England, How Low Can You Go?

Kalau ditanya, apa negara favorit Anda dalam turnamen akbar sepakbola seperti Piala Dunia dan Piala Eropa –di mana Indonesia tak berperan serta- tentu agak susah menjelaskan alasan mengapa kita mendukung tim kesayangan itu. Sangat subyektif.

Saya menduga seorang kawan saya menjadi pendukung berat Jerman karena dalam dirinya mengalir separuh darah negeri Bavaria lewat garis ibunya. Sementara kawan saya lain setia menggemari Portugal karena bangga dengan gen ‘Timor Raya’ di tubuhnya.

Lalu, apa alasan Anda men-support tim tertentu pada Piala Dunia 2018 ini? Ada keturunan dari sana juga? Pernah ke negara itu? Senang pada kualitas permainan sepakbolanya? Atau karena terpaksa dapat ‘undian arisan’ yang tak bisa ditolak?

Saya tak bisa menjelaskan mengapa saya loyal mendukung timnas Inggris, meski prestasi tim ‘St George Cross’ ini tak pernah membahagiakan sepanjang hidup saya hingga detik ini. Inggris baru sekali jadi juara Piala Dunia pada 1966 saat perhelatan itu digelar di kandang mereka, dan tentu saja saya belum lahir di bumi ini.

Alkisah awal jatuh cinta itu terjadi pada Piala Dunia 1990, saat Inggris kalah adu penalti dari Jerman Barat di babak semifinal yang dilangsungkan di Stadion Delle Alpi, Turin. Dua eksekusi Stuart Pearce dan Chris Waddle gagal menggetarkan jala gawang Bodo Ilgner setelah waktu normal berakhir imbang 1-1. Inggris terhenti di babak empat besar dan kalah lagi dalam partai perebutan posisi ketiga melawan Italia.

Demikianlah, Inggris terpuruk dari turnamen besar ke turnamen besar, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia. Meski di babak kualifikasi, tim berlogo Tiga Singa ini tampil amat cemerlang dan kerap jadi juara grup.

Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat. Cukup memalukan karena Inggris yang saat itu dilatih Graham Taylor gagal lolos ke negeri Abang Sam.

Empat tahun berselang, di era kejayaan generasi emas Prancis, timnas Inggris ada di posisi ke-9 dari 32 peserta. Lolos ke fase gugur sebagai runner-up Grup G bersama Rumania, Inggris terhenti di perdelapanfinal. Kisah kontroversial perseteruan David Beckam dengan Diego Simone membuat Inggris berkurang satu pemain sejak menit ke-47. Pertandingan normal berakhir 2-2 dan negeri yang mengaku tanah asal sepakbola ini kembali kena apes tos-tosan keok 3-4. Paul Ince dan David Batty jadi pesakitan sebagai eksekutor yang gagal menjalankan tugasnya.

Piala Dunia 2002 untuk kali pertama digelar di Asia. Tim asuhan Sven-Göran Eriksson melangkah lebih maju. Babak 16 besar dilewati dengan mulus dengan menghajar Denmark 3-0 lewat gol Rio Ferdinand, Michael Owen dan Emile Heskey. Di babak perempatfinal, gol tendangan bebas jarak jauh Ronaldinho membuat kiper Dave Seaman bak anak belajar bola.

Piala Dunia 2006 digelar di Eropa. Jerman tak jauh dari Inggris. Tapi di sini kembali ‘tulah’ kalah adu penalti kembali menghinggapi tim yang masih dibesut Eriksson. Sudah ada di babak delapan besar, mereka gagal melangkah lebih jauh karena ‘kurang beruntung’ dibandingkan Portugal, dengan tendangan Frank Lampard, Steven Gerrard dan James Carragher sebagai terdakwa penyebab gagal dalam ronde shootout.

Tapi, aneh juga kalau dibilang kurang beruntung menghadapi Portugal. Karena pada dua tahun sebelumnya, dalam gelaran Piala Eropa di Portugal, Inggris juga kalah adu penalti lawan Portugal. Kala itu, David Beckham dan Darius Vassell yang jadi biang kegagalan.

Selanjutnya, grafik timnas Inggris menurun drastis. Pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, tentu membingungkan melihat posisinya di fase grup ada di bawa Amerika Serikat. Tapi masih untunglah tim besutan Fabio Capello ini masih bisa lolos dari Grup C setelah seri 1-1 dengan AS, imbang lagi 0-0 dengan Aljazair dan baru menang di partai terakhir 1-0 lewat Slovenia.

Di babak 16 besar tampaklah kualitas Inggris sebenarnya. Bertemu Jerman, tim yang dikapteni Steven Gerrard ini babak belur dipermak 1-4.

Lebih parah lagi empat tahun silam di Brasil. Kasat mata orang melihat, ada empat tim di Grup D, Italia, Inggris, Kosta Rika dan Uruguay, maka jagoan untuk lolos ke babak kedua dipasangkan pada dua tim awal. Faktanya, justru Kosta Rika dan Uruguay lah yang melenggang hingga fase gugur.

Ditangani Roy Hogson, Inggris keok 1-2 dari Italia, dihajar Uruguay 1-2 dan imbang tanpa gol lawan Kosta Rika. Pulanglah mereka lebih dini, dengan status juru kunci grup.

Dua tahun lalu dalam gelaran Piala Eropa di Prancis, timnas Inggris kembali membawa malu saat dihentikan Islandia, negara di utara Eropa yang kultur bolanya tak ada seujung kukunya klub-klub anggota Football Association.

Harapan menyeruak pada Piala Dunia 2018 di Rusia kali ini. Figur Harry Kane dianggap jadi tumpuan yang tak menyia-nyiakan kepercayaan saat partai perdana membuat dwigol lawan Tunisia. Golnya di menit akhir membawa Inggris membawa tiga poin dengan skor 2-1.

Malam kemarin, pesta gol lawan Panama 6-1 menjadikan Inggris menjadi tim dengan kemenangan terbesar pada gelaran Piala Dunia Rusia ini. So far. Sebelumnya, Rusia menggulung Saudi 5-0 dan Belgia menghajar Tunisia 5-2. Tiga gol Harry Kane –dua lewat penalti dan satu tendangan  Ruben Loftus-Cheek bias kena kakinya- membuat fans Inggris sumringah di Rusia. Tak sia-sia mereka hadir di tengah panasnya situasi politik elit pemerintahan kedua negara.

Pertanyaannya, seberapa jauh Inggris bisa melangkah di Rusia? How low or how far can they go? Kalau mereka bisa seri saja melawan Belgia, maka anak buah Gareth Southgate akan jadi juara Grup G. Lawannya di babak 16 besar bisa jadi salah satu di antara Senegal atau Kolombia. Atau bisa juga Jepang.

Kalau mampu melewati fase gugur pertama itu, di babak delapan besar sudah ditunggu raksasa yang siap menghentikan lajunya. Bisa jadi Brasil atau Jerman jadi lawan England di babak perempatfinal. Mampukah mereka bisa melaju ke semifinal, yang terakhir dicapai pada 1990?

Sebagai penggemar timnas Inggris, saya melewatkan dua kali pertandingan awal mereka di Piala Dunia 2018. Saat kemenangan dramatis melawan Tunisia, saya dan keluarga masih berada dalam perjalanan arus balik di sekitar Tol Cikampek, Selasa dini hari itu.

Sementara Minggu malam tadi, pesawat Airbus A 330-300 Thai Airways yang saya tumpangi menuju Bangkok lepas landas dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pukul 19.00 WIB, persis di waktu yang sama wasit Ghead Grisha dari Mesir meniupkan peluit sepak mula antara Inggris melawan Panama.

Senin siang hari saat Anda membaca tulisan ini, kalau Tuhan izinkan semuanya lancar, saya berada dalam pesawat Thai Airways lain menuju Domodedovo Airport di kota Moskow. Di sana kita akan ikuti bersama, sejauh mana Inggris bisa pulang tanpa meringis seperti Piala Dunia dan Piala Eropa sebelumnya yang membuat para fans setianya rutin terkena ‘PHP’.

Anyway, klub mana yang Anda dukung di Piala Dunia kali ini? Apa alasan subyektifnya? Ikut-ikutan atau konsisten?

Salam dari Lat Krabang, Bangkok, Senin pagi, 25 Juni 2018

Seperti ditayangkan di http://beritajatim.com/olahraga/331943/england,_how_low_can_you_go?.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *