Akhir Pekan di Ngalam

Senang bisa berweekend sembari pulkam di Malang, kota pelajar yang lagi dingin-dinginnya. Rata-rata suhu sore sekitar 21 derajat Celcius, tentu saat tengah malam dan subuh semakin turun, mendekati musim semi di Eropa. (Saat ini aja Eropa lagi panas-panasnya!)

Kali ini, dalam tugas sebagai pengurus BOPI, Badan Olaraga Profesional Indonesia. Yang kebagian diawasi match Arema FC vs PS Tira Persikabo di Stadion Gajayana, Malang.

Dalam suasana laga pascapilpres, dan jelang pelaksanaan pilkades serentak di 269 desa di Malang, menarik menyaksikan ribuan penonton mengibarkan bendera2 kertas kecil bertulis, “Kami 💜 damai.”

Ada juga dua bannner diarak  keliling lapangan. “Kami Arema dan Aremanita Tolak Kerusuhan. Ayo Jogo Kota Malang, Jogo Jawa Timur…”

So far match ini ok, meski dengan beberapa catatan. Lagu-lagu memaki kelompok suporter lain masih terdengar. Padahal, yang jadi obyek nyanyian gak ada di stadion. Dan, bukankah saat tim kesayangan tertinggal, sebaiknya pendukung berkonsentrasi menyemangati tim pujannya saja? Tak usahlah ngurus orang lain, hehehe..

Aremamania masih dalam koridor tertib. Meski ada juga yang ‘kelepasan’. Begitu peluit panjang ditiup wasit asal Yogya, ada suporter turun ke lapangan untuk mengirim rasa mangkelnya langsung pada kiper yang dianggap jadi biang kerok.

Saat pemain akan meninggalkan stadion, Aremania menunggu para idolanya sambil bernyanyi mengutarakan kecewanya pada sang pelatih, “Miloooo… apa maumu… Arema, sekarang kalah…” Mereka sedih, tapi kreatif.

Inilah sepakbola Indonesia. Pelan-pelan kita berbenah. Ya penyelenggaraan kompetisinya, ya kualitas teknis permainannya, tapi juga jangan lupa pembenahan karakter supporternya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *