Mengawal Jenderal

Beberapa kesempatan bersama Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bertemu teman-teman media usai acara tertentu. Pekan lalu di Bappenas, tadi di Hotel Sultan. Atau pun saat menggelar jumpa pers secara khusus di Bina Graha Kantor Staf Presiden.

Sederhana saja sih tips dan penjelasannya…

Kalau sebelum bliyo datang, kemudian kami meminta kira-kira nanti jurnalis bertanya apa… tolong jangan diartikan membatasi kebebasan informasi. Lebih kepada mempersiapkan narasumber saat bertemu media nantinya. Apalagi kalau di hadapan kilatan cahaya kamera foto maupun televisi. Gak asyik toh, kalau tampak tak siap….

Kalau saat wawancara kemudian seperti hendak menyudahi pertanyaan atau waktu, jangan pula diartikan membatasi, memendek-mendekkan momen pertemuan. Tapi lebih kepada efisiensi pertanyaan, jawaban, dan juga pada padatnya jadwal lain menanti.

Kalaupun di antara pertanyaan yang barsahut-sahutan dalam momen doorstep (konon yang bener adalah doorstep, bukan doorstop, terkait tradisi jurnalis di Barat menanyai newsmaker sambil menuruni tangga gedung pengadilan atau pemerintahan) tak semua dijawab, ya tentu dilihat pada efektivitasnya. Mana yang pas dijawab, mana yang urgent, dan mana yang lebih magnitude atau berdampak. Bukan semata yang pertanyaannya paling keras.

Demikianlah cerita kecil. Dari seorang mantan pewawancara doorstep di media online, koran, radio dan televisi, dan kini belajar ‘ndhek-ndhek’-an jadi semacam humas alias government public officer…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *