Bersama Bella Terbang ke Kepi

Pernahkah Anda mendengar sebuah kabupaten bernama Mappi, dengan ibu kotanya bernama Kepi? Ya, inilah salah satu kabupaten di Papua, provinsi paling luas di Indonesia yang totalnya memiliki satu kota dan 28 kabupaten. Kabupaten Mappi memiliki luas sekitar 25 ribu kilometer persegi dengan jumlah penduduk kurang lebih 100 ribu jiwa.

Di periode awal otonomi daerah diterapkan, Mappi merupakan pemekaran dari Kabupaten Merauke, tepatnya pada 11 Desember 2002, bersama dua saudaranya yang lain, yakni Kabupaten Asmat dan Boven Digoel.

Lepas tengah hari, pesawat Cessna 208 B Grand Caravan milik Dimonim Air berkapasitas 12 tempat duduk yang diawaki Kapten Endar dan Olivia Bella, kopilot berusia 26 tahun, menerbangkan kami dari Bandara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel menuju Kepi, ibu kota Kabupaten Mappi di Papua.

Cukup 25 menit terbang dengan ketinggian tak sampai 10 ribu kaki, kami pun tiba di kabupaten yang punya potensi besar pengembangan kayu gaharu serta lahan basah amat luas.

“Dari  2 juta hektar luas lahan di Kabupaten Mappi, sekitar 1,1 juta hektarnya merupakan lahan basah yang sangat memungkinkan untuk persawahan,” kata Wakil Bupati Mappi, Jaya Ibnu Su’ud.

Selain itu, kabupaten yang berbatasan dengan Laut Arafura, Kabupaten Asmat, Merauke dan Boven Digoel ini juga kaya akan potensi sumber daya bahari dan juga hutan sagu. Setidaknya, 1,2 juta ton ikan dihasilkan per tahunnya. Sementara itu, 880 ribu hektar lahan merupakan hutan sagu yang bertebaran di 15 distrik se-Kabupaten Mappi.

“Kami berharap investor akan lebih banyak datang ke Mappi jika perbaikan akses transportasi dilakukan, sehingga pesawat berbadan besar bisa hadir di Bandara Kepi,” kata Jaya Ibnu, yang bersama Bupati Kristosimus Yohanis Agaemu memimpin Kabupaten Mappi dengan APBD senilai Rp 1,4 triliun per tahun.

Baru-baru ini investor dari Tiongkok dan Hungaria menyampaikan minatnya untuk berperan serta pada pembangunan ekonomi Kabupaten Mappi.

“Kedua negara ini tertarik pada pengembangan potensi sagu serta upaya penyediaan air bersih bagi warga,” papar Wabup Mappi.

Adapun Kepala Bandara Kepi Drajat Perwira Jati menjelaskan, setiap hari rata-rata ada lima penerbangan dari Bandara Kepi.

“Memang sangat terbatas, hanya pesawat jenis Caravan. Tapi, hadirnya subsidi angkutan penumpang sangat memudahkan warga Kepi untuk bisa terbang ke Merauke, Timika, Tanah Merah, dan distrik-distrik sekitar,” paparnya.

Selain angkutan kargo, program penerbangan angkutan penumpang bersubdisi dirasakan betul manfaatnya oleh warga Papua bagian selatan. Harga tiket Dimonim Air dari Kepi ke Tanah Merah dipatok paling mahal Rp 152.600. Sementara itu, penerbangan Susi Air dari Kepi ke Timika seharga Rp 366 ribu dan rute ke Distrik Bade, Senggo, dan Aboge di wilayah Kabupaten Mappi ditetapkan senilai Rp 300 ribu, Rp 304 ribu dan Rp 257 ribu.

“Permintaan tiket pesawat dari masyarakat sangat tinggi. Karena itu, kami berharap, sembari menunggu proses perpanjangan dan penebalan landasan, frekuensi penerbangan pesawat perintis bisa ditambah lagi,” papar Drajat.

Pendapat ini diamini Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mappi, La Marwa, yang menegaskan bahwa jalur transportasi udara merupakan urat nadi bagi masyarakat Mappi.

“Dengan perpanjangan runway dari 1200 ke 1600 x 30 meter, perbaikan fasilitas terminal bandara dan juga akses ke dermaga pelabuhan, kami yakin investasi akan lebih banyak masuk. Akibatnya nanti, percepatan pembangunan ekonomi bisa benar-benar dirasakan masyarakat Mappi,” jelasnya.

Kisah Bella

Olivia Bella, 23 tahun, jangan main-main dengan perempuan ini. Usia boleh muda, tapi ia merupakan pilot pesawat Cessna 208 B Grand Caravan -berkapasitas 12 orang- yang sehari-hari terbang melintasi pegunungan Papua. Mendaratkan orang maupun barang kebutuhan pokok di lapangan-lapangan terbang dengan medan tak mudah di berbagai wilayah provinsi paling timur Indonesia itu.

Rute dari Tanah Merah, ibu kota Kabupaten Boven Digoel, ke Kepi, ibu kota Kabupaten Mappi, yang ditempuh dalam 25 menit penerbangan menjadi santapan sehari-hari pilot maskapai Dimonim Air ini.

Di luar itu, Bella terbang ke tujuan lain seperti Manggelum, Oksibil maupun daerah-daerah pelosok lain sesuai rute yang dijadwalkan. Prinsipnya, tak ada kata menolak tugas demi melayani saudara-saudara kita, Pace Mace di Papua.

“Sehari-hari rata-rata bisa empat atau lima kali penerbangan ke berbagai wilayah di Papua,” katanya.

Bella mengaku, terbang di Papua memberikan pengalaman luar biasa. Tak semata menambah catatan jam terbang bagi dirinya. “Orang-orang di Papua, juga daerah-daerahnya, banyak hal baru. Sangat menarik dan memberikan kesan tersendiri di hati,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *