Menyongsong Liga 1 yang Bukan Kompetisi ‘Kaleng Kaleng’

Kompetisi sepakbola kasta tertinggi di Indonesia bersiap digelar. Menurut PT Liga Indonesia Baru (LIB), Liga 1 bakal berputar pada 15 Mei 2019, molor sepekan dari rencana sebelumnya 8 Mei 2019.

Sebagai sebuah ajang olahraga bertajuk ‘profesional’, tentu ada syarat dan standar yang harus dipenuhi. Maka, saat PT LIB mengajukan permohonan rekomendasi kepada Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) –sebagai syarat agar perizinan event keluar dari pihak kepolisian kepada penyelenggara kegiatan- gerak cepat pun dilakukan.

Ketua Umum BOPI Richard Sam Bera menyatakan, pada prinsipnya BOPI menyambut baik permohonan rekomendasi kompetisi liga. Ini sesuai visi BOPI mendukung berkembangnya semua industri profesional olahraga Indonesia yang membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia

“Tapi sejalan itu, kita harus melakukan verifikasi ketat sebelum mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan kegiatan sebuah olahraga profesional,” tegasnya.

Richard memaparkan, beberapa hal menjadi perhatian utama BOPI sebelum mengeluarkan rekomendasi bagi LIB antara lain evaluasi pelaksanaan Liga 1 dan Liga 2 musim 2018, pelaksanaan Piala Presiden, dan hal-hal terkait ketaatan regulasi serta unsur-unsur profesionalisme klub peserta liga.

“Misalnya bagaimana status profesionalisme klub terkait badan hukum, kondisi keuangan, kontrak pemain, tunggakan gaji sebelumnya, persyaratan bagi pemain asing, pajak, peningkatan kapasitas wasit, infrastruktur, dan lain-lain,” kata Richard.

Maka, keluarlah Keputusan Ketua Umum BOPI Nomor 005/BOPI/KU/IV/2019 itu terkait pengawasan pelaksanaan verifikasi klub-klub peserta Liga 1 dan Liga 2. Mengingat waktu mepet, BOPI membentuk 4 tim untuk melakukan sampling pengawasan verifikasi yang dilakukan PT LIB di Padang, Lampung, Bali dan Singapura.

Sebagai koordinator tim verifikasi, akhir pekan lalu, saya kebagian berkunjung ke Stadion Mandala, Jayapura. Ini karena Persipura mendaftarkan arena kebanggaan mereka ini sebagai ‘home base’ tim ‘Mutiara Hitam’ pada Liga 1 2019. Namun, pada praktiknya, Boaz Solossa dkk bakal kesulitan menempati stadion yang diresmikan Pangdam XVII Cenderawasih Brigjen TNI Acub Zainal pada 18 Januari 1978 itu.

‘Komando Daerah Militer XVII Cenderawasih Mempersembahkan Lapangan Ini kepada Putra Putri Irian Barat. Semoga Selalu Jaya Di Lapangan Hijau’ demikian bunyi prasasti pualam yang masih tertempel di stadion berkapasitas 18 ribu tempat duduk itu, saat saya berkunjung ke Mandala, Minggu, 28 April 2019.

Persipura bakal absen dari rumahnya terkait persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional yang untuk kali pertama akan digelar di Tanah Papua tahun depan. Baik Stadion Mandala di wilayah Kota Jayapura, Stadion Barnabas Youwe milik Persidafon Dafonsoro Kabupaten Jayapura, maupun Stadion Papua Bangkit Sentani semuanya tengah disiapkan untuk perhelatan PON XX/2020.

Belum diputuskan ke mana tim asuhan Luciano Leandro ini akan berkandang pada kompetisi Liga 1, tapi pihak manajemen klub akan gembira jika permohonan mereka bermarkas di Yogyakarta disetujui. Dengan tinggal di Jogja, selain basis suporter mahasiswa asal Papua cukup banyak, biaya travelling ke berbagai daerah tentu akan lebih murah daripada riwa-riwi dari Jayapura ke berbagai titik di Indonesia.

Sekretaris Umum Persipura Jayapura, Rocky Bebena mengatakan, manajemen Persipura masih tetap mendaftarkan Stadion Mandala Jayapura sebagai tempat pertandingan Persipura.

“Kita sebenarnya berharap bisa gunakan stadion Papua Bangkit, tetapi karena belum diresmikan, maka kita tetap daftarkan stadion Mandala ke operator kompetisi untuk verifikasi,” kata Rocky Bebena.

Dikatakan pria yang juga Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Jayapura ini, bahwa pihak PT. Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi melakukan verifikasi beberapa perangkat stadion diantaranya kondisi lapangan, sistim drainase, tribun penonton, lampu stadion genset, fasilitas media, team benches and technical area, ruang inspektur pertandingan (IP) atau match officials (MO), dan ruangan teknis.

“Secara keseluruhan stadion ini sudah sesuai standar, karena lampunya awalnya 1300 lux, tahun 2017 penerangannya turun 900 lux, harapan kita tahun penerangnya jangan turun lagi,” akunya. Minggu malam kemarin, total verifikasi berlangsung hampir 4 jam termasuk untuk mengecek kekuatan lampu stadion yang baru dinyalakan pada pukul 19.00 Waktu Indonesia Tengah.

Tentu saja kami tak salah tetap ke Mandala meski stadion itu mungkin tak akan dipakai Persipura. Selain pendaftaran resminya masih mencantumkan Mandala sebagai ‘home base’, verifikasi sebuah tim sepakbola profesional tak hanya menyangkut infrastruktur lapangan.

“Misalnya bagaimana status profesionalisme klub terkait badan hukum, kondisi keuangan, kontrak pemain, tunggakan gaji sebelumnya, persyaratan bagi pemain asing, pajak, peningkatan kapasitas wasit, infrastruktur, dan lain-lain. Termasuk bagaimana klub memperhatikan aspek sporting atau pembinaan usia dini,” kata Richard.

BOPI juga meminta komitmen operator kompetisi terhadap jaminan keselamatan dan keamanan semua pihak. Pada musim kompetisi ke depan, BOPI menekankan jangan ada lagi suporter terlibat kekerasan, apalagi sampai timbul korban jiwa.

“Kalau sampai ada korban jiwa, kami tak ada opsi lain kecuali menghentikan kompetisi dengan cara mencabut Rekomendasi. Juga terkait penegakan hukum yang selama ini tidak konsisten, harap lebih diperhatikan. Padahal hal ini sebenarnya merupakan kunci dari integritas kompetisi itu sendiri,” jelasnya.

Meminjam istilah yang dipopulerkan Youtuber Maell Lee, ‘preman terkuat di Bumi’, sudah saatnya, Liga 1, Liga 2 dan juga kompetisi olahraga lain menerapkan standar profesional yang tidak ‘kaleng-kaleng’. Tidak asal-asalan, mendapatkan rekomendasi yang diterima secara formalitas yang hasilnya pun akhirnya tak bisa dipertanggungjawabkan.

Seandainya saja, parameter seperti ini konsisten diberlakukan. Tentu saja, kita tak akan khawatir klub-klub –dan juga operator kompetisinya- akan terengah-engah lalu mampus di tengah jalan.

Seandainya saja setiap klub seperti Persebaya: punya prestasi bagus, banyak pilihan lokasi latihan dan lapangan pertandingan memadai, tak pernah menunggak gaji, badan hukum jelas, punya pembinaan tim usia dini berjenjang, serta terjalinnya hubungan dengan suporter ‘Bonek’ –meski kadang tensinya naik dingin.

Selamat datang Liga 1, terlepas nanti apakah izin keramaian akan dikeluarkan pihak kepolisian sebelum atau sesudah 22 Mei sebagai patokan ‘berakhirnya’ keriuahan pascapemilu, tapi prosedur keluarnya rekomendasi yang bukan ‘kaleng-kaleng’ telah dilalui melalui standar tinggi.

*Agustinus ‘Jojo’ Raharjo, sehari-hari sebagai Tenaga Ahli bidang Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden. Kini juga aktif sebagai pengurus Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI)

seperti ditayangkan di https://jatimnet.com/menyongsong-liga-1-yang-bukan-kompetisi-kaleng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *