Toga, Totalitas Pekerja Gerakan

“What’s yours will find you.”

Status Whats App itu masih bercokol di keterangan nomor kontak percakapan milik Toga Sidauruk. Ada keterangan dua grup WA bersama antara kami berdua: Perkumpulan Senior (PS) GMKI Jatim dan Aktivis 1998 Suroboyo/Jatim.

Keriuhan terjadi di dunia percakapan virtual, Jumat tengah hari, 30 Juli 2021. Berawal saat Risma Jenny Simanungkalit, isteri anggota DPRD Jawa Timur yang mantan Ketua Cabang GMKI Surabaya Yordan Bataragoa ‘berteriak’ di Grup WA Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jatim. Jenny bertanya apakah ada yang tahu nomor kontak isteri Toga.

Belakangan posting itu dihapusnya, tapi muncul berita lebih mengejutkan. Toga meninggal dunia tak lama setelah mengeluh sakit, di sela-sela mengemban tugas sebagai Ketua Panitia Diklat Kader PDI Perjuangan secara virtual.

Sebagai Anggota Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Badiktatda) DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang didapuk jadi penanggung jawab acara, Toga datang lebih pagi ke kantor DPD PDI Perjuangan di kawasan Kendangsari, Surabaya. Ia dibantu adik-adik yuniornya di GMKI yang secara ideologis juga bergabung ke partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Awalnya, Bang Toga merasa tidak enak di perutnya. Lalu, adik-adik GMKI yang ada di DPD PDI Perjuangan membantu. Ada Hendy memijatnya pelan-pelan. Hingga kemudian keluar keringat dingin dan pingsan. Kami membawa Bang Toga ke RS Royal di Rungkut Industri, tapi sudah tak tertolong,” kata Hizkia Trianto, kader GMKI yang berada di lokasi kejadian.

Daniel Rohi, anggota DPRD Jatim yang juga eks Ketua Cabang GMKI Surabaya, sempat datang ke rumah sakit berlokasi tak jauh dari kantor DPD PDI Perjuangan itu. Tapi, Toga sudah menghembuskan nafas terakhirnya: Jumat, 30 Juli 2021 pukul 12.07 WIB.

Setelah dinyatakan negatif Covid-19, jenazah Toga dibawa ke rumahnya di Manukan Lor, dan Sabtu, 31 Juli 2021 dimakamkan di TPU Babat Jerawat, Surabaya. Gagah sekali dia di pembaringannya di peti itu. Dengan foto berbaju partai, raganya diselimuti jarik batik dan ulos khas Batak, berselubung bendera biru kebanggaan organisasi: GMKI.

Trenyuh juga menyaksikan video senior-senior Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi-Partai Rakyat Demokratik (SMID-PRD) menyanyikan lagu ‘Darah Juang’ di atas nisan salib putih dan pusara Toga yang masih basah.

“Ini nyanyian terakhir untuk kawan Toga,” kata Trio Marpaung, korban penculikan Orde Baru jelang Reformasi 1998 dari Surabaya.

Lamat-lamat suara lantang terdengar,
“Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur tuan..

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja…”

Siapapun pemimpinnya, bagaimanapun keadaannya negeri ini, lirik lagu itu terus terasa relevan.

Trio tercatat sebagai aktivis SMID-PRD yang juga anggota GMKI. Sebagaimana Inyo Rohi, Leo, Fajar, serta mendiang Wiwin dan Yayan.

“Tuntutan zaman saat itu. Anak-anak zaman. Sebelum dan sesudah zaman kami, sepertinya tak ada lagi,” kata Inyo Rohi, menuliskan kenangannya tentang sosok Toga.

Toga merupakan seorang aktivis revolusioner. Ia berani menantang bahaya saat aksi. Tak heran, Heru Kris, juga senior PRD, langsung memposting foto-foto aksi zaman pergerakan melawan Soeharto saat itu. Kala mereka masih langsing.

Mungkin pria Batak Suroboyo berusia hampir 44 tahun ini bukan seorang konseptor ulung. Tapi, ia sungguh seorang pekerja gerakan yang amat total. Di organisasi apapun, dalam misi apapun.

Lima tahun silam, Toga mengontak saya, memberitahukan dirinya sedang ada di Jakarta. Karena sedang ‘on duty’ sebagai Koordinator Peliputan CNN Indonesia TV, saya minta saja Toga datang ke kawasan Tendean, markas Trans TV Group.

Sambil menikmati salah satu pecel lele terenak di Jakarta, Toga bercerita baru saja meninggalkan rumah cukup lama. Hampir sebulan. Ia menjalankan tugas dari Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PDI Perjuangan Bambang Dwi Hartono. Saya lupa ke mana tepatnya. Yang pasti, sebuah kawasan di Indonesia bagian Timur. Tugasnya mengamati peta persaingan calon kepala daerah, sekaligus memberikan masukan kepada DPP, mana kira-kira calon yang layak mendapat rekomendasi.

“Wah, kalau mau kaya, saya bisa saja menerima uang dari salah satu kandidat. Tapi, saya tidak lakukan itu,” katanya. Outfitya tak berubah: kaos tanpa kerah. Semangat bicaranya pun tak mengalami penyusutan.

Pun demikian sebagai senior GMKI. Saat ‘ribut’ berita tentang berpulangnya Toga, senior GMKI Fonumero Ziraluo alias Fonzir bertanya, “Ini Toga yang mana ya?”

Setelah mahfum bahwa yang dimaksud ialah Toga, tetangganya di kawasan Tandes-Manukan, Fonzir pun tak kuasa menyebut kagetnya, “Ya…Tuhan dia sakit apa? Kok begitu cepat meninggalkan kita semua…”

Menurut Fonzir, Toga merupakan aktivis GMKI yang cukup konsisten mewujudnyatakan motto ‘Tinggi Iman, Tinggi ilmu dan Tinggi Iman.’

“Almarhum sering ke rumah Fonzir dan mendiskusikan untuk memajukan GMKI. Setiap Konpercab GMKI selalu menghubungi Fonzir. Selamat jalan sahabat, abang Fonzir siap menyusul dan berjumpa di kota Yerusalem Baru,” kenang wartawan senior itu.

Sudah kebiasaan organisasi mahasiswa. Setiap ada acara selalu sowan pada senior. Bukan hanya mengejar bantuan beberapa lembar uang ratusan ribu. Lebih dari itu, silaturahmi dan menyambung tali persaudaraan menjadi hal yang jauh lebih penting. Dan, meski sudah lama tidak menjadi pengurus BPC, tampaknya Toga selalu mengacungkan tangan untuk menunjukkan kerelaannya bergerak saat nama beberapa ‘target’ senior disebut.

Badan Pengurus Cabang GMKI Surabaya pun tak melupakan semua memori baik tentang Toga, senior yang murah senyum ini.

“Beliau orang yang sering menegur yuniornya secara langsung jika menurutnya ada hal yang kurang tepat dari adik-adiknya itu. Bang Toga selalu mengajarkan bahwa jadi kader GMKI harus memilki totalitas, dan jangan bermental kerupuk,” kata Ketua Cabang GMKI Surabaya saat ini, Jefri Dimalouw.

Menurut Jefri, Toga juga selalu menyampaikan bahwa sebagai organisasi berlandaskan kekristenan, GMKI harus menunjukan jati diri kekristenan itu kepada masyarakat.

“Kami juga mengingat Bang Toga sebagai senior yang selalu mencairkan suasana ketika kami berdiskusi terkait GMKI atau isu-isu apapun yang lagi hangat. Beliau juga selalu membantu GMKI secara pemikiran, tenaga dan juga finansial,” kata mahasiswa Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya asal Papua Barat itu.

 

Time flies. Baru-baru ini Toga curhat. Curahan hati atas prestasinya segera dilantik sebagai pengacara setelah lulus ujian Perhimpunan Adovat Indonesia (Peradi). Sekaligus kesulitannya untuk membiayai proses pelantikan itu, yang belakangan tertunda terus akibat pandemi.

“Bro, kamu kan dekat dengan tokoh ini. Si A, Si B,” kataku menjawab chat itu.

“Bukan begitu caraku, Jo,” balasnya.

Syukurlah, dari dokumentasi visual di dunia virtual, terlihat ia menghadiri upacara nan bersejarah itu.

Perjuangan Toga lolos mendapatkan surat izin beracara menggambarkan ketekunannya. Sebagaimana kegigihannya menyelesaikan S-1. Dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (Stiesia) lanjut ke Universitas Bhayangkara, dan menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Kartini Surabaya.

Persis kan seperti status WA-nya. “What’s yours will find you.” Apa yang memang menjadi milikmu akan menemukanmu.

Lihat jugalah staus Facebooknya, April lalu.

Jangan tanyakan dia, “Anda kerja di mana?”.. Coba anda tanyakan kepada temanmu, saudaramu, adikmu atau anakmu nantinya.. “Kamu kerja apa?”.. Dgn sendirinya, kita sedang mencipta suasana kreatif & mendorong orang untuk lebih percaya diri dlm berinovasi.. Karya itu lah yang membanggakan.. Bukan tempatmu bekerja..”

Kerja apa. Bukan kerja di mana,

Sungguh inspiratif, Toga.

Doa kita bersama untuk pejuang yang idealis ini. Sungguh, Tuhan akan mencukupkan keluarga kecilnya, Puji Astuti isterinya dan sepasang anaknya, Zelotino Manupak Sidauruk (16 tahun), dan Louise Dame Manuela Sidauruk (11).

Tentang Zelotino, anak sulungnya, dulu sekali, kami pernah berbagi cerita sampai terbahak-bahak bersama.

“Bagaimana kabar anak lanangmu, bro? Udah gede ya?”

“Wah, anakku mbarep luar biasa kendel (berani), Jo. Kemarin ia mengancam tukang krupuk yang biasa lewat di depan rumah. Tangannya teracung sambil teriak, ‘Awas koen!’”

Saya tertawa, membayangkan Zelot mengangkat tangan kiri terkepal. Persis seperti bapaknya saat turun ke jalan, aksi unjuk rasa.

Selamat jalan, Toga. Aktivis kelas berat. Nanti kita tertawa bersama lagi. Sekeras-kerasnya, seterbahak-bahaknya….

*Agustinus Rahardjo, saudara setertawaan Toga Sidauruk*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *