Ketika Lawyer Menertawakan Profesi Sendiri yang Rawan Dibully

Tak banyak orang bisa menertawakan profesinya sendiri. Apalagi kalau pekerjaan itu memang rawan jadi bulan-bulanan publik. Tapi, sebuah pemandangan menarik saat Jum’at siang kemarin saya main ke kantor kerja seorang kawan baik, Aloysius Dewanto Handoko dari firma hukum Handoko Liberty, di kawasan Petisah Tengah, Medan.

Di ruang kerjanya, dari lantai 1 sampai 2, dari ruang tamu, ruang rapat, sampai kamar kecil, berjejer aneka karikatur dan desain grafis yang menceritakan profesi advokat dengan penuh canda.

Mulai dari yang soft dan konservatif seperti idiom ‘Keep Calm and Call Your Lawyer’. Ini merupakan ‘plesetan’ yang kreatif dari berbagai banyak modifikasi poster yang kalimat sesungguhnya ‘Keep Calm and Carry On’. Poster asli itu dibuat pada 1939 sebagai sebuah ajakan atau motivasional Pemerintah Inggris menghadapi Perang Dunia II, dengan ancaman serangan udara begitu dahsyat saat itu.

Di sudut berbeda ruangan Handoko, ada tulisan lain, sebuah candaan tentang seorang calon klien yang bertanya kepada pengacara, “Berapa tarifmu?” Sang advokat menjawab, “50 Dolar untuk tiga pertanyaan.” Si klien bertanya lagi, “50 dolar, semahal itu?” Tak mau kalah, sang pengacara menjawab balik, “Ya. Lalu apa pertanyaan ketiga Anda?” Hahahaha…

Ada juga slogan lucu lain, ‘Speak English, Kiss French, Dress Italian, Spend Arab, Party Caribbean, Study Law’.

Atau ‘a good lawyer knows the law, a great lawyer knows the judge’, ‘Where there is a will there is a lawsuit’.

Ada juga kalimat-kalimat unik lain yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira maknanya, “Di balik lak-laki hebat terdapat perempuan hebat. Di balik perempuan hebat ada pengacara hebat.”

Atau saran bahwa sebaiknya Anda tidak memiliki pacar atau teman dekat seorang advokat. Seorang perempuan berkata, “I Love You”. Namun, teman spesialnya -seorang laki-laki pengacara- balik bertanya, “Berikan aku BUKTI yang mendukung perkataanmu itu.”

Selain kalimat-kalimat unik itu, ada pula kutipan dari beberapa tokoh pejuang keadilan. Misalnya ungkapan seorang penasehat hukum idealis di negeri ini, Yap Thiam Hien, “Jika saudara hendak menang perkara, janganlah pilih saya sebagai pengacara Anda, karena pasti kita akan kalah. Tetapi (jika) saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran saudara, maka saya mau menjadi pembela saudara.”

Ada juga pernyataan lawyer yang pernah menjadi Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, “If you are resolutely determined to make a lawyer of yourself, the thing is more than half done already.”

Sementara itu Mahatma Gandhi, tokoh inspirasional India, berkata, “If i have the believe that i can do it, I shall surely acquire the capacity to do it even if I may not have it at the beginning.’

Dedy, panggilan pengacara yang banyak berkecimpung untuk urusan non litigasi ini, berkisah, ia sengaja menempel beberapa kartun tentang pengacara sebagai sebuah hiburan atas profesi ini.

“Bagus toh, daripada menjelek-jelekkan orang lain,” katanya, sambil kami menikmati sarapan mie di Jalan Babura, salah satu spot kuliner unggulan di Medan.

Mengutip humor Rusia, Dedy berujar, “Hanya orang sehat dan waras yang bsia menertawakan diri sendiri. Ya biar kita tidak streslah,” katanya sambil tertawa lebar.

Lebih spesifik di tembok ruang kerjanya, dipasang pula foto-foto keluarga para presiden Indonesia, dari Soekarno sampai Jokowi, masing-masing dengan satu isteri dan anak-anaknya. Sebuah serial gambar yang pernah viral di grup percakapan telepon pintar dan media sosial. Tentang pilihannya menempel foto keluarga para pemimpin bangsa dari masa ke masa itu, Dedy Handoko berujar, “Ya itu, untuk menggambarkan perjuangan bangsa ini. Para pemimpin dan keluarganya masing-masing.”

Suatu saat, rekannya dari Hongkong singgah ke kantornya, melihat rangkaian foto itu dan bertanya heran, benarkah Indonesia baru punya tujuh presiden sepanjang republik ini berdiri?

Tak kalah akal, Dedy menunjuk fotonya bersama sang isteri, “Nah, itu presiden kedelapan…”

Hehehe.. marilah banyak bercanda dalam hidup ini. Termasuk saat berbicara tentang profesi dan politik yang rawan membuat orang mengernyitkan dahi.

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/2_33MMV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *