Tiga Buku Persebaya, Jejak Tim Juara

TIDAK semua tim sepak bola di Indonesia punya buku tentang mereka. Tapi di antara yang sedikit itu, Persebaya cukup beruntung. Buku referensi tentang tim berjuluk “Bajul Ijo” kebanggaan Arek-arek Suroboyo ini tergolong tak sedikit.

Setidaknya ada tiga buku tentang Persebaya. Pertama, “Drama Persebaya: Sehimpun Reportase Jatuh Bangun Persebaya Surabaya Mengarungi Liga 1 2018”,karya Oryza Ardyansyah Wirawan, jurnalis Beritajatim.com yang sehari-hari hidup di Jember.

Kedua, “Persebaya and Them” yang berkisah riwayat pemain dan pelatih asing yang pernah membela Persebaya. Penulisnya, Dhion Priharyanto Prasetya, (kini pemerhati sekaligus ‘sejarawan’ Persebaya karena konsisten mencatat dan punya begitu banyak referensi tentang tim yang berdiri pada 18 Juni 1927 ini). Meski relatif muda, abdi negara di lingkungan Kementerian Keuangan itu bak kamus hidup tentang Persebaya.

Dan terakhir, buku “The Champions Persebaya Sang Juara”. Berisi profil pemain dan pelatih yang pernah mengharumkan Persebaya sebagai tim juara pada 1977/1978, 1987/1988, 1996/1997, dan 2004. Ditulis oleh Sidiq Prasetyo, jurnalis Jawa Pos yang kenyang asam garam di pinggir lapangan latihan dan pertandingan menyaksikan Persebaya dari berbagai era.

Drama Persebaya

Setebal 320 halaman, buku ini sebenarnya merupakan rangkaian berita Oryza yang dibuatnya dalam tugas keseharian sebagai jurnalis BeritaJatim.com Tidak setiap pertandingan dihadirinya langsung di lapangan, tapi Oryza memosisikan dirinya sebagai pengamat statistik dan ulasan Persebaya dari match ke match . Terutama, karena 2018 menjadi season bersejarah, musim pertama Persebaya kembali ke kasta tertinggi liga sepak bola Indonesia setelah membangkang dan hilang dari peredaran sepak bola Indonesia selama delapan tahun lebih.

Kisah Liga 1 2018 berawal dari Maret hingga Desember tahun itu. Oryza mendokumentasikan catatannya sejak masa pramusim pada Januari dan Februari. Termasuk membicarakan rumor akan masuknya eks pemain Liverpool, David N’gog sebagai “marquee player” Persebaya. Juga memperdebatkan seberapa penting arti Andik Vermansah bagi “Green Force” . Dan yang tak kalah penting, menggugat surat Presiden Persebaya Azrul Ananda yang menyebut para pendukung setia Persebaya tak ubahnya sebagai pelanggan atau konsumen bisnis.

“Suporter, di dunia mana pun, dalam definisi bisnis apa pun adalah customer . Adacustomer yang membalas jasa/barang menggunakan uang, ada yang tidak perlu menggunakan uang,” demikian tulisan Azrul di media yang membuat Oryza–dan para Bonek, sapaan khas pencinta Persebaya garis keras-‘murka’.

Selebihnya, buku ini berisi ulasan pertandingan tiap match, dilengkapi dengan daftar pertandingan dan posisi klasemen tiap bulannya. Tidak melulu bicara analisa dan hal-hal teknis tiap laga, judul-judul pandangan mata tiap pertandingan kadang diisi sudut pandang lain. Misalkan apresiasi terhadap Gelora Bung Tomo sebagai ‘stadion terberisik di Indonesia’, tentang hubungan panas dingin dengan Aremania, serta kisah meninggalnya Bonek dalam perjalanan mendukung pujaannya di laga away .

Persebaya and Them

Di era NIAC Mitra jadi klub Galatama kebanggaan warga Surabaya, kota ini pernah menganugerahkan predikat warga kehormatan kepada Fandi Ahmad dan David Le, dua pemain Timnas yang berjasa besar selama semusim membawa NIAC jadi juara Galatama 1982/1983.

Kini, di masa liga sepakbola profesional Indonesia menyatukan Galatama dan Perserikatan, Persebaya pun mendapat lisensi mendatangkan pemain dan pelatih asing. Dhion mencatat nyaris persis, setidaknya hingga buku ini diterbitkan, 72 pemain dan 9 pelatih asing pernah membela panji Persebaya.

Sebagai seorang laki-laki yang sejak usia 3 tahun sudah diajak ayahnya menonton Persebaya di Stadion Gelora 10 November, Dhion menunjukkan kelasnya dalam hal statistik dan pengarsipan. Layak diacungi jempol karena ia bukan bekerja sebagai wartawan olah raga yang memang kesehariannya berkutat dengan data pemain dan file pertandingan. Tak salah, nama Dhion mulai jadi rujukan media Surabaya jelang sebuah match akan dilakoni Persebaya.

Arsipnya cukup kuat. Dimulai kisah pertama bagaimana ia meriwayatkan Antonic Dejan yang dua kali memperkuat Persebaya, masing-masing pada Liga Indonesia jilid II 1995-1996 dan Divisi Satu Liga Indonesia 2002-2003.

“Masih ingat jelas di ingatan saya, jika Persebaya memperoleh tendangan bebas dekat gawang, semua suporter bonek yang hadir di Stadion Gelora 10 November Tambaksari pasti kompak berteriak ‘gol..gol..gol..!!!’ Dan benar saja, memang terjadi gol. Ah , indahnya saat-saat itu…”

Melanglang di berbagai klub Indonesia serta sempat mampir di Hong Kong saat Liga Indonesia break akibat kerusuhan 1998, detik ini Dejan Antonic membesut Madura United, ‘tim berisik’ yang jadi saudara muda sekaligus tetangga dekat Persebaya.

Dhion memuat biografi begitu banyak pemain, bahkan yang mungkin hanya melintas sekilas di Persebaya dan namanya pun tak ada di kenangan penggemar kelas biasa. Mulai Plamen Illiev Kazakov miedfileder dari Bulgaria, Nadoveza Branko striker ngartis asal Yugo, Miramar da Rocha asal Brasil yang kisahnya bak telenovela Miramar, Ali Shaha Ali tukang gedor dari Burkina Faso, juga Dragnea Laurentiu ‘tembok kokoh’ asal Rumania.

Mulai kisah sukses ala Jacksen Tiago, Carlos de Mello, dan Danilo Fernando dari Brasil, Leonardo Gutierrez dan Christian Carrasco dari Chile sampai pemain ‘tak berguna’ macam Salinas si mandul asal Paraguay, Brice Fomegne ‘eksperimen gagal’ dari Kamerun, Maykol Souza lelucon dari Brasil, Anthony Jommah Ballah dan Augustine Kettor asal Liberia, Batang Ba Issom dan Serge Ngako Elongo dari Kamerun, sampai Frank Bamidele Bob Manuel dari Nigeria.

Begitu pula di jajaran kepelatihan. Nama Jacksen, Divaldo Alves, dan Alfredo Vera terukir penuh ‘muchas gracias’ alias ucapan terimakasih. Namun, sejarah yang ditulis Dhion mencatat ada nama suram macam Sasho Kostov dan juga mendiang Gildo Rodrigues, ayah dari Teco Cugurra, pelatih Bali United saat ini. Sedikit koreksi karena sepertinya Dhion alpa menulis nama almarhum Miroslav Janu, sang petualang asal Republik Ceko.

Persebaya and Them

Di era NIAC Mitra jadi klub Galatama kebanggaan warga Surabaya, kota ini pernah menganugerahkan predikat warga kehormatan kepada Fandi Ahmad dan David Le, dua pemain Timnas yang berjasa besar selama semusim membawa NIAC jadi juara Galatama 1982/1983.

Kini, di masa liga sepakbola profesional Indonesia menyatukan Galatama dan Perserikatan, Persebaya pun mendapat lisensi mendatangkan pemain dan pelatih asing. Dhion mencatat nyaris persis, setidaknya hingga buku ini diterbitkan, 72 pemain dan 9 pelatih asing pernah membela panji Persebaya.

Sebagai seorang laki-laki yang sejak usia 3 tahun sudah diajak ayahnya menonton Persebaya di Stadion Gelora 10 November, Dhion menunjukkan kelasnya dalam hal statistik dan pengarsipan. Layak diacungi jempol karena ia bukan bekerja sebagai wartawan olah raga yang memang kesehariannya berkutat dengan data pemain dan file pertandingan. Tak salah, nama Dhion mulai jadi rujukan media Surabaya jelang sebuah match akan dilakoni Persebaya.

Arsipnya cukup kuat. Dimulai kisah pertama bagaimana ia meriwayatkan Antonic Dejan yang dua kali memperkuat Persebaya, masing-masing pada Liga Indonesia jilid II 1995-1996 dan Divisi Satu Liga Indonesia 2002-2003.

“Masih ingat jelas di ingatan saya, jika Persebaya memperoleh tendangan bebas dekat gawang, semua suporter bonek yang hadir di Stadion Gelora 10 November Tambaksari pasti kompak berteriak ‘gol..gol..gol..!!!’ Dan benar saja, memang terjadi gol. Ah , indahnya saat-saat itu…”

Melanglang di berbagai klub Indonesia serta sempat mampir di Hong Kong saat Liga Indonesia break akibat kerusuhan 1998, detik ini Dejan Antonic membesut Madura United, ‘tim berisik’ yang jadi saudara muda sekaligus tetangga dekat Persebaya.

Dhion memuat biografi begitu banyak pemain, bahkan yang mungkin hanya melintas sekilas di Persebaya dan namanya pun tak ada di kenangan penggemar kelas biasa. Mulai Plamen Illiev Kazakov miedfileder dari Bulgaria, Nadoveza Branko striker ngartis asal Yugo, Miramar da Rocha asal Brasil yang kisahnya bak telenovela Miramar, Ali Shaha Ali tukang gedor dari Burkina Faso, juga Dragnea Laurentiu ‘tembok kokoh’ asal Rumania.

Mulai kisah sukses ala Jacksen Tiago, Carlos de Mello, dan Danilo Fernando dari Brasil, Leonardo Gutierrez dan Christian Carrasco dari Chile sampai pemain ‘tak berguna’ macam Salinas si mandul asal Paraguay, Brice Fomegne ‘eksperimen gagal’ dari Kamerun, Maykol Souza lelucon dari Brasil, Anthony Jommah Ballah dan Augustine Kettor asal Liberia, Batang Ba Issom dan Serge Ngako Elongo dari Kamerun, sampai Frank Bamidele Bob Manuel dari Nigeria.

Begitu pula di jajaran kepelatihan. Nama Jacksen, Divaldo Alves, dan Alfredo Vera terukir penuh ‘muchas gracias’ alias ucapan terimakasih. Namun, sejarah yang ditulis Dhion mencatat ada nama suram macam Sasho Kostov dan juga mendiang Gildo Rodrigues, ayah dari Teco Cugurra, pelatih Bali United saat ini. Sedikit koreksi karena sepertinya Dhion alpa menulis nama almarhum Miroslav Janu, sang petualang asal Republik Ceko.

The Champions , Profil Penggawa Juara

Kegigihan Sidiq memburu para pemain dan pelatih yang pernah membawa Persebaya juara di empat musim berbeda layak mendapat respek. Sebisa mungkin didatanginya mereka satu per satu untuk berbagi kisah masa indah yang lalu dan kabar kehidupan terkini.

M. Basri pelatih legendaris di tim juara 1977/1978 ditemuinya di sebuah perumahan di Surabaya Barat. Bisa dibayangkan, saat bersama J A Hattu membawa Persebaya juara 1977/1978, Basri muda masih berusia 36 tahun. Dan kini, Basri menghabiskan usia senjanya, hampir 77 tahun, usai menukangi berbagai klub besar dan kecil di tanah air.

Beberapa narasumber ditemuinya saat masih hidup, dan saat buku ini dibaca, mereka sudah berpulang kepada keabadian. JA Hattu dijumpai di Pepelegi Sidoarjo saat mengisi waktu dengan menjawab Teka Teki Silang kiriman dari Belanda. Ayah dari Ferril Raymond Hattu, kapten Timnas Indonesia juara Sea Games 1991 ini meninggal dunia pada 14 Agustus 2018 pada usia 88 tahun. Begitu pula Subodro yang berpulang pada 18 Mei 2019.

Di tim juara 1977 ada bek tengah Yudi Suryata, yang asyik menyapu dedaunan di Sragen saat tak lagi melatih klub sepakbola macam Gajah Mungkur Wonogiri, Persijap Jepara, Gelora Putra Delta, PSS Sleman, Persipura Jayapura, PSBI Blitar hingga Persewangi Banyuwangi.

Nama-nama lain di skuad ini ada Riono Asnan, Wayan Diana, Rudy William Keltjes, Djoko Malis Mustafa, sampai Johny Fahamsyah.

Beranjak ke era 1987/1988. Inilah tim Persebaya juara kali terakhir di era Perserikatan. Tim yang sangat kuat karena tiga kali berturut-turut masuk ke final. Sekali juara memecundangi Persija dan dua kali kalah di babak pamungkas di Senayan ditaklukkan PSIS Semarang dan Persib Bandung.

Nama-nama legendaris secara telaten diwawancarainya. Kiper I Gusti Putu Yasa kini hidup di Bali setelah purna tugas dari Bea Cukai. Bek Subangkit ditemui di sela kesibukannya mengarsiteki PSIS saat itu. Kapten tim Nuryono Hariadi ditemui sebelum berpulang pada 27 Januari 2019. Begitu pula para pemain idola lain seperti Yongki Kastanya dijumpai di Petemon, Maura Hally di Stadion Jenggolo, Budi Johanis di Rungkut Barata, Syamsul Arifin di Tenggilis, sampai Mustaqim yang kini menjadi staf pelatih Persija.

Adapun di tim juara 1996/1997 pun secara adil semua dijumpai. Tak hanya kiper inti Agus Murod Alfarizi, tapi juga penjaga gawang cadangan Edi Sukamto dijumpai Mojokerto, begitu pula Dedy Siswanto yang berkelana jadi pelatih kiper berbagai klub.

Kisah-kisah khas pun diceritakannya. Dari resep Hartono sang pelempar bola terjauh yang ototnya terbentuk karena biasa merontokkan dan memukuli padi sampai bek penggantinya, Anang Ma’ruf yang mengantar Persebaya dan Persija juara tapi kemudian sempat jadi buah pemberitaan karena nggojek sebelum jadi ASN Dispora Pemkot Surabaya.

Cerita lain, Bejo Sugiantoro yang cuma sepekan berlatih di Italia, sang gelandang kontroversial Chairil Anwar Ohorella, Uston Nawawi pebisnis kuliner, sampai Yusuf Ekodono yang dua puteranya bermain di Liga 1.

2004 jadi tahun terakhir Persebaya juara di kasta paling tinggi liga sepakbola Indonesia. Nama-nama kondang dikupas Sidiq untuk memuaskan dahaga para penggemar sepakbola tentang apa kabar mereka di hari-hari kini.

Hendro Kartiko masih bertualang jadi pelatih kiper di berbagai klub dan kini dipercaya sebagai pelatih kiper Timnas U-23 menuju Sea Games Filipina 2019. Mat Halil pemegang lisensi C AFC menjadi pemilik El Faza, klub anggota kompetisi internal Persebaya, Nova Arianto melatih Bhayangkara U-20, Yeyen Tumena Direktur Teknik Bhayangkara FC, Andri ‘Gepeng’ Budiyanto jadi pengusaha genteng, Gendut Doni jadi pelatih dan ASN di Tangerang Selatan, serta dua putera Maluku yang mengabdikan diri untuk sepak bola di tanah kelahirannya: Quwetly Alweny di Ternate, Maluku Utara, dan si mungil Rahel Tuasalamony. Pelatih Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Maluku.

Usaha keras Sidiq mendokumentasikan sejarah dan bagaimana kisah terkini para pelaku sejarah menjadi karakter tersendiri bagi buku-buku karyanya. Sebelum ini, Sidiq melakukan metode hampir serupa untuk buku “NIAC Mitra, Klub Karyawan yang Juara Galatama”.

Selamat bagi para penulis Persebaya. Klub ini akan semakin dihormati karena banyak referensi tentangnya lahir.

Wani berprestasi dan wani menjadi benchmark bagi sepak bola Indonesia!

Agustinus ‘Jojo ’ Raharjo. Penggemar sepakbola. Anggota grup “Bonek Writer Forum”. Sehari-hari bekerja sebagai Tenaga Ahli Komunikasi dan Politik Kantor Staf Presiden RI.
Ditayangkan di https://jatimnet.com/tiga-buku-persebaya-jejak-tim-juara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *