Merindukan Anfield, Gaya Oryza Merayakan Kecintaan pada Liverpool

Oryza Ardyansyah Wirawan, seorang jurnalis BeritaJatim.com, hanya punya dua klub yang dipujanya: Persebaya Surabaya dan Liverpool FC, nun jauh di Inggris. Sesekali memang ia menulis dan berkecimpung di markas Persid Jember, tempat hidupnya saat ini. Tapi hanya ‘Green Force’ dan ‘The Reds’ lah yang benar-benar ada di hatinya.

Maka, buku ‘Merindukan Anfield, Kumpulan Esai Mengenai Liverpool FC’ menjadi salah satu cara ayah dua anak ini merayakan suka-dukanya menjadi fans Liverpool. Sama halnya dengan bagaimana ia mencintai Persebaya yang telah melahirkan buku ‘Imagined Persebaya: Persebaya, Bonek, dan Sepakbola Indonesia’.

“Saya menjadi pendukung Persebaya karena kecintaan yang diturunkan ayah saya. Saya juga dibesarkan di Surabaya dan Persebaya merupakan bagian dari pengalaman hidup saya. Sementara untuk Liverpool FC, saya jelas tak punya cukup alasan biologis untuk mencintai atau terobsesi. Namun, cinta itu seperti takdir, dan kita tak tahu kapan akan tumbuh,” jelas pria yang mengaku kali pertama nonton Liverpool di TVRI saat final Piala FA di Wembley, 14 Mei 1988. Liverpool keok 0-1 dari Wimbledon, dan gagal mengawinkan gelar Juara FA Cup dan pemenang Liga Inggris.

Setidaknya, dua cita-citanya telah terwujud: menulis buku tentang Liverpool, dan meliput Liverpool, yang dilakoni saat anak buah Brendan Rodgers datang ke Stadion Gelora Bung Karno, 20 Juli 2013. Satu impian lainnya: menyaksikan Liverpool langsung di Anfield. “Saya tidak tahu kapan cita-cita itu terwujud,” harapnya.

Di buku ini, Oryza yang kaya akan referensi membagi dalam beberapa bab. Bab pertama tentang ‘Sejarah’, gagaimana Liverpool tim yang mengubah wajah Inggris, lengkap dengan berbagai kejayaan dan tragedi-tragedi besar nan menyertainya.

Bab lain tentang pemain, bicara tentang para legenda, dari King Kenny, Matt Busby, Gary Ablett, Stevie G, Luis Suarez, Roberto Firmino, James Millner, Phil Coutinho, sampai Mario Balotelli.

Judul-judulnya pun dibuat khas. Tengoklah saat ia berkisah tentang harapan Liverpool pada striker anyar mereka, dalam tulisan bertajuk, ‘Benteka pada Akhir Ramadan’. Disebutkan, “Liverpool menebus klausul pelepasan Chris Benteke pada hari terakhir bulan puasa Ramadan, yang juga malam awal lebaran jika memakai waktu Indonesia. Tentu semua fans Liverpool berharap, kehadiran Benteke pada akhir bulan puasa akan mengakhiri puasa gelar Liga Inggris sejak 1990.” Sebuah harapan nan romantis berbalut utopis. Selebihnya, sejarah sudah memberitahukan hasil pahitnya pada para penggila Liverpool.

Bab-bab lain terkait Manajer dan Taktik, Pertandingan, serta Fans dan Rival.

Bumbu-bumbu cerita dari sumber rujukan, tentu didapatnya tidak dengan mudah, mengantar kita tak hanya terbang ke Inggris, tapi juga memutar waktu ke era di mana peristiwa itu berlangsung. Bagaimana misalnya, saat orang mengidentikkan ‘Sepakbola Gajah’ dengan kisah main mata antara Persebaya yang mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12 pada laga Divisi Utama di Stadion Gelora 10 November di 21 Februari 1988, Oryza berkisah tentang kisah serupa sudah lebih dulu terjadi pada musim 1914-1915. Liverpool mengalah 0-2 pada rival abadinya Manchester United oada 2 April 1915 dalam Skandal Jum’at Agung yang membuat MU selamat dari degradasi, dan kandidat papan bawah lain Chelsea tersingkir ke kasta yang hina, Divisi II.

Cerita dan dongeng Oryza tak selalu menghadirkan nada sedih. Rasa optimistis lebih banyak dihadirkan, meski kerap Liverpool FC membalasnya dengan bertepuk sebelah tangan. Setidaknya, ia pernah menulis tentang Firmino dan Kembalinya Sihir ‘Si Nomor 11’. Dikisahkan bagaimana nomor bertuah itu pernah dipakai Billy Liddell, Peter Thompson, Ian Callaghan, Graeme Souness, dan para legenda lain seperti John Wark, Steve McMahon, Mark Walters, Jamie Redknapp, Vladi Smicer, Robbie Fowler, Mark Gonzalez, Yossi Benayoun, hingga Albert Riera, Maxi Rodriguez, Oussama Assaidi dan akhirnya diwariskan ke ‘Bobby Firmino’.

“Assaidi pergi, akankah Firmino menjawab kerinduan para penggemar Liverpool terhadap pemain bernomor sebelas nan cemerkang? Kita layak untuk optimistis,” tutupnya pada tulisan bertanggal Sabtu, 27 Juni 2015 di halaman 120.

Dan kita tahu, detik ini nomor sebelas menjadi milik Mohamed Salah.

Seperti ditayangkan di http://tz.ucweb.com/3_4UYIl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *