Follow The Moskwa, Selamat Memilih dari Rusia

“I follow the Moskva
Down to Gorky Park
Listening to the wind of change
An August summer night
Soldiers passing by
Listening to the wind of change….

Senang melihat beberapa grup percakapan telepon pintar pagi ini –tulisan ini dibuat jam 8 pagi waktu Moskow yang 4 jam lebih lambat daripada Waktu Indonesia Barat- berisi kawan-kawan memamerkan jejak tinta di jarinya. Hari ini ada 171 Pemilihan Kepala Daerah serentak yang digelar di berbagai tempat di Indonesia: 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak.

Ini jumlah Pilkada serentak kedua terbanyak yang dihelat setelah pesta politik pertama serupa pada 15 Desember 2015 berlangsung untuk  269 pemilihan kepala daerah, yang terdiri dari 9 tingkat provinsi–pemilihan gubernur; 30 kota–pemilihan wali kota; dan 224 kabupaten–pemilihan bupati.

Pilkada serentak kedua dilangsungkan pada 15 Februari 2017 diselenggarakan di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota.

Seharusnya, hari ini saya memiliki hak suara untuk mencoblos di pemilihan walikota Tangerang, yang diikuti pasangan petahanan Arief Wismansyah-Sachrudin ‘melawan’ kotak kosong. Tapi, mohon maaf Pak Arief, saya sedang berada di sebuah kota yang berjarak 9.294 kilometer dari Tangerang.

Selasa sore kemarin, di antara susahnya menemukan orang Rusia yang lancar berbahasa Inggris, saat menumpang Moscow Metro alias kereta bawah tanah Moskow, saya nyaman bercakap dengan Andrei Lazko. Bapak seorang anak ini profesional yang sehari-hari bekerja sebagai penerjemah alias interpreter acara-acara internasional.

Perjalanan di Moscow Metro tergolong menyenangkan selain karena jawal headway kedatangannya relatif dekat dalam hitungan menit, juga nyaman kondisi di dalamnya. Pada detik saat berlangsungnya pertandingan Piala Dunia, Moscow Metro menyiarkan live melalui layar-layar monitor di sisi kereta. Dan khusus saat Moskow menggelar laga, kereta bawah tanah dioperasikan hingga pukul 3 subuh. Kemarin, kami nonton live Argentina melawan Nigeria di sela-sela perjalanan kereta. Argentina memperpanjang nafas di Piala Dunia 2018 dengan menang 2-1 dan berhak menjadi runner-up Grup C, memastikan bertemu Juara Grup A Prancis pada akhir bulan ini di Kazan.

Dalam perjalanan bersama sekitar tujuh perhentian dari Universitas Negeri Moskow tempat kami nobar Prancis melawan Denmark menuju stasiun Okhotny Ryad di sisi Red Square, kami berbincang banyak hal. Dari sepakbola, politik sampai kehidupan pribadi.

“Jadi, apa resepnya seorang pemimpin seperti Vladimir Putin bisa terpilih sampai empat periode?” tanya saya setelah bosan berbincang tentang Piala Dunia, cara Rusia memfasilitasi event akbar ini, serta joke ringan tentang rasio perempuan dan pria di negeri berpenduduk 144 juta jiwa itu.

“Pada dua periode awalnya, Putin benar-benar mengangkat kualitas hidup rakyat negeri ini,” kata Lazko, yang karena pekerjaannya sudah sempat menginjak Asia Tenggara, termasuk Jakarta.

Lalu, ia pun berkisah, dalam sejarah Rusia –sejak masih bernama Uni Soviet- tak bisa lepas dari ‘strong leadership’. “Dengan kepemimpinan yang stabil kami bisa membangun,” ungkapnya dengan memaparkan contoh kekuasaan para pemimpin Monarki Rusia, sejak era Tsar hingga masa-masa kuat pemerintahan seperti Joseph Stalin, Nikita Khruschev dan Leonid Brezhnev. Tak lupa, ada kritik tajamnya untuk beberapa presiden yang menjabat beberapa era tepat sebelum Putin.

Indeed. Pemimpin yang kuat, pemimpin yang bagus bagi sebuah bangsa adalah pemimpin yang visioner.

Hari kedua di Moskow kemarin, kami mengunjungi Stadion Luzhniki yang mempertandingkan salah satu partai pamungkas Grup C antara Prancis melawan Denmark. Stadion berkapasitas 78.011 tempat duduk ini dibuka secara resmi sejak 31 Juli 1956 dan kemudian menjadi venue utama penyelenggaraan Olimpiade 1980. Luzhniki adalah bukti visioner dan revolusionernya seorang Soekarno. Bapak bangsa dan salah satu yang tercatat sejarah sebagai pendiri Indonesia.

Di masa-masa kuat pemerintahannya, Presiden Soekarno berkunjung ke Moskow dan takjub atas kemegahan Luzhniki saat berpidato di sana. Bung Karno pun memutuskan bahwa ibukota Indonesia memerlukan kompleks olahraga sejenis.

Uni Soviet lalu memberikan pinjaman khusus sebesar 12,5 juta dolar AS. Arsitek dan insinyur Soviet pun dikerahkan untuk pembangunan komplek olahraga ini, yang kemudian menjadi puncak penyelenggaraan Asian Games 1962 dan Games of The New Emerging Forces alias Ganefo 1963.

Memilih memimpin itu tidak mudah. Tapi, setidaknya carilah mereka yang berwawasan jauh ke depan, menjaga stabilitas politik dan kemanusiaan secara seimbang, dan tak lupa, menjaga anak-anak kita, generasi yang akan datang, merawat dan merealisasikan mimpi-mimpi indahnya.

Saat menyusur Red Square alias Lapangan Merah lengkap dengan Benteng dan Istana Agung Kremlin serta Katedral Saint Basil yang bersebelahan dengan Makam Vladimir Lenin, kami amat bersemangat menyanyikan refrain lagu yang populer dilejitkan band asal Jerman, Scorpions, pada Januari 1991 itu.

“Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow share their dreams
With you and me

Walking down the street
Distant memories
Are buried in the past forever

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow dream away
In the wind of change …”

Krasnoproletarskaya Street, Moskow, Rabu pagi, 27 Juni 2018

Seperti ditayangkan di http://beritajatim.com/olahraga/332198/follow_the_moskwa,_selamat_memilih_dari_rusia.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *