Makassar: Wisata Kuliner dan Pantai

Apa menariknya kota Makassar?

Banyak dong. Di sini ada banyak pilihan makanan bagi Anda para pencinta kuliner nusantara. Sekitar lima hari di Makassar, saya setidaknya mencoba beberapa pilihan lokasi kuliner andalan.

Bersama Jenderal Purnawirawan Moeldoko di awal kedatangannya, kami menuju Coto Gagak H. Jamaluddin Dg. Nassa yang buka 24 jam. Memesan dua porsi Coto Makassar di warung yang berdiri sejak 1970 dan tak buka cabang di tempat lain itu, saya mendampingi Kepala Staf Kepresiden yang tampak sangat menikmati kuliner khas Makassar.

“Ngeri ini… enak sekali,” kata Moeldoko sembari menyantap seporsi Coto berlauk pipi sapi dan satu lagi Coto campur.

Tempat lain yakni Rumah Makan Nelayan, di Jl Ali Malaka, tak jauh dari kawasan Somba Opu, Losari. Kami makan malam di rumah makan ini, sesuai namanya ya andalannya sea food, menyajikan olahan seafood dengan berbagai jenis sambal khas Makassar. Terdapat pilihan jenis ikan yang bervariasi yang dapat diolah sesuai dengan pilihan konsumen.

Berikutnya, kami sempat makan sore di sebuah kafe sederhana bernuansa bintang lima, yakni Cafe Mama, di Jalan Bau Mangga, dekat Mall Panakukang. Di Cafe Mama disediakan beragam kue-kue tradisional dan beberapa pilihan makanan berat. Kue tradisional khas Makassar yang biasa disajikan di pesta semacam pernikahan, aqiqah, sunatan dan lain-lain ataupun kue-kue yang biasa dijajakan di pasar tradisional, tersedia di sini. Setidaknya ada 50 jenis kue tradisional Khas Makassar, misalnya barongko, kue seruni, bayou nibalu, palita, cangkuning, cucur bayou, sikaporo, bika caramel, toloba, kue lumpur, biji nangka, ka’dobo’dong, apang dan beragam kue tradisional lainnya. Kue-kue ini dikemas menarik dan menggunakan bahan-bahan berkualitas. Di sinipun tersedia nyuknyang alias bakso khas Makassar!

Kembali bernuansa seafood, saya pun sempat singgah di Rumah Makan Apong, juga di kawasan Panakukkang, Di sini andalannya cumi, udang dan kepiting.

Sebelum kembali ke Bandara Sultan Hasanuddin, saya bersantap bersama kawan di Warung Sup Saudara Fly Over, dekat Jalan Tol Reformasi, tempat para aktivis Makassar kerap berunjuk rasa. Di sini saya memesan Sup Konro, hidangan khas Makassar yakni masakan sup iga sapi khas Indonesia yang berasal dari tradisi Bugis dan Makassar. Sup ini biasanya dibuat dengan bahan iga sapi atau daging sapi. Masakan berkuah warna coklat kehitaman ini biasa dimakan dengan ketupat kecil yang dipotong-potong terlebih dahulu.

Letaknya yang berada di pertigaan Jl Pettarani – Jl Maccini (dekat fly over), membuat warung ini mudah ditemukan. Selama 30 tahun warung Sup Saudara asuhan H. Syamsul menyajikan kuliner yang nikmat. Yang membuat pengunjung ketagihan dari warung ini yaitu sop saudara dan sup konronya yang dijamin akan memanjakan lidah Anda.

Sop Saudara di tempat ini memiliki bumbu khusus yang membuatnya jadi lebih nikmat dibanding di tempat lainnya. Sup konronya juga empuk dan dipadu dengan kuah yang maknyusss. Akan halnya Sup Saudara merupakan masakan khas dari Sulawesi Selatan berupa hidangan berkuah dengan bahan dasar daging sapi yang biasanya disajikan bersama bahan pelengkap seperti bihun, perkedel kentang, jeroan sapi (misalnya, paru goreng), dan telur rebus.

Selain menu di atas, juga ada sop kikil, konro bakar, sop paru, ikan bakar, ayam bakar, pepes, cumi, udang, dan masih banyak lainnya.

Puas makan jangan lupa ke pantai.

Tak puas ke pantai di sekitar hotel Swiss Belhotel Losari, kami berlayar menuju Pulau Kodingareng Keke, yang merupakan salah satu dari beberapa pulau tak berpenghuni yang ada di wilayah Sulawesi Selatan.

Pulau ini jaraknya sekitar 14 km dari Pantai Losari Makassar atau sekitar 20 hingga 30 menit dari Pulau Samalona atau satu jam dari dermaga kayu bangkoang. Pulau ini merupakan pulau kecil yang memanjang dari timur laut hingga barat daya. Di pulau yang dangkal ini kami mengintip keindahan bawah laut amat puas.

Ayo ke Makassar!

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/3_2vYoK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *