Negara Hadir dalam Mudik 2018                  

Frase ‘Negara Hadir’ seolah menjadi jawaban dari seringnya narator berita program current affair televisi yang sering kali mengakhiri kisah panjang tentang kondisi buruk negeri ini –dari maraknya pelecehan seksual, curanmor sampai kisah pemain bola yang gajinya tak dibayar- dengan kalimat klise, “Lalu di mana negara saat peristiwa ini terjadi?

Frase ini menjadi kian outstanding saat di masa kampanye 2014, pasangan Jokowi-JK mengumumkan Nawacita sebagai visi pemerintahan 2014-2019 dengan pasal pertamanya berbunyi “Menghadirkan Kembali Negara untuk Melindungi Kembali Segenap Bangsa dan Memberikan Rasa Aman pada Seluruh Warga Negara’.

Terlalu luas cita-cita yang disampaikan Jokowi dalam butir perdana visi, misi, dan program aksi dalam ‘jalan perubahan’ lima tahun pertamanya itu. Dalam semua aspek dan untuk seluruh warga negara. Termasuk dalam mudik musim Lebaran kali ini?

Ya. Dalam Liburan Lebaran kali ini, saya merasakan benar ‘negara hadir’ untuk memastikan rakyatnya berpesta dan bersenang-senang dengan optimal, dengan masalah seminimal mungkin. Agak sulit untuk menyatakan zero mistake, tentu saja, tapi setidaknya, negara telah mencoba berbuat maksimal untuk membuat warganya –sebagai stakeholder sekaligus end user terbesar negeri ini- tersenyum puas.

Anda tentu paham, di negeri ini begitu banyak orang bekerja keras selama 11 bulan di rantau, untuk hasilnya dibanggakan pada masa sebulan libur Lebaran. Untuk menuju kebanggaan di bulan menemui orang-orang di kampung halaman, semua diawali dari perjalanan menuju kampung itu sendiri.

Saya sekeluarga merasakan, perjalanan mudik kali ini bisa membuat kami –saya, isteri dan dua buah hati- tersenyum. Jarak 546 kilometer kami tempuh 12,5 jam dari rumah Ciledug, Tangerang menuju rumah orangtua di Sleman, Yogyakarta. Rekor ini, saya dan isteri yang gantian nyetir bukan tipe driver pembalap, jauh lebih baik dari catatan tempuh libur Natal lalu.

Berangkat Minggu sore melalui pintu tol dalam kota Semanggi, kami melaju di perjalanan malam melewati tol Cikampek-Cipali-Palikanci-Pejagan-hingga melintasi tol fungsional Pemalang-Batang. Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono menepati janjinya bahwa dalam masa mudik Lebaran ini 995 km jalan tol dari Merak-Pasuruan sudah bisa dilalui ditambah 245 km jalan tol lintas timur Sumatera. Untuk Trans Jawa, jalur yang masih fungsional terdapat di ruas Pemalang-Batang 39 km dan Batang-Semarang 74 km.

Sepanjang tol fungsional Pemalang-Batang-Semarang, pemerintah melalui Kementerian PUPR, Jasa Marga dan BUMN Karya yang jadi kontraktor tol, mengusahakan keamanan dan kenyaamanan semaksimal mungkin bagi para pemudik. Penerangan permanen memang belum ada, tapi setiap beberapa kilometer dipasang semacam ‘lampu senter raksasa’ termasuk di tempat peristirahatan yang juga dioperasikan secara darurat. Di rest area tol fungsional, idealnya di jalan tol tempat istirahat ada setiap 10-20 km, disiapkan dua mobil toilet berukuran raksasa milik Ditjen Cipta Karya KemenPUPR.

Keluar dari tol fungsional di Weleri, Kendal, kami melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta melalui Sidorejo, Parakan, Temanggung, Secang hingga Magelang. Di sini, tampak bahu-membahu Polri-TNI membantu para pemudik. Mengarahkan ke mana jalan yang harus dituju, termasuk jika pilihannya melanjutkan ke tol fungsional arah Semarang lanjut ke Salatiga-Surakarta sampai ke Jawa Timur.

Negara berusaha hadir memenuhi hajatan warganya. Rakyat senang, pemerintah tenang. Meski mungkin ada yang garuk-garuk kepala kekurangan ide berita. Tiada berita kemacetan Simpang Jomin, Nagrek, dan juga pengulangan Tragedi Brexit 2016 membuat televisi seperti kering menyajikan live report. Padahal, good news juga adalah sebuah berita.

Kalimat “Di mana negara saat rakyat membutuhkan…” pun bisa diganti oleh para jurnalis yang mengedepankan mazhab berita positif: Di sini negara hadir saat rakyat membutuhkan…

Sleman, 12 Juni 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *