Suarez dan Siklus Naik Turun Empat Tahun

Untuk jadi sukses, kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Posisinya harus ada di pojok, ujung sekali. Kala itulah, ada orang yang menganggap kita sebagai ‘juru selamat’ dan kawan sejati. Tapi, dalam saat yang sama, niscaya ada orang yang menganggap kita sebagai ‘musuh bersama’. Kecuali berada pada posisi seperti itu, Anda akan jadi manusia yang selalu di tengah dan dianggap ‘biasa-biasa saja’.

Luis Suarez tahu betul hal itu. Maka, ia memberikan yang ‘terbaik’ bagi Uruguay saat timnas negaranya itu kembali lolos ke Piala Dunia Afrika Selatan 2010. Empat tahun sebelumnya, tim berjuluk ‘La Celeste’ alias ‘Satu Langit Biru’ ini absen di Piala Dunia Jerman. Di negeri Nelson Mandela, Generasi emas baru Uruguay –Suarez, Edison Cavani, Diego Forlan, Diego Godin, kiper Fernando Muslera dan kawan-kawan- berusaha berbuat semaksimal mungkin bagi bangsanya.

Penyisihan Grup A, tim yang dikapteni libero Diego Lugano itu jadi juara. Prancis sang runner-up 2006 dan tuan rumah Afsel ditinggalkan di babak pendahuluan ini. Dengan dua kali menang atas Afsel dan Mexico dan sekali seri lawan Prancis, Uruguay jadi juara Grup A menggandeng Mexico. Satu gol ditabung Suarez di fase grup.

Di fase gugur, dua gol Suarez memulangkan Korsel tanpa balas. Peserta Piala Dunia tinggal delapan, Uruguay bersua Ghana di perempatfinal. Di waktu normal, skor 1-1. Gol sepakan jarak jauh Sulley Muntari dibalas tendangan bebas klinis Forlan di babak kedua. Wasit Olegario Benquerenca dari Portugal menambahkan 2 x 15 menit perpanjangan waktu dan jika seri, berlanjut tos-tosan adu penalti.

Di menit akhir babak extra time, Ghana hampir mengunci kemenangan dramatis. Dalam sebuah kemelut usai tendangan bebas di area pertahanan Uruguay, sang striker Suarez memilih posisi di atas garis gawang. Ia sukses menghalau sepakan Stephen Appiah, tapi kemudian penyerang Ghana Dominic Adiyiah menyundul kembali ke arah gawang yang tak dapat dijangkau kiper Muslera. Buuum….

Haaaap…. Di waktu itulah, Suarez beraksi bak pemain voli menangkis bola dengan dua tangan. Kop Adiyah tak masuk jadi gol. Suarez dikeluarkan kena kartu merah. Uruguay belum kalah. Kemenangan dramatis Ghana ditentukan dengan penalti Asamoah Gyan di menit terakhir babak perpanjangan waktu.

Pada saat itulah, keberuntungan memihak Uruguay. Tendangan Gyan membentur mistar atas Muslera dan langsung keluar lapangan. Wasit pun langsung meniup peluit panjang pertanda pertandingan harus ditambah dengan babak adu penalti. Di sisi luar lapangan, Suarez yang diusir sempat-sempatnya nonton penalti Gyan sambil menggigit jerseynya. Ia bersorak kegirangan saat handsballnya tak otomatis membuat tim asuhan Oscar Tabarez tersingkir.

Sial bagi negara di barat Teluk Afrika. Di babak adu penalti Gyan memang mencetak gol, tapi Uruguay yang menang dengan total skor 4-2. “Tangan Tuhan sekarang jadi milikku. Tangan Tuhan-ku adalah Tangan Tuhan yang asli,” kata Suarez. Ia menyitir Hand of God nya Diego Maradona pada Piala Dunia 1986. Uruguay mencapai semifinal dan berakhir sebagai juara keempat Piala Dunia 2010, Suarez dikenang sebagai pahlawan.

Empat tahun berselang di Piala Dunia Brasil, Suarez jadi pesakitan bagi rakyatnya. Uruguay yang masih dilatih Tabarez lolos dari Grup D bersama Kosta Rika meninggalkan Inggris dan Italia yang harus angkat koper. Di partai terakhir grup, Uruguay mengalahkan Italia 1-0, tapi di sinilah Suarez kena hukuman panjang usai laga kelar.

Meski tak kena kartu saat pertandingan yang dipimpin wasit Marco Rodriguez dari Mexico selesai, Suarez dilarang tampil dalam sembilan pertandingan internasional oleh FIFA karena menggigit pundak kiri bek timnas Italia Giorgio Chiellini.

FIFA memutuskan Suarez bersalah dan dia dilarang bermain dalam sembilan laga internasional. Ini adalah sanksi penangguhan pertandingan terberat yang pernah ada dalam sejarah Piala Dunia. Suarez juga mesti membayar denda berkisar £66 ribu atau sekitar Rp1,2 miliar.

“Luis Suarez ditangguhkan masa bermainnya selama sembilan pertandingan resmi. Pertandingan pertama yang tidak bisa ia mainkan adalah pertandingan melawan Kolombia dalam babak 16 besar Piala Dunia pada 28 Juni 2014,” demikian bunyi pernyataan resmi dari FIFA.

Larangan masuk ke stadion juga diterapkan kepada Luis Suarez berdasarkan Pasal 21 dari Kode Disiplin FIFA. Dalam pasal tersebut, Suarez dilarang memasuki stadion mana pun selama periode hukuman.

Nasib Uruguay tanpa Suarez berhenti di babak ke-16 besar usai disingkirkan Kolombia 2-0. Suarez dicerca di mana-mana. Tak hanya di tanah kelahirannya, tapi juga di Inggris, tempatnya mencari nafkah. Maklum, ia juga berandil besar membuat dua gol dengan menyingkirkan Inggris dari fase grup. Maka, di musim kompetisi baru dua bulan usai Piala Dunia, Suarez pindah dari Liverpool ke Barcelona.

Kini, Suarez hadir kembali di Rusia. Pada partai perdana, Uruguay susah payah menaklukkan Mesir 1-0. Suarez main penuh tapi tak mencetak gol. Suporter Uruguay dilanda cemas dan berharap bintang mereka bisa kembali bersinar. “Suarez belum bersinar, tapi kami berharap ia bisa menunjukkan siapa dirinya sebenarnya,” kata Fabian Vuissa, yang datang jauh-jauh dari Montevideo ke Rostov.

Pukul 10 malam Waktu Indonesa Barat hari ini, Suarez akan menikmati partainya ke-100 bersama timnas Uruguay. Ini akan juga menjadi laga ke-10 Suarez di putaran final Piala Dunia (5 kali di 2010, 3 kali di 2014 dan baru sekali di 2018). Di usia ke-31 tahun, kita belum tahu apakah Suarez bisa tampil lagi di Qatar empat tahun lagi, jika Uruguay kembali lolos ke Piala Dunia.

“Caps 100 bersama timnas adalah angka yang sangat besar. Tapi itu bukan sekadar angka, itu sesuatu yang amat berarti untuk seorang pemain,” kata Oscar Tabarez, 71 tahun, pelatih tertua di Piala Dunia 2018 yang telah membawa timnas negaranya ke empat Piala Dunia sejak 1990.

Sejauh ini Suarez telah mencetak 51 gol bagi timnas, dengan tiga gol di antaranya (gol ke 14, 15, dan 16) dicatatkan di Gelora Bung Karno dalam hattrick ke gawang timnas Indonesia yang dijaga Markus Haris Maulana dalam pertandingan persahabatan 8 Oktober 2010. Kala itu, Uruguay melumat Boaz Solossa dan kawan-kawan dengan skor 7-1.

“Suarez tak bermain bagus saat lawan Mesir, tapi pemain bukanlah robot yang bisa diprogram. Mereka butuh dukungan. Satu hal, potensinya masih utuh,” kata Tabarez.

Malam ini, Suarez, ayah sepasang anak itu akan membuktikan, apakah ia bisa pulang dari Rusia sebagai pemenang dengan tersenyum. Menunjukkan siklus empat tahunan sebagai pahlawan, pecundang, dan kini jadi hero lagi

Untuk jadi sukses, kita tak mungkin menyenangkan semua orang. Maka, wahai Arab Saudi, bersiaplah menerima pelampiasan Luis Alberto Suarez Diaz!

Bina Graha, 20 Juni 2018

  • Agustinus ‘Jojo’ Raharjo, penggemar sepakbola, saat ini bekerja sebagai Tenaga Ahli Komunikasi Politik dan Informasi Kantor Staf Presiden

Seperti ditayangkan di

http://m.beritajatim.com/olahraga/331575/suarez_dan_siklus_naik_turun_empat_tahun.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *