Si Perak Masuk Bengkel Lagi…

Namanya juga baru rutin nyetir, ketidaksempurnaan adalah keniscayaan.

Petugas Garda Oto memverifikasi kerusakan Si Perak, Pengajuan klaim tak berbelit.

Kali kedua dalam empat bulan ini, Avanza “baru tapi bekas” kami kembali masuk bengkel. Awalnya terjadi pekan lalu, saya kurang kontrol saat memundurkan mobil keluaran 2009 ini menjelang membawanya berangkat kerja Minggu pagi. Eee, belum tuntas keluar pagar rumah, ban mobil itu miring, hingga sisi kiri luar bumper depan tersangkut pagar besi rumah. Mobil perak ini pun terluka, meski masih bisa dipakai jalan-jalan, setidaknya ke Taman Mini, ke kantor, dan ke RS Harapan Kita.

Continue reading “Si Perak Masuk Bengkel Lagi…”

Belajar Nyetir, Seni Pengendalian Diri

Barangsiapa bisa menyetir mobil dengan tenang, ia bisa menguasai dunia. (Jojo Raharjo)

Jangan tegang, Jo. Aspek ketenangan dapat dilihat dari posisi duduk dan tangan pengemudi.

Seorang kawan bercerita, ia melalui seleksi masuk menjadi wartawan di sebuah media dengan tes yang amat unik. Pemimpin koran itu mengajaknya masuk mobil, dan meminta kawan ini memegang setir untuk berputar-putar keliling kota. Sembari tetap konsentrasi mengendalikan mobil, calon wartawan ini diajak ngobrol ngalor-ngidul tentang data dirinya, visi-misi hidup, cita-cita, impian-impiannya di dunia kerja dan lain-lain. “Berat sekali, karena mata harus fokus bawa mobil, sementara telinga dan mulut mesti menjawab pertanyaan dan meladeni omongan dengan benar,” katanya. Syukurlah, ia lulus tes.

Seberapa sulitkah mengendarai mobil? Apa bedanya dengan menyetir motor?

Continue reading “Belajar Nyetir, Seni Pengendalian Diri”

Enam Tahun Mengetuk Pintu Jakarta

Bedakan. Ini foto 6 tahun lalu, demo di landmark kota tercinta: Grahadi Surabaya.

“Jakarta hari ini kuketuk pintu gerbangmu

Ijinkan aku masuk mencari masa depanku…” (OST Biarkan Bintang Menari, 2003)

Pertengahan Juni ini, saya merayakan 6 tahun petualangan merantau di Jakarta. Semua berawal pada 10 Juni 2005 tengah hari, saat pesawat Lions Air yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Di pelabuhan udara nan sesak itu, saya bertemu Agriceli, perempuan yang kemudian hari saya persunting sebagai isteri. Seolah sudah ada yang mengatur, Celi –begitu panggilan wartawati Tempo kala itu, baru saja menunaikan tugas meliput komunitas petani strawberry berbasis iptek di Bali.

Continue reading “Enam Tahun Mengetuk Pintu Jakarta”

Pelajaran kuliah hari ini: Looking glass self

Mau jadi anak kucing atau anak singa? Tergantung pikiranmu mempersepsi pendapat orang.

Ini kisah yang saya dapat dari kegiatan belajar S-2 saya hari ini, Magister Ilmu Komunikasi, tepatnya pada sesi kuliah Perspektif Teori Komunikasi, dibawakan doktor komunikasi, Emrus Sihombing.

Pernah mendengar tentang teori looking glass self? Sederhananya, konsep yang diperkenalkan oleh sosiolog Amerika Charles Horton Cooley pada 1902 ini menekankan bahwa keberadaan seseorang berkembang berdasarkan interaksi dan persepsi orang lain. Kita bertumbuh menurut apa yang orang lain –khususnya orang-orang terdekat, orang-orang kepercayaan kita seperti suami/isteri, orangtua, boss- persepsikan mengenai diri kita.

Continue reading “Pelajaran kuliah hari ini: Looking glass self”

Keterbatasan tak boleh membuat kita menyerah

Handry Satriago saat berbicara dalam penghargaan esai ‘Menjadi Indonesia’ (foto koleksi Mardiyah Chamim).

Indonesia punya tokoh yang tepat untuk dijadikan inspirasi, bahwa keterbatasan tak boleh membuat seorang manusia menyerah. Nama tokoh itu: Handry Satriago, orang nomor satu di jajaran GE Indonesia. Sejak usia 18 tahun sampai saat ini berumur 41 tahun, Handry tak bisa lepas dari kursi rodanya, namun bukan berarti ia meratap dan mengibarkan bendera putih.

Continue reading “Keterbatasan tak boleh membuat kita menyerah”