Bonek Militan dan Seri Rasa Kalah di Stadion Batakan

“Bonek di sini, tegap berdiri…

Mendukung Green Force sampai mati…

Kami berjuang, bersuara lantang

Kami adalah …

Supporter yang militan…

Aaaaaa….Ayo Green Forceku

Aaaaaa….Ayo Green Forceku”

Kamis, 28 November 2019, Stadion Batakan, Balikpapan menjadi saksi nyata chant itu. Bahwa ‘Bonek’ -sebutan khas pendukung Persebaya- merupakan suporter yang militan. Tim ‘Bajul Ijo’ boleh saja dihukum menjalani partai kandang di luar Surabaya dalam pertandingan yang digariskan tanpa penonton. Tapi, itu sama sekali bukan alasan bagi Bonek untuk tak datang mendampingi sang pahlawan di lapangan hijau.

“Saya terbang pagi tadi dari Surabaya. Sebisa mungkin setiap Persebaya main, di mana pun, saya berusaha hadir,” kata Bobby Kharisma, pria 36 tahun asal Dupak, Surabaya.

Bobby yang sehari-hari bekerja sebagai surveyor independen kapal ini ada di antara sekitar 50-an pendukung Persebaya di balik pagar besi, di sudut tenggara Stadion Batakan. Ini stadion megah, berdiri di atas lahan 18 hektar, lengkap dengan berbagai sarana olahraga berstandar olimpiade. Nilai pembangunannya Rp 1,2 triliun, berkapasitas 42 ribu penonton, didesain mirip Emirates Stadiumnya Arsenal di London.

Tapi, sore itu, kebesaran Batakan -dinamakan begitu karena berada di kampung pembuat batu bata- pudar menyusul status pertandingan Persebaya versus Semen Padang diputuskan digelar tanpa penonton. Rumah besar yang menjadi sepi.

Kecuali di sudut itu. Di pojok dekat gawang sisi selatan. Sejam sebelum pertandingan dimulai pada 16.30 Waktu Indonesia Tengah, Bonek sudah ngetes drum. Mencoba bersuara lantang.

“Rek, rek, aku teko rek,,. Persebaya ndang wis menang’o..

Tendang kene tendang kono..

Ojok kesuwen,, ojok kesuwen…

Ndang lebokno..”

Tak lupa, mereka pun memajang spanduk-spanduk pembakar semangat Ruben Sanadi dan kawan-kawan. Kain-kain berukuran raksasa itu sudah diizinkan diselipkan di dalam stadion, tak jauh di belakang gawang yang menjadi sasaran serangan David Aparecido da Silva, Diogo Campos Gomes, dan Irfan Samaling Kumi alias IJ41 di babak pertama. Bunyi banner-banner itu antara lain,

“Di Tanah Rantau Kami Tetap Bernyali. Bonek East Borneo Balikpapan”

“Bonek Prycera Pasuruan. Wani Goyang, Wani Urusan.”

“Away Days. Balikpapan Wani”

“Suroboyo Lamongan. Karena Pelajar Juga Bisa Galau. East Borneo Balikpapan”

“Persebaya Selamanya. Bonek East Borneo.”

Dan lain-lain.

Hanya mendapat celah terbatas nonton bola dari balik jeruji pagar besi, mereka tak kenal jeri. Babak pertama berjalan 10 menit, sorakan makin keras begitu Diogo Campos berhasil menjaringkan bola ke gawang Teja Paku Alam. Meski 12 menit kemudian disamakan oleh tim ‘Kabau Sirah’ lewat aksi individu menawan Vanderlei Francisco yang begitu leluasa mengacak-acak pintu pertahanan Hansamu Yama, Otavio Dutra dan Miswar Saputra.

Dan dari Diogo itu sajalah gol Persebaya. Pertandingan berakhir 1-1.

“Kami kurang beruntung. Babak pertama saja, setidaknya saya hitung ada tujuh peluang bisa jadi gol. Anak-anak sempat down karena kesempatan-kesempatan emas yang terbuang percuma itu,” kata coach Aji Santoso di sesi jumpa pers.

Legenda Persebaya saat juara 1997 ini mengaku tim sudah bermain dengan skema yang diharapkan.

“Tidak ada yang salah dari cara main kami. Secara keseluruhan, tim sudah bermain sesuai ekspektasi. Mendominasi pertandingan,” papar Aji yang menambahkan rekornya di Persebaya musim ini menjadi dua kali menang dan dua kali kalah.

“Dari kursus A Pro, saya mendapatkan ilmu bahwa sepak bola 1%-nya adalah keberuntungan. Dan dalam pertandingan hari ini, kami benar-benar tidak beruntung,” pungkasnya.

Untuk memberi respek pada dukungan tak kenal capek Bonek, usai pertandingan, Aji dan para pemain menghampiri para pendukung setianya. Terpisah batas terali pagar, mereka haru mendengarkan ‘Song of Pride’ dinyanyikan. Sebagian pemain mendekapkan tangan kanannya di dada kiri.

Saat ini… Kita…
Dipertemukan kembali…
Kutinggalkan… Semua…
Demi mengawalmu lagi…
Semangat kami… Tak kan…
Pernah lelah dan terhenti…
Berjuanglah… Engkau…
Demi kebanggaan kami…

Kukorbankan semua untuk kau sang pahlawan
Kan ku bela dengan penuh rasa bangga di dada..”

“Lemes. Ini seri rasa kalah,” ucap media officer Persebaya, Nanang Prianto, di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan jelang terbang kembali ke Surabaya pada Jumat pagi, 28 November. Sembilan hari sudah tim ini meninggalkan keluarga dan berkelana di Kalimantan. Sempat menang 3-2 atas PSM di Balikpapan, kembali ke Jawa Timur, lalu berangkat lagi untuk menang 0-1 melawan tuan rumah Persipura di Tenggarong. Hasil imbang melawan Semen Padang diharapkan melecut partai berikutnya di kandang Madura United, Senin, 2 Desember 2019.

Ada pula suara positif dari para pendukung garis keras itu. “Ya kami tetap bersyukur. Pemain sudah berjuang keras,” kata Bonek Wanita (Bonita) bernama Andini, siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Balikpapan, yang berayah asli Kali Kepiting, Surabaya.

“Kami tetap mendukung Persebaya. Apapun hasilnya. Saya senang bisa ada di sini. Meski tak berada langsung di dalam stadion, tapi bisa bernyanyi membakar semangat para pemain,” tegas Ilham Fathoni, mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan, anak muda asli Wonokromo.

Masih ada lima pertandingan tersisa sebelum menutup musim ini. Tiga di antaranya berstatus home game, menjamu Bhayangkara, Arema, dan Badak Lampung. Entahlah akan dimainkan di mana.

“Kami masih menunggu izin dari pihak kepolisian,” tambah Nanang.

Tentu saja, mantan jurnalis olahraga itu berharap, laga-laga berpredikat kandang bisa disapu bersih, ditambah dua laga lain ke markas Persija dan Madura United. Setidaknya, capaian musim lalu di peringkat kelima pada akhir kompetisi bisa dipertahankan. Syukur-syukur bisa di atas Arema, benchmark tersendiri bagi para pencinta ‘Green Force’. Dua hal yang jadi kebangaan kala Liga 1 2018 menyudahi rangkaian perjalanan panjangnya.

Dengan segala suka dukanya, Persebaya berjuang begitu berdarah-darah musim ini. Mencoba menjalankan praktik sepakbola bersih, tapi akrab dengan sanksi denda, dihukum keluar kandang dan tanpa suporter di tribun sampai akhir musim.

Para pemain dan manajemen, dengarlah teriakan mereka itu…

“Yo ayo Persebaya [ yo ayo persebaya ]
Kalahkan lawanmu [ kalahkan lawanmu ]
Kuatkan pertahanan [ kuatkan pertahanan ]
Tangguhlah menyerang [ tangguhlah menyerang ]

Bonek kan mendukungmu [ bonek kan mendukungmu ]
setia bersamamu [ setia bersamamu ]
Jadilah sang juara [ jadilah sang juara ]
Liga Indonesia [ liga indonesia ]

ole ole oleee hu…

ole ole oleee hu… ole ole oleee hu… ole ole oleee hu…”

Jojo Raharjo, penggemar Persebaya, merantau di Jakarta.

sebagaimana ditayangkan di

https://jatimnet.com/bonek-militan-dan-seri-rasa-kalah-di-stadion-batakan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *