Bang Aloy dan Mas Alay Keliling Jakarta

Banyak ide liar dari mahasiswa jika pikiran mereka dibebaskan. Ini kisah bagaimana mereka membedah obyek wisata dan kuliner di Jakarta.

Saya sengaja membebaskan mahasiswa untuk mengambil topik apa saja, dalam pembuatan program video berdurasi tayang 30 menit, sebagai tugas akhir mata kuliah Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Jadilah, ada yang memilih genre dokumenter sejarah bergaya nge-pop, membuat game show, atau cerita perjalanan.

Ini video menarik, mereka beri judul “Bedah Jakarta”. Kisahnya, terpusat pada kedua orang, satu dari Jawa, dan satu orang Jakarte, yang mengeksplorasi ibukota dalam berbagai sisi. Digarap apik bersepuluh oleh Zerica Estefania, Georgene Surhani, Maria Advenita, Feronica Christiani, Cansa Abinta, Garry Nahumury, Aloysius Primasyah, Krisma Hutama, Fanly Edah, dan Yohanes Bosco.

Continue reading “Bang Aloy dan Mas Alay Keliling Jakarta”

Doyok Kangen Kebangkitan Film

Membayangkan film Indonesia kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri layaknya era 1980-an.

Ini juga tugas akhir mata kuliah Editing dan Pascaproduksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Tema yang diambil cukup berani, “Golden Age of Indonesian Cinema”. Disebut berani, karena mahasiswa yang rata-rata kelahiran tahun 1990-an ini tentu belum menikmati masa keemasan film Indonesia itu. Tapi, mereka mencoba membuka album sejarah ke belakang, mengurai kepingan kejayaan yang tersisa.

Adalah Doyok alias Sudarmadji, yang dipilih sebagai “saksi hidup” menceritakan era sukacita sinema Indonesia. Pemain film komedi yang dikenal karena duetnya dengan Kadir ini, ditemui mahasiswa di sela-sela aktivitasnya bermain bulutangkis, di lapangan Asia-Afrika, Senayan, konon bersama para polisi, yang pernah menangkapnya saat terjerumus ke dunia gelap obat terlarang.

Continue reading “Doyok Kangen Kebangkitan Film”

Kala Si Muda Tak Mau Ditinggal Sejarah

Para mahasiswa mencoba memahami makna semboyan ‘Jas Merah’: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Istilah “Jas Merah” atau ‘Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah’ diambil dari pidato Presiden Soekarno, yang juga merupakan pidato terakhir Bung Karno pada HUT ke-21 Republik Indonesia pada 17 Agustus 1966.

Mencoba memaknai semboyan itu, 13 mahasiswa Editing dan Pasca Produksi TV Universitas Multimedia Nusantara (UMN) merekonstruksi ‘Pertempuran 5 Hari Semarang’. Pertempuran Semarang adalah bagian sejarah Indonesia yang terlupakan, tak banyak orang tahu, setidaknya dibandingkan kisah Bandung Lautan Api, atau perobekan bendera Belanda serta Perang 10 November di Surabaya.

Continue reading “Kala Si Muda Tak Mau Ditinggal Sejarah”

Kuliah itu Hanya Pintu Pembuka

Kelar sudah 6 bulan mengajar Semester Ganjil di UMN.

Hahaha.. cepat sekali ya waktu berjalan, time flies..

Kuliah tamu bersama Revolusi Riza dari Trans7. Berbagi pengalaman nyata.
Kuliah tamu bersama Revolusi Riza dari Trans7. Berbagi pengalaman nyata.

Seperti baru kemarin, menuliskan hari terakhir mengajar Semester Genap 2012/2013 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), yang saya posting di sini. Siang tadi, saya merampungkan hari terakhir mengajar Semester Ganjil 2013/2014 di UMN, usai mengampu tiga kelas dengan satu mata kuliah yang sama, “Editing & Pasca Produksi Televisi”, diikutii 99 mahasiswa.

Kalau di kisah Semester Genap lalu, sempat mendatangkan Ratna Dumila dari Kompas TV berkisah mengenai “Di Balik Berita TV” dan “Menjadi Presenter TV”, pada semester ini, hadir Revolusi Riza, produser eksekutif Trans7. Revo, kawan seperjuangan di Surabaya ini, berbagi tentang seluk-beluk dunia pemberitaan televisi, dan bagaimana membuat paket produksi televisi nan menawan. “Kuncinya, buat setiap menit dalam durasi program yang kalian buat penuh dengan tayangan menawan. Ingat, remote control yang dimiliki pemirsa amat kejam,” kata pria di balik kesuksesan program “Indonesiaku” episode “Suku Talang Mamak, Terasing di Tanah Sendiri” memenangkan CNN Television Journalist Award 2012.

Continue reading “Kuliah itu Hanya Pintu Pembuka”

Jadi Pemilik Media, Jangan Pekerja

Ini hari terakhir mengajar semester genap di UMN.

Kuliah tamu UMN menghadirkan Ratna Dumila dari Kompas TV. Mengenal dunia nyata media.
Kuliah tamu UMN menghadirkan Ratna Dumila dari Kompas TV. Mengenal dunia nyata media.

Tak terasa, satu semester terlewati lagi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Hari ini, saya merampungkan hari terakhir mengajar, untuk dua mata kuliah pada Semester Genap 2012/2013. Sejak Maret lalu, saya kebagian mengampu mata kuliah “Editing & Produksi Berita TV” dan “Editing & Produksi Program TV”. Tiga kelas, total tercatat 118 nama  mahasiswa yang tercatat di presensi. Bayangkan, bagaimana kelak masa depan mereka semua. Apa ya jadi jurnalis, reporter, presenter dan orang-orang di dunia produksi tv semua?

Continue reading “Jadi Pemilik Media, Jangan Pekerja”

Setahun Hari Batik Nasional…

 

Himbauan memakai batik di dunia pendidikan, kampus Mercu Buana Meruya.

 

Pekan ini, kita memperingati satu tahun Hari Batik Nasional, setelah pada 2 Oktober 2009 silam Badan PBB yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan sosial budaya mengakui batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.

Setahun berselang dari pengakuan dunia itu, kecintaan dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap batik ternyata tidak berkurang. Di kampus Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta misalnya, mahasiswa disarankan memakai baju batik selama perkuliahan 2 dan 3 Oktober. ”Kami ingin menghargai budaya nasional dan mengangkat batik sebagai warisan kultural yang telah diakui dunia,” kata Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UMB, Heri Budianto.

Continue reading “Setahun Hari Batik Nasional…”

Kuliah lagi, buat apa lagi?

Kuliah lagi di kampus megah. bukan buat gagah-gagahan.

Tak semua orang berpikir sama dan sebangun saat saya mengutarakan niat untuk kuliah lagi. Ibarat “testing the water”, saya lemparkan rencana mendaftar Program Pasca Sarjana Universitas Mercu Buana, mengambil Magister Ilmu Komunikasi kelas karyawan (kuliah akhir pekan), dengan konsentrasi peminatan “Corporate Communication”.

Di antara pendapat yang tak sepakat terucap kalimat miring, “Ah, cuma nghambur-hamburin duit aja.” Selebihnya berujar, “Tega sekali kuliah di hari Minggu,” menggarisbawahi pengorbanan untuk keluar rumah di slot waktu yang sebenarnya untuk ibadah dan keluarga.

Dan sore tadi, keinginan itu telah menjadi keputusan yang termeteraikan. Bersama 294 orang lain, saya mengikuti prosesi pembukaan Program Kelas Karyawan Angkatan XVII di Kampus Meruya, Jakarta Barat. Di antara mahasiswa baru kelas khusus ini, 66 kepala di antaranya mengambil Program Magister Ilmu Komunikasi, menunjukkan tingginya minat di bidang keilmuan ini.

Continue reading “Kuliah lagi, buat apa lagi?”

Menguji skripsi, memainkan teori dan empati

Diuji dan menguji skripsi. apa bedanya?

Kampus Fisip Unair, Dharmawangsa, 23 Juli 2002, tak lama setelah Final Piala Dunia di Jepang-Korea, saya seperti menjadi pesakitan saat duduk di kursi sidang skripsi. Tujuh tahun perjalanan saya sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga dipertaruhkan dalam waktu tak sampai 90 menit. Waktu yang sama yang dibutuhkan Ronaldo Luís Nazário de Lima untuk mengklaim gelar juara Piala Dunia kelima Brasil, dengan membungkam Jerman 2-0 di final, beberapa pekan sebelumnya di International Stadium Yokohama.

Continue reading “Menguji skripsi, memainkan teori dan empati”