Jerman Melawan Kutukan Juara Bertahan

Pasar taruhan hancur bukan main saat ‘Tim Panser’ Jerman tak bisa membalas gol tunggal Hirving Lozano, pemain sayap timnas Mexico yang sehari-hari merantau di Eindhoven, Belanda. Datang ke Rusia sebagai salah satu tim favorit, Jerman –pemilik empat bintang gelar Piala Dunia di jerseynya- berjuang keras melawan kutukan sebagai juara bertahan.

Empat tahun silam di Brasil, tim yang masih diasuh Joachim Low begitu perkasa menaklukkan tuan rumah dengan skor 7-1 di semifinal. Kemenangan susah payah atas Argentina 1-0 di partai pemuncak melalui babak perpanjangan waktu menjadikan Jerman sebagai tim Eropa pertama yang mampu merebut Piala Dunia saat turnamen digelar di benua Amerika.

Kutukan juara bertahan? Mungkin berlebihan. Tapi lihatlah sejarah beberapa perhelatan belakangan. Rasanya hanya Brasil pada Piala Dunia 2002 yang mampu mematahkan mitos ini.

Piala Dunia 2014 digelar sebagai karpet merah bagi Spanyol, tim yang sukses menggabungkan gelar Piala Dunia 2010 dengan predikat jawara Piala Eropa 2008 dan 2012. Namun, generasi emas Espana pudar di Tanah Samba. Juara bertahan ada di grup B bersama Belanda, Australia, dan Chili.

Pertandingan perdana 13 Juni 2014, Spanyol dihajar Belanda 5-1 di kota Sao Salvador. Dwigol Robin van Persie membuat kiper legendaris Iker Casillas, sama-sama memegang ban kapten kesebelasan, bak anak kecil. Arjen Robben juga mencetak dua gol, ditambah satu lagi karya Stefan de Vrij membuat gol awal Xabi Alonso dari titik putih tidak berarti apa-apa.

Partai kedua, tim asuhan Vicente del Bosque terbang ke Rio de Janeiro. Di sini mereka memastikan diri angkat koper lebih awal setelah tumbang 0-2 dari Chili. Satu-satunya tiga angka hiburan yang menghindarkan ‘Tim Matador’ dari posisi juru kunci saat membekap Australia 3-0 di Arena da Baixada, Curitiba, lewat gol-gol David Villa, Fernando Torres, dan pemain pengganti Juan Mata. Spanyol, sang kampiun tiga turnamen besar terakhir, pulang lebih dulu dari pagelaran Piala Dunia ke-20 sepanjang sejarah.

Nasib buruk juga menimpa Italia di Afrika Selatan, 2010. Publik mengingat kemenangan adu penalti di Stadion Olimpiade Berlin yang diwarnai pengusiran terhadap Zinedine Zidane akibat menanduk Marco Materazzi yang menghina nilai-nilai luhur keluarganya.
Di Piala Dunia Afsel, Italia bahkan pulang lebih dini sebagai status juru kunci Grup F. Hanya mengantongi nilai dua hasil dua kali seri dengan Paraguay dan Selandia Baru serta kalah 2-3 di partai akhir melawan Slovakia, tim besutan Marcello Lippi menundukkan kepala kembali ke Negeri Pizza.

Piala Dunia 2006 di Jerman, Brasil lolos dari kutukan ini. Sebagai kampiun di World Cup 2002 Korea-Jepang, Brasil melangkah hingga ke babak perempatfinal sebelum dihentikan Prancis lewat gol tunggal Thierry Henry di Frankfurt.

Omong-omong soal Prancis, mereka mendapatkan generasi emas lewat angkatan Zidane, Henry, kiper Fabian Barthez, Laurent Blanc, Marcel Desailly, Patrick Vieira, Youri Djorkaeff, dan kapten yang kini jadi pelatih timnas Didier Deschamps. Generasi ini mempersembahkan trophy World Cup 1998 dan gelar juara Piala Eropa 2000.

Namun, ‘Tim Ayam Jantan’ jadi pudar semua nilai-nilai kejayaannya begitu berpartisipasi di Piala Dunia 2002 saat terhenti sebagai pembuncit di Grup A. Anak-anak didik Roger Lemerre hanya beroleh nilai 1 tanpa memasukkan gol sama sekali. Selain imbang 0-0 dengan Uruguay, Prancis mengalami pertandingan pembukaan yang menyesakkan kala dipermalukan tim Afrika 0-1 lewat gol tunggal pemain tengah Senegal, Papa Diop. Alih-alih bisa bangkit, di partai terakhir penyisihan, Zidane dan kawan-kawan tak berdaya menghadapi ‘Tim Dinamit’ Denmark dan keok 0-2.

Itulah kutukan juara bertahan yang terjadi pada Piala Dunia 2002, 2010, dan 2014 yang menggelincirkan Prancis, Italia dan Spanyol.

Bukan membandingkan sesama buah apel, tapi peristiwa unik macam ini juga pernah terjadi di Liga Indonesia. PSIS Semarang jadi juara di musim 1998/1999 tapi semusim berikutnya terdegradasi karena hanya berada di posisi ke-13 dari 14 tim peserta Wilayah Timur.

Petrokimia Putra Gresik jadi kampiun di musim 2002 usai mengalahkan Persita Tangerang dalam final di Stadion Gelora Bung Karno, namun terperosok di peringkat ke-18 pada musim depannya saat berganti nama jadi Gresik United. Tim dari pinggiran kota Surabaya ini pun menerima nasib kena relegasi bersama PSDS Deli Serdang dan Barito Putra.

Di musim 2004, Persebaya jadi juara setelah menyelesaikan kompetisi penuh dan mengumpulkan 61 angka dari 34 pertandingan. Poin yang sama dengan PSM Makassar namun tim ‘Bajul Ijo’ unggul selisih gol.

Sayang semusim berikutnya, Persebaya dihukum turun ke kasta terbawah akibat mogok main melawan Persija pada partai delapan besar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Sepakbola, apalagi di ajang sebesar Piala Dunia, selalu menghadirkan kejutan. Keberuntungan kadang datang bagi kesebalasan tak diduga, tapi nasib apes bisa juga hadir bagi tim dengan nama besar.

Mampukah Jerman, yang tak membawa Mario Gotze sang pencetak gol keberuntungan di final empat tahun lalu, menepis mitos sial ini pada laga kedua melawan Swedia Minggu dini hari nanti?

Ataukah mereka meneruskan daftar pelengkap penderita kampiun yang terdepak lebih awal sebagaimana nasib Prancis, Italia dan Spanyol?

Saya tahu, ada banyak teman saya penggemar Jerman yang membaca tulisan ini sedang tak tenang. Kawan-kawan saya ini tak suka mitos buruk bagi juara bertahan Piala Dunia terus terulang…

Mahkota Simprug, 23 Juni 2018

Seperti ditayangkan di

http://m.beritajatim.com/olahraga/331835/jerman_melawan_kutukan_juara_bertahan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *