertama hingga segmen terakhir,” katanya.

Dela merekap setiap detil seperti bumper, bloopers, daftar gambar yang harus diambil oleh videografer, apa saja yang harus dibicarakan oleh host, menyusun tantangan (challenge) yang menjadi konten dalam video, dan masih banyak hal lain.

“Jujur saja tidak pernah memiliki pengalaman berkecimpung dalam pertelevisian, baik media kampus, atau pengalaman luar lainnya. Maka dari itu, format segmen yang saya buat berdasarkan instinct pribadi saja,” paparnya.

Dalam memproduksi program TV ini, Dela merasa sangat puas, bangga, dan senang karena kelompok ini tetap dapat memproduksi karya yang menurut mereka cukup memuaskan.

Jefri Rolando selaku juru kamera dan editor memaparkan, ‘Lost in X’ merupakan sebuah program TV yang bertemakan kuliner, dengan host harus bisa bertahan hidup selama satu hari dan hanya diberikan modal sebesar Rp. 50 ribu /orang.

Jefri bertutur, sempat mengalami kesulitan karena belum pernah membuat sebuah program tv yang hampir persis dengan program tv pada media-media sungguhan.

“Saya mendapatkan pengalaman baru ketika sedang melakukan peliputan di lapangan, salah satunya adalah mengenai perlengkapan dan pembelajaran baru mengenai cara editing program tv,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *