Obrigado Barak, Timor Leste

Timor Leste memberi Nil Maizar sederet catatan panjang, sebelum pekan depan membawa Timnas Indonesia berangkat ke Kuala Lumpur.

Spanduk menyindir Menpora. Dianggap kurang mendukung timnas.

Dua bulan di awal 2000-an, untuk sebuah kegiatan sosial, saya terdampar di sebuah desa di ujung timur Timor Leste. Di Kampung Baduro, salah satu pelosok Distrik Lautem, tak ada hiburan modern yang dapat dinikmati warga. Tak ada listrik, pun tak ada bahan bacaan rutin. Angkutan pedesaan menuju ibukota distrik yang berjarak 1,5 jam perjalanan, hanya hadir sekali sehari.

Continue reading “Obrigado Barak, Timor Leste”

Tim Kelas Dua untuk Turnamen Kelas Dua

Tim sebesar Liverpool menganggap Liga Eropa bak kompetisi khusus pemain pengganti.

http://www.youtube.com/watch?v=gkdiDJPIuTg

Mimpi apa Adam Morgan dan Conor Coady bisa terbang ke Rusia sebagai pemain tim utama Liverpool, dan juga menuai debut dalam pertandingan resmi? Ngidam apa pula Jon Flanagan kembali tampil menjaga lini belakang Liverpool, setelah pada partai pembuka Liga Inggris 2011/2012 dicerca sebagai biang kesalahan gagal menjaga keunggulan Liverpool atas Sunderland? Ada niat apa pula memainkan Joe Cole –yang dianggap mementaskan pertandingan terakhirnya berbaju The Reds di babak 16 besar Capital One Cup melawan Swansea? Permainan buruk Cole saat itu  menuai kritik pedas dari Brendan Rodgers dan kemudian agennya berujar mereka mendapat banyak tawaran bagi Cole dari klub Rusia dan Perancis.

Continue reading “Tim Kelas Dua untuk Turnamen Kelas Dua”

Tertepis Magis Magpies

Pertandingan istimewa Steven Gerrard gagal mengangkat Liverpool menuju 10 besar.

Penghargaan khusus penampilan ke-600 Gerrard. Gagal menang di hari bersejarah. Foto by: Liverpoolfc.com

Steven Gerrard mengingat 5 November sebagai sore yang istimewa. Laga kesepuluh Liverpool di Liga Inggris musim ini sekaligus menjadi peringatan penampilannya ke-600 bersama tim senior Liverpool di semua ajang, sejak penampilan perdananya pada 29 November 1998. Gerrard muda terus berkembang, dari seorang pemain pengganti Vegard Heggem di menit akhir pertandingan, meraih predikat kapten lima tahun kemudian –menggantikan Sami Hyypia- dan sampai sekarang menjadi ikon tak tergantikan di lini tengah The Reds.

Sayang, peristiwa bersejarah dalam hidupnya tak diimbangi dengan oleh-oleh yang didamba 44.803 penonton Anfield: raihan tiga poin. Liverpool hanya mampu mengoleksi satu poin di kandang sendiri, gagal meraih kemenangan ketiga, dan masih dua strip di bawah posisi 10 besar.

Continue reading “Tertepis Magis Magpies”

Reuni Perih Swansea

Pencapaian terbaik musim lalu lepas dari genggaman Liverpool.

http://www.youtube.com/watch?v=IhD1si3S0YQ

Maksud hati coba-coba pemain pelapis dan memberi rehat pemain utama di tengah padatnya jadwal Liga Inggris dan Liga Eropa, Liverpool harus rela kehilangan gelar juara Piala Liga. Perihnya, kalah KO itu diterima di kandang sendiri, 1-3 di Anfield, dari klub yang pernah dibela manajer Liverpool Bredan Rodgers dan gelandang pengumpan terbaik mereka, Joe Allen.

Continue reading “Reuni Perih Swansea”

Two Side Merseyside

Partai derbi Liverpool ke 219 berakhir 2-2. Diwarnai kontroversi anulir gol Luis Suarez di dying time.

http://www.youtube.com/watch?v=frEqBSf7Ouc&noredirect=1

Sungai Mersey membentang 113 kilometer, membentang dari Stockport dan bermuara di Teluk Liverpool. Karena itulah, nama Merseyside menjadi nama county metropolitan yang beranggotakan lima sektor, termasuk Liverpool sebagai kota sektor terbesarnya. Di kota ini terdapat dua kesebelasan besar, Everton Football Club yang berdiri 1878 dan “adik”-nya, Liverpool FC, bentukan pada 1892. Klub kedua terbentuk menyusul konflik antara pengurus Everton dan manajemen pengelola stadion Anfield. Akhirnya, Everton menyingkir dan pindah ke Goodison Park, stadion mereka hingga saat ini. Adapun pengelola Anfield mendirikan klub baru, yang awalnya bernama “Everton F.C. and Athletic Grounds Ltd” –sebelum nama itu ditolak FA dan berubah menjadi Liverpool FC. Jarak antar kedua stadion itu tak sampai 1 kilometer, dipisahkan sebuah kawasan bernama Stanley Park.

Continue reading “Two Side Merseyside”

Beda Kisah di Dua Hari Raya

Liverpool menghentikan magis Gus Hiddink, lewat tendangan jarak jauh pemain “tong sampah”.

Hiddink dan Eto’o mengirim karangan duka ke Liverpool. Tanda Solidaritas.

Begitu undian fase grup Liga Eropa di Monco akhir Agustus lalu menempatkan Liverpool satu grup dengan Anzi Makhachkala, sesungguhnya, yang ditakuti bukan lah sebuah klub baru dengan anggaran dana nyaris tanpa limit. Bukan pula dengan kehadiran Samuel Eto’o yang mencoba menemukan peruntungan baru di musim keduanya bersama klub asal Dagestan, Rusia itu.

Anzhi memang klub kaya baru, tak ubahnya Chelsea di era awal masuknya Jose Mourinho atau Manchester City pasca lengsernya Thaksin dan dibeli Sheikh Mansour bin Zayed. Dimiliki pengusaha tambang emas Suleyman Kerimov, orang terkaya ke-19 di Rusia, Anzhi membuat kejutan saat memboyong pemain-pemain berkarat, macam Roberto Carlos (kini menjadi direktur sepakbola), Eto’o, Yuriy Zhirkov, Chris Samba, dan Lassana Diarra. Tapi, sejujurnya, yang membuat gentar bukanlah nama-nama pemain itu.

Continue reading “Beda Kisah di Dua Hari Raya”

Beratnya Tiga Poin Kedua

Gol pertama Liga Primer Raheem Sterling. Kepercayaan pemain belia. Foto: Liverpoolfc.com

Liverpool meraih kemenangan kedua pada pertandingan kedelapan.

Di mana, sedang apa, dan sudah meraih pencapaian apa Anda pada 1994? Saat itu, saya berusia 17 tahun, dan sedang berada di persimpangan untuk memilih jalan pendidikan tinggi.

Pada 18 tahun silam itulah, Raheem Shaquille Sterling lahir, di Kingston, ibukota Jamaika yang mungkin namanya lebih Anda kenal sebagai merek flashdisk. Pada usia 5 tahun, Raheem kecil berimigrasi ke Inggris, bersama ibunya, dan hidup di kawasan Wembley, London Barat.  Mulai umur 10 tahun, Sterling menyalurkan hobi bola sepaknya di Sekolah Sepak Boa Queen’s Park Rangers, hingga kemahirannya menggocek bola tercium negara leluhurnya, dan terpajang di halaman depan sebuah koran Jamaika.

Continue reading “Beratnya Tiga Poin Kedua”