Good Day Mate, This Is Aussie, No Worries…

Tim sepakbola Australia tahu benar bagaimana rasanya tersingkir dari Piala Dunia secara menyakitkan. 26 Juni 2006 sore hari adalah pencapaian tertinggi mereka di ajang sepakbola terakbar di muka bumi ini. Stadion Fritz-Walter Kaiserslautern menjadi saksi perjuangan Mark Viduka dan kawan-kawan menjejak fase gugur Piala Dunia, prestasi yang belum pernah dicapai tim negeri kanguru kala lolos Piala Dunia 1974 Jerman Barat –dan kemudian tak pernah ambil bagian lagi sampai Piala Dunia kembali digelar di Jerman pada 2006 itu.

Piala Dunia 2006 memberi kesan manis bagi tim asuhan Guus Hiddink saat berhasil meraih posisi runner-up di penyisihan grup F. Sekali menang 3-1 lawan Jepang, imbang 2-2 dengan Kroasia dan takluk 0-2 dari Brasil cukup membawa tim berjuluk Socceroos masuk babak knock-out. Lawan yang menanti adalah juara grup E: Italia.

Pertandingan yang dipimpin wasit Luis Medina Cantalejo dari Spanyol menjanjikan hasil positif bagi bagi para pendukung Australia. Apalagi Italia, saat itu berstatus sebagai juara dunia tiga kali, harus bermain dengan 10 orang saat laga tersisa 39 menit akibat tebasan Marco Materazzi pada Mark Bresciano. Namun, keunggulan pemain tak bisa dikonversi jadi gol oleh Bresciano, Mile Sterjovski, Luke Wilkshire dan kawan-kawan.

Dan tibalah petaka itu. Saat Hiddink bersiap menghadapi babak perpanjangan waktu, terbukti pelatih asal Belanda ini menyimpan sisa jatah dua pergantian pemain untuk masa extra time, pelanggaran kontroversial terjadi di kotak terlarang Australia. Menit 90 lewat tiga menit, Fabio Grosso terjatuh di hadapan Lucas Neill. Wasit menunjuk titik putih, dan Francesco Totti menunaikan tugasnya sebagai eksekutor. Gol tunggal di ujung pertandingan membawa Italia terus melaju hingga akhirnya jadi juara dunia untuk kali keempat.

Australia merasa dirampas haknya untuk lolos ke perempat final. Diving Grosso menimbulkan celaan dari seluruh penjuru benua termungil di dunia itu, karena menganggap Italia menghalalkan segala cara untuk menang. Hal yang tak dibantah oleh sang pemain sendiri.

“Pertandingan ini sangat berat. Tapi kami perlu melangkah ke babak berikutnya. Bek lawan melakukan sebuah sliding tackle dan hanya sedikit mengenai kakiku. Aku perlu melakukannya. Bagiku itu penalti, walaupun sebenarnya tidak,” kata Grosso mengenang kisah ‘kepahlawanannya’.

Beberapa bulan setelah duka Australia itu, saya berkesempatan berkunjung ke Queensland. Meski kekalahan Piala Dunia Jerman amat menyesakkan dan membuat Hiddink mundur dengan terhormat dari tampuk kepelatihan Socceroos, toh sepakbola sejatinya bukan jenis sport yang paling didemenin warga benua yang hanya berpenduduk 24 juta jiwa.

“Jadi, apa olahraga favorit orang-orang di sini?” tanya saya pada Stuart Cranney, kawan yang menemani saya berkeliling salah satu negara bagian di timur Australia itu.

“Tergantung kamu menanyakannya pada bulan apa. Pada saat-saat tertentu jawabannya adalah Australian Rules Football, pada bulan lain bisa jadi rugby dan kriket,” katanya.

Meski sepakbola alias soccer bukan olahraga paling digemari, tapi konsistensi profesionalisme dan penyelenggaraan Hyundai A-League patut diacungi jempol. Hanya sekali menonton laga kompetisi kasta tertinggi sepakbola Australia antara Queensland Roar (saat itu nama klubnya belum berubah jadi Brisbane Roar dan belum dibeli keluarga Bakrie) melawan Sydney FC di Stadion Suncorp Brisbane sudah memberikan impresi tak terlupa. Bak nonton pertandingan di liga-liga papan atas Eropa.

Saya ingat, saat itu laga digelar mulai pukul tujuh malam, dengan alasan sederhana: kalau siang cuaca Kota Brisbane pada Januari sangat panas, nyaris mencapai 30 derajat Celcius. “Selain itu, toh stadion ini dilengkapi penerangan yang memadai,” kata Scott Curtis, teman sekantor yang juga gila bola.

Serunya laga sudah tergambar sejak siang hari. Di downtown Brisbane, lalu-lalang supporter berseragam jingga melintas penuh semangat, bersiap menonton sepakbola laksana rekreasi keluarga. Nongkrong di sebuah restoran cepat saji, tampak juga pendukung Sydney FC bertetirah sejenak setelah menempuh perjalanan dengan pesawat. Tak ada keributan, meski mereka jelas-jelas memakai seragam biru laut memasuki kandang singa. Nonton sepakbola adalah rekreasi yang menyenangkan bagi orang Aussie.

Kini, Australia datang lagi di Piala Dunia. Mereka memang tak absen di perhelatan 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brasil, tapi masih belum bisa mengulang prestasi tim Hiddink pada 2006 yang berhasil melaju dari babak fase grup.

Lolosnya Mile Jedinak dan kawan-kawan ke Rusia pun bisa dibilang terseok-seok. Jalan mereka amat tajam dan berliku. Berada di posisi ketiga fase grup B penyisihan 12 besar zona Asia di bawah Jepang dan Arab Saudi, The Socceroos harus menghadapi Suriah sebagai tim peringkat ketiga grup A.

Simpati dunia ada pada Suriah, negara yang luluh lantak akibat konflik tapi bisa melangkah sejauh itu. Bermain seri 1-1 pada laga kandang Suriah yang meminjam tempat di Melaka Malaysia, Australia butuh babak perpanjangan waktu pada laga kedua di Sydney yang berakhir 2-1 untuk kemenangan tuan rumah.

Sampai di situ, tiket ke Rusia belum di tangan. Masih ada satu babak play-off lagi melawan Honduras, sebagai peringkat keempat kualifikasi zona Concacaf. Kedua tim menempuh perjalanan antar benua dalam waktu lima hari. Beruntung, Australia away duluan, bermain imbang 0-0 di San Pedro Sula, Honduras lalu menang 3-1 di Sydney yang membuat tim asuhan Angelos Postecoglou memastikan diri ke Rusia. Dua pekan setelah membawa Socceroos kembali ke Piala Dunia, pelatih asal Yunani berkebangsaan Australia itu memilih mundur.

“Setelah memikirkan dengan matang dan pencarian dalam jiwa, perjalanan saya sebagai pelatih Socceroos berakhir,” kata Ange Postecoglou pada konferensi pers di Sydney Cricket Ground. Empat tahun melatih timnas Aussie, Ange membawa anak asuhnya lolos ke Piala Dunia 2014, memenangi Piala Asia 2015, dan kini lolos ke Piala Dunia Rusia. Posisinya segera digantikan Lambertus van Marwijk, coach asal Belanda yang nasibnya nyaris serupa: berpisah dengan Arab Saudi setelah membawa tim didikannya meraih tiket ke Rusia.

“Is tonight the beginning of another Golden Generation?” Pertanyaan itu muncul di cuitan paling atas akun resmi @Socceroos menjelang laga perdana timnas Australia melawan Prancis. Pertandingan perdana penyisihan Grup C di Kazan Arena sore ini akan menjadi pembuktian generasi baru sepakbola Australia mencoba memecahkan rekor para pendahulunya 12 tahun silam. Lolos dari fase grup melewati Prancis, Peru dan Denmark adalah ujiannya.

Pada cuitan lain, akun Kedutaan Besar Belanda di Canberra @NLinAustralia mengirim pesan, “Kami sangat bangga pada pelatih asal Belanda Bert van Warwijk dan berharap keberuntungan terbaik menyertai The Socceroos melawan Prancis malam ini!”

Tentu dua sebab pewakilan Belanda di Aussie begitu antusias. Pertama, tim Oranye tak ikut berpartisipasi di gelaran Piala Dunia kali ini, dan mereka merasa terwakili dengan kehadiran Bert di timnas Australia.

Kedua, Prancis adalah tim yang menyingkirkan Belanda di fase grup kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Total skor 5-0 dalam dua pertemuan home and away kualifikasi grup, termasuk kekalahan menyakitkan 0-1 dari gol Paul Pogba di Amsterdam Arena, 10 Oktober 2016.

Jadi, bisakah Sooceroos mengulang prestasi di Jerman dengan lolos dari fase grup di Rusia? Diawali dengan merebut poin melawan Prancis, sang runner-up Piala Eropa 2016? Sebuah perjuangan berat, sesusah tantangan bagi kanguru dan koala untuk mendaki puncak Menara Eiffel di Paris setinggi 324 meter.

“Tentu kami paham kualitas individu pemain Prancis di berbagai klub terbaik di dunia. Di atas kertas, mereka lebih baik dari kami. Tapi, beberapa pekan terakhir ini kami mencoba bekerja keras untuk bermain sebagai sebuah tim yang kompak, dan bukan sebagai kekuatan orang per orang,” kata pemain depan Australia Mathew Leckie.

Winger kelahiran Melbourne yang bermain di Hertha Berlin dan sudah mengemas 8 gol untuk timnas Australia ini menambahkan, “Kami ada di Piala Dunia kali ini untuk lolos dari fase grup. Fokus pertama kami melewati Prancis.”

Bagi para warrior Australia, berjuang maksimal adalah yang utama, apapun hasilnya, dengan ringan selanjutnya mereka akan berucap, “No Worries, Mate…”

Nogotirto, Sleman, 16 Juni 2018

  • Agustinus ‘Jojo’ Raharjo, penggemar sepakbola, saat ini bekerja sebagai Tenaga Ahli Komunikasi Politik dan Informasi Kantor Staf Presiden

Seperti ditayangkan di

http://beritajatim.com/olahraga/331350/good_day_mate,_this_is_aussie,_no_worries%EF%BF%BD.html

dan https://jebreeetmedia.com/2018/06/good-day-mate-this-is-aussie-no-worries/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *