Jajan Terus, dari Tangerang Hingga Semarang

Tayangan berburu kuliner murah meriah gabungan antara spot Tangerang maupun Semarang. Mari kita review bersama.

Albert Christian bersama Fransisca Dhita dan Bilan Clara memandu program ‘Jajan Terus’ di Nusantara TV bersama kawan-kawan mereka lainnya: Farah Meilinda, Kevin Sutanto, Deddy Darmanto, dan Rekha Oktariyana. Tugas akhir mata kuliah Production Televisi Universitas Multimedia Nusantara 2017/2018 ini mengambil spot gabungan, antara yang tak jauh-jauh dan perjalanan ke Semarang.

Albert Christian bersama Fransisca Dhita dan Bilan Clara memandu program ‘Jajan Terus’ di Nusantara TV bersama kawan-kawan mereka lainnya: Farah Meilinda, Kevin Sutanto, Deddy Darmanto, dan Rekha Oktariyana. Tugas akhir mata kuliah Production Televisi Universitas Multimedia Nusantara 2017/2018 ini mengambil spot gabungan, antara yang tak jauh-jauh dan perjalanan ke Semarang.

Dari kawasan Pasar Lama Tangerang, mereka menyajikan makanan nan bervariasi, dari roti cane, bakso, sampai kuliner ekstrem macam sate ular dan biawak. Tak lupa, minum es podeng.

Dari awalnya ngumpul berempat di mall, menjadi unik kemudian ketika Albert ‘Abo’ berinteraksi dengan campersnya, Deddy, sebagaimana gaya di NET Tv. Jadi, hanya Abo yang in-frame, tapi ia tampak berbicara dengan partnernya.

Secara umum, opening program ini lumayan juga meski grafisnya kurang sedikit. Lalu kita masuk kepada kedua host yang berada di mall AEON BSD. Bisa dilihat head room Abo sempat terpotong bahkan ada yang tidak terlihat matanya.

Pada jajanan pertama, ‘Thai Tea’. Ada masukan, sebisa mungkin hindari gambar iklan seperti susu kental manis yang ada di shot ini. Selain itu, detail soal ‘Thai Tea’ uga sangat kurang. Nah pas interaksi di atas meja harusnya dicobain dulu diminum sebelum masuk obrolan soal Semarang. Pada bagian ini, pengambilan gambar groupshot sudah oke.

Selanjutnya kita ke Pasar Lama, asyik ada travel shot di awal sequence. Konsepnya menarik, karena mata pemirsa jadi kamera, dan kamera jadi mata. Presenter berinteraksi dengan cameraperson. Masukan saja, detial roti cane yang lagi disiapkan harusnya ada. Detail shot dalam kuliner wajib  untuk menggugah selera pemirsa.

Masuk bakso, untuk campers, lagi-lagi usahakan yang detail ya, dan berada di depan host ketika sedang berjalan. Jadi, jangan sampai terus dipunggungi. Establish shot Bakso Gino juga kurang, meski detail baksonya lumayan juga.

Menuju kuliner ekstrem sate ular yang ternyata harus diganti biawak, hehehe.. Seru ni makan terus ya… Pas dengan porsi Abo. Lagi-lagi campers Deddy hanya follow Abo Dari belakang, harusnya dari depan saja sembari mengambil suasana jalan dan memberi suasana wide shot. Detail ular lumayan, baik saat eksekusi dan juga penyajiannya. Shot Abo saat duduk terlalu gelap, tapi bisa dimaklumi sih.

Lanjut lokasi es podeng. Harusnya ada transisi gambar, jangan tiba-tiba muncul di depan es podeng. Di bagian ini, detail es podeng lumayan bagus, apalagi Abo menjelaskan isi es podeng itu secara deskriptif.

Giliran Tim Semarang. Dibuka dengan langsung main di bandara sebagai penhantar dan ada timelapse sampai bus menuju pesawat. Sayangnya, take di bandara tapi tidak ada gambar pesawatnya. Menjadi njomplang saat tiba-tiba kedua host sudah ada  di Semarang. Amat jumping dengan openingnya.

Untuk visual kota Semarang, establish tempat makan juga kurang detail, dilanjut ke wingko babat juga tidak ada transisi visual dengan sebelumnya. Detail wingko babatnya pun kurang, sementara visual saat mengambil gambar host tampak tidak fokus kameranya.

Mengemas konsep vlog, mereka tiba di toko es krim, yang lagi-lagi sayang tidak ada visual penghubung dengan sebelumnya. Sayang saat makan burger, kembali tak optimal dengan detail shot makanan.

Hari terakhir di Semarang, beli oleh-oleh, sangat disayangkan tidak ada detail sama sekali di bagian ini. Tiba-tiba ‘cling’, sudah di AEON mall lagi nyobain oleh-oleh Semarang. Bagus idenya ketika menggunakan telepon genggam menelpon host lainnya.

Secara konsep kelompok ini ada perbedaan dengan kelompok lainnya. Yang menarik adalah saat di Pasar Lama Tangerang di mana konsep mata jadi kamera, kamera jadi mata berasa bunyi sekali, meski beberapa shot dan detail masih kurang. Untuk yang di Semarang berada tidak bunyi karena visualnya hanya potongan-potongan di tempat jajan saja. Sebenarnya, visual opening di bandara itu keren, tapi sayang tidak ada kelanjutan sequencenya. Begitupula pemotongan segmen, sesi commercial break, tak terlihat jelas.

Pelajaran Moral: Jadi Anggota Tim yang Bertanggungjawab

Sisca, salah seorang host mengungkapkan, kesan selama project tugas UAS Produksi Tv ini ia dan teman-teman merasa sangat senang bisa menjadi satu kelompok untuk project ini.

“Terutama ketika saya dan sebagian kelompok pergi untuk liputan kuliner di Kota Semarang. Kami saling bekerja sama, berbagi cerita, dan mendapat pengalaman baru liputan di luar kota,” paparnya.

Editor Rekha mengungkapan, dalam project UAS Program TV kali ini ia banyak sekali mendapat kesulitan. Masalah yang paling berat adalah ketika teman satu kelompok tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar, sedangkan data dari liputan yang sudah lengkap dia yang memegang. “Kami sekelompok sempat kebingungan lantaran data yang dipegang sangat penting, awalnya kami berinisiatif untuk kembali liputan karena teman kami yang memegang data tidak merespon melalui telpon padahal deadline semakin mepet,” kenangnya.

Kevin videographer merasa project ini semakin banyak menambah pengalamannya di bidang jurnalistik. “Apalagi mengerjakan tugas ini langsung turun ke lapangan, bertemu dengan narasumber, dan yang pasti, mengetahui hal-hal yang beum pernah saya ketahui sebelumnya,” urainya.

Sejujurnya tugas ini sangat membantunya juga agar berpacu agar dan lebih bertanggung jawab atas apapun yang dilakukan. Hal terkait kurang kooperatifnya anggota tim juga diceritakan Abo dan Deddy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *