Sisi Jakarta yang Terlupa

Ini perjalanan mengeksplorasi tiga tempat di ibukota, yang kebanyakan orang belum mengenalnya.

Tema kelompok ini juga mengenai perjalanan seputar Jakarta. Hanya saja, obyek yang dipilih benar-benar berbeda dengan kebanyakan. Ada tiga museum, dua di antaranya mungkin belum pernah hadir di telinga anda: Museum Art Mon Décor, di kawan Kemayoran, dan Museum Tengah Kebun di Kemang. Satu lagi, mereka memilih mennguliti habis Museum Bahari di Jakarta Utara.

Tentu, bukan tanpa alasan Nabilah Rahmagitha, Sri Gemi Nastiti, Maria Meiditama, Monika Dhita, Erwanto Khusuma, Dita Anggreani, Serenata Rosalia, Engelberta, Hanny Prista, dan Yolanda Tanu memilih tiga obyek istimewa ini.

http://www.youtube.com/watch?v=Sam0VJcseX8

Continue reading “Sisi Jakarta yang Terlupa”

Membayangkan Ibukota di era Batavia

Kelompok ini mencoba memutar waktu, mengajak kita menuju Jakarta tempo doeloe.

“Laju melaju, menerpa angin di jalan raya
Riung-meriung kebut janganlah terpengaruh
Tahan emosi meluncur pelan tapi pasti
Jangan lupa sim dan STNK
Hati-hati ada razia

Keliling putar bundaran Hotel Indonesia
Tarik gas ke arah Monas, menuju ke arah Kota
Putar balik di Harmoni ke Kebon Jeruk Tiga
Lalu mampir Ragusa…”

Iringan lagu ‘Pelan Tapi Pasti’ ini menjadi pengiring yang pas bagi salah satu karya tugas akhir mata kuliah Editing & Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Dikerjakan bersembilan oleh Stephanie Ellen, Linda, Oriza Cintya, Feliana Lamjaya, Martina Andriani, Saraswati Putri, Triani Hanifa, Natasha Sinsoe, dan Nadia Latief.

Continue reading “Membayangkan Ibukota di era Batavia”

When Your Twin Become Your Enemy

Ini juga game show, tapi “menjual” sisi duo kembar sebagai lakonnya.

Menarik pula menyaksikan karya mahasiswa mata kuliah Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) kali ini. Mengambil lokasi di Citra Raya World of Wonders Cikupa, Tangerang, sepuluh orang dalam kelompok ini beraksi dengan menonjolkan penampilan si kembar, Clarine Amadea dan Clara Amalia.

Selain kembar perempuan tadi, anggota lain dalam kelompok ini yakni duo host Jaclyn Esther dan Bianca Noor Dayanti, Radia Milati, Ashlihatul Latifah, Nindyta Devianty, Elisabeth Novina, Fakhrana, dan Andrei Sulaiman.

Continue reading “When Your Twin Become Your Enemy”

Dari Situ Gintung Ber-“Outbond Fiesta”

Ini karya mahasiswa yang mencoba tampil lain mengemas “game show”.

Banyak opsi terbentang di depan setiap kelompok, saat saya menugaskan mahasiswa Editing dan Pasca Produksi Televisi membuat tugas Ujian Akhir Semester Ganjil 2013/2014. Mereka bebas membuat show dalam program ber-genre apa saja, untuk masa tayang kotor 30 menit.

Pilihan Cempaka Riliani, Eisha Arifah, Nadine Arinindya, Nandyati Utami, Mayang Sekar, Niza Sari Pratiwi, Johan Franklin, Fransisco Carolio berbeda dari yang lain. Mereka memutuskan membuat “game show”, yang diberi tajuk ‘Outbond Fiesta’. Lokasinya diambil di kawasan Situ Gintung, obyek wisata alami yang kini kembali bangkit di Ciputat, setelah mendapat musibah besar pada 2009 silam.

Continue reading “Dari Situ Gintung Ber-“Outbond Fiesta””

Bang Aloy dan Mas Alay Keliling Jakarta

Banyak ide liar dari mahasiswa jika pikiran mereka dibebaskan. Ini kisah bagaimana mereka membedah obyek wisata dan kuliner di Jakarta.

Saya sengaja membebaskan mahasiswa untuk mengambil topik apa saja, dalam pembuatan program video berdurasi tayang 30 menit, sebagai tugas akhir mata kuliah Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Jadilah, ada yang memilih genre dokumenter sejarah bergaya nge-pop, membuat game show, atau cerita perjalanan.

Ini video menarik, mereka beri judul “Bedah Jakarta”. Kisahnya, terpusat pada kedua orang, satu dari Jawa, dan satu orang Jakarte, yang mengeksplorasi ibukota dalam berbagai sisi. Digarap apik bersepuluh oleh Zerica Estefania, Georgene Surhani, Maria Advenita, Feronica Christiani, Cansa Abinta, Garry Nahumury, Aloysius Primasyah, Krisma Hutama, Fanly Edah, dan Yohanes Bosco.

Continue reading “Bang Aloy dan Mas Alay Keliling Jakarta”

Doyok Kangen Kebangkitan Film

Membayangkan film Indonesia kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri layaknya era 1980-an.

Ini juga tugas akhir mata kuliah Editing dan Pascaproduksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Tema yang diambil cukup berani, “Golden Age of Indonesian Cinema”. Disebut berani, karena mahasiswa yang rata-rata kelahiran tahun 1990-an ini tentu belum menikmati masa keemasan film Indonesia itu. Tapi, mereka mencoba membuka album sejarah ke belakang, mengurai kepingan kejayaan yang tersisa.

Adalah Doyok alias Sudarmadji, yang dipilih sebagai “saksi hidup” menceritakan era sukacita sinema Indonesia. Pemain film komedi yang dikenal karena duetnya dengan Kadir ini, ditemui mahasiswa di sela-sela aktivitasnya bermain bulutangkis, di lapangan Asia-Afrika, Senayan, konon bersama para polisi, yang pernah menangkapnya saat terjerumus ke dunia gelap obat terlarang.

Continue reading “Doyok Kangen Kebangkitan Film”

Kala Si Muda Tak Mau Ditinggal Sejarah

Para mahasiswa mencoba memahami makna semboyan ‘Jas Merah’: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Istilah “Jas Merah” atau ‘Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah’ diambil dari pidato Presiden Soekarno, yang juga merupakan pidato terakhir Bung Karno pada HUT ke-21 Republik Indonesia pada 17 Agustus 1966.

Mencoba memaknai semboyan itu, 13 mahasiswa Editing dan Pasca Produksi TV Universitas Multimedia Nusantara (UMN) merekonstruksi ‘Pertempuran 5 Hari Semarang’. Pertempuran Semarang adalah bagian sejarah Indonesia yang terlupakan, tak banyak orang tahu, setidaknya dibandingkan kisah Bandung Lautan Api, atau perobekan bendera Belanda serta Perang 10 November di Surabaya.

Continue reading “Kala Si Muda Tak Mau Ditinggal Sejarah”

Kuliah itu Hanya Pintu Pembuka

Kelar sudah 6 bulan mengajar Semester Ganjil di UMN.

Hahaha.. cepat sekali ya waktu berjalan, time flies..

Kuliah tamu bersama Revolusi Riza dari Trans7. Berbagi pengalaman nyata.
Kuliah tamu bersama Revolusi Riza dari Trans7. Berbagi pengalaman nyata.

Seperti baru kemarin, menuliskan hari terakhir mengajar Semester Genap 2012/2013 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), yang saya posting di sini. Siang tadi, saya merampungkan hari terakhir mengajar Semester Ganjil 2013/2014 di UMN, usai mengampu tiga kelas dengan satu mata kuliah yang sama, “Editing & Pasca Produksi Televisi”, diikutii 99 mahasiswa.

Kalau di kisah Semester Genap lalu, sempat mendatangkan Ratna Dumila dari Kompas TV berkisah mengenai “Di Balik Berita TV” dan “Menjadi Presenter TV”, pada semester ini, hadir Revolusi Riza, produser eksekutif Trans7. Revo, kawan seperjuangan di Surabaya ini, berbagi tentang seluk-beluk dunia pemberitaan televisi, dan bagaimana membuat paket produksi televisi nan menawan. “Kuncinya, buat setiap menit dalam durasi program yang kalian buat penuh dengan tayangan menawan. Ingat, remote control yang dimiliki pemirsa amat kejam,” kata pria di balik kesuksesan program “Indonesiaku” episode “Suku Talang Mamak, Terasing di Tanah Sendiri” memenangkan CNN Television Journalist Award 2012.

Continue reading “Kuliah itu Hanya Pintu Pembuka”

Jadi Pemilik Media, Jangan Pekerja

Ini hari terakhir mengajar semester genap di UMN.

Kuliah tamu UMN menghadirkan Ratna Dumila dari Kompas TV. Mengenal dunia nyata media.
Kuliah tamu UMN menghadirkan Ratna Dumila dari Kompas TV. Mengenal dunia nyata media.

Tak terasa, satu semester terlewati lagi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Hari ini, saya merampungkan hari terakhir mengajar, untuk dua mata kuliah pada Semester Genap 2012/2013. Sejak Maret lalu, saya kebagian mengampu mata kuliah “Editing & Produksi Berita TV” dan “Editing & Produksi Program TV”. Tiga kelas, total tercatat 118 nama  mahasiswa yang tercatat di presensi. Bayangkan, bagaimana kelak masa depan mereka semua. Apa ya jadi jurnalis, reporter, presenter dan orang-orang di dunia produksi tv semua?

Continue reading “Jadi Pemilik Media, Jangan Pekerja”

Setahun Hari Batik Nasional…

 

Himbauan memakai batik di dunia pendidikan, kampus Mercu Buana Meruya.

 

Pekan ini, kita memperingati satu tahun Hari Batik Nasional, setelah pada 2 Oktober 2009 silam Badan PBB yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan sosial budaya mengakui batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.

Setahun berselang dari pengakuan dunia itu, kecintaan dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap batik ternyata tidak berkurang. Di kampus Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta misalnya, mahasiswa disarankan memakai baju batik selama perkuliahan 2 dan 3 Oktober. ”Kami ingin menghargai budaya nasional dan mengangkat batik sebagai warisan kultural yang telah diakui dunia,” kata Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UMB, Heri Budianto.

Continue reading “Setahun Hari Batik Nasional…”